UMKM Olah Sampah Plastik dan Keramik Tembus Pasar Global

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 27 Mei 2026 21:07 WIB 3
UMKM Olah Sampah Plastik dan Keramik Tembus Pasar Global

Bagi sebagian orang, sampah identik dengan masalah dan barang yang tidak bernilai. Namun di tangan pelaku UMKM kreatif, limbah justru dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi dan diminati pasar luar negeri.

Hal itu terlihat dari langkah Robries dan Lumosh, dua pelaku usaha yang mengembangkan produk berbahan dasar limbah plastik dan keramik. Dengan dukungan Indonesia Design Development Center, keduanya berupaya memperluas pasar, memperbaiki desain, dan menjaga kualitas produk agar siap bersaing di level global.

Daur Ulang Jadi Nilai

Robries yang didirikan pada 2018 fokus mengubah sampah tutup botol plastik menjadi furniture dengan tampilan menarik. CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, mengatakan langkah itu diambil sebagai upaya menjaga lingkungan.

Menurut Syukriyatun, produk berbahan dasar limbah masih tergolong unik di mata masyarakat. Kondisi itu membuat edukasi pasar menjadi kebutuhan penting sebelum produk diterima lebih luas.

Ia menjelaskan, tantangan utama bukan hanya soal persepsi konsumen, tetapi juga memastikan bahan baku tersedia secara konsisten. Pasokan sampah tutup botol plastik yang tidak stabil membuat proses produksi harus dijaga dengan cermat.

Meski begitu, Robries tetap berusaha mencari pasokan yang sesuai agar kualitas produk tidak menurun. Hingga kini, perusahaan itu telah memproduksi sekitar 25 ribu produk dan mengolah 145 ton sampah plastik.

Pasar Global Menanti

Keberhasilan Robries tidak hanya berhenti di pasar domestik, tetapi juga merambah pasar luar negeri. Produk mereka telah dipasarkan ke Singapura, Malaysia, hingga Uni Eropa melalui distributor resmi.

Syukriyatun menilai peluang ekspor terbuka karena ada permintaan terhadap produk yang memiliki nilai cerita dan keberlanjutan. Menurutnya, keunikan desain dan isu lingkungan menjadi kombinasi yang menarik bagi pembeli global.

Ia juga menyebut kehadiran pasar internasional menuntut standar yang lebih tinggi pada kualitas dan konsistensi. Karena itu, proses kurasi produk menjadi bagian penting sebelum masuk ke kanal distribusi luar negeri.

Robries menargetkan perluasan jaringan pasar tanpa mengabaikan prinsip ramah lingkungan. Strategi tersebut menjadi kunci agar produk daur ulang tidak hanya dipandang kreatif, tetapi juga layak jual secara komersial.

Dukungan IDDC Kemendag

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan melalui Indonesia Design Development Center terus mendorong UMKM masuk ke pasar global. Fasilitas itu juga diberikan kepada pelaku usaha yang lolos kurasi untuk mengikuti Trade Expo Indonesia 2025.

TEI 2025 menjadi ajang internasional yang dihadiri 8.045 buyer dari 130 negara. Pameran ini membuka ruang pertemuan langsung antara pelaku usaha lokal dan calon pembeli dari mancanegara.

Syukriyatun mengakui pendampingan IDDC sangat membantu Robries dalam memperkuat presentasi produk. Bimbingan tersebut membuat timnya memahami cara mengemas produk agar lebih menarik bagi pembeli, termasuk dari luar negeri.

Ia menyebut arahan IDDC berpengaruh besar terhadap pencapaian terbaru Robries di ajang desain internasional. Setelah empat tahun mengajukan Good Design Award, mereka akhirnya meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan.

Limbah Keramik Bernilai

Pengalaman serupa juga dirasakan Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, yang mengolah limbah keramik menjadi produk bernilai estetis. Dari bahan yang kerap dianggap tidak berguna, Lumosh menghadirkan piring, gelas, dan perabot rumah tangga lain dengan desain artistik.

Raymond mengatakan tantangan terbesar terletak pada minimnya referensi mengenai daur ulang keramik. Karena bidang itu masih jarang digarap, timnya harus mencari pengetahuan dan rujukan dari berbagai sumber.

Dalam proses tersebut, IDDC ikut membantu dengan riset dan arahan desain agar produk terlihat representatif. Pendampingan itu penting supaya konsumen dapat langsung memahami bahwa barang tersebut merupakan hasil daur ulang.

Selain desain, IDDC juga menjadi ruang konsultasi bagi Lumosh untuk membaca peluang pasar global. Raymond menilai masukan dari pendamping sangat membantu menentukan negara mana yang paling potensial untuk dimasuki produk UMKM mereka.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!