Real Food Dianggap Lebih Sehat Dibanding Makanan Olahan

Lifestyle Nadia Safira Putri 24 Mei 2026 18:51 WIB 9
Real Food Dianggap Lebih Sehat Dibanding Makanan Olahan

Sarden kalengan kembali menjadi perbincangan karena ada anggapan bahwa produk tersebut bukan ultra processed food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan menegaskan bahwa real food tetap menjadi pilihan paling sehat dibanding makanan olahan. Pandangan ini disampaikan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis, 21 Mei 2026.

Menurut dr Aru, makanan olahan umumnya dibuat dengan campuran atau tambahan bahan yang tidak selalu dapat dipastikan keamanannya secara utuh. Meski ada regulasi, risiko penyimpangan tetap mungkin terjadi dan dapat berdampak pada kesehatan. Karena itu, ia menilai kebiasaan konsumsi masyarakat perlu lebih berhati-hati, terutama ketika pilihan makan semakin didominasi produk praktis.

Real Food dan Kesehatan

Dr Aru menegaskan bahwa makanan yang paling sehat tetaplah real food, yakni bahan pangan yang diolah seminimal mungkin. Menurut dia, semakin sedikit proses industri yang dilewati makanan, semakin kecil pula ketidakpastian yang menyertainya. Pandangan ini menjadi penting di tengah maraknya konsumsi makanan kemasan di masyarakat.

Ia menjelaskan, makanan olahan biasanya memerlukan tambahan bahan tertentu agar lebih awet, lebih menarik, atau lebih mudah dikonsumsi. Di sisi lain, konsumen tidak selalu mengetahui secara detail seluruh proses pembuatannya. Kondisi itu membuat real food dinilai lebih aman sebagai pilihan utama.

Dalam pandangan dr Aru, masalah bukan semata pada satu produk, melainkan pada pola makan yang terlalu bergantung pada makanan olahan. Bila kebiasaan ini berlangsung lama, risiko gangguan kesehatan bisa ikut meningkat. Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk lebih sering memilih bahan pangan segar saat memungkinkan.

Ia juga mengingatkan bahwa kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh label atau popularitas produk. Yang lebih penting adalah sejauh mana bahan itu mendekati bentuk alaminya. Semakin alami suatu makanan, semakin besar peluangnya menjadi pilihan yang lebih baik bagi tubuh.

Risiko Makanan Olahan

Menurut dr Aru, penggunaan bahan tambahan dalam makanan olahan memang diatur oleh regulasi. Akan tetapi, pengawasan di lapangan tidak selalu dapat menjamin tidak adanya penyimpangan. Situasi ini membuat konsumen tetap perlu cermat dalam memilih makanan sehari-hari.

Ia menilai, paparan makanan olahan yang tinggi dapat berkaitan dengan meningkatnya berbagai gangguan metabolik. Dalam penjelasannya, kondisi seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan kesehatan lain kini semakin sering ditemukan pada usia yang lebih muda. Fenomena tersebut, kata dia, patut menjadi perhatian bersama.

Dr Aru menyebut, saat ini tidak jarang orang berusia 30-an sudah mengalami masalah metabolik. Kasus hipertensi dan diabetes pada kelompok usia muda juga terus bertambah. Hal itu memperlihatkan bahwa perubahan pola makan memiliki dampak yang nyata terhadap kesehatan masyarakat.

Ia menekankan bahwa makanan olahan bukan berarti harus selalu dihindari sepenuhnya. Namun, konsumsinya sebaiknya dibatasi dan tidak menjadi sumber utama asupan harian. Dengan begitu, tubuh tetap mendapatkan keseimbangan nutrisi dari sumber pangan yang lebih alami.

Gaya Hidup Modern

Meski real food dianggap paling sehat, dr Aru mengakui penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu mudah. Kesibukan kerja, mobilitas tinggi, dan terbatasnya waktu membuat banyak orang kesulitan belanja serta memasak sendiri. Akibatnya, makanan praktis sering menjadi pilihan yang paling mungkin.

Ia memahami bahwa masyarakat modern kerap berada dalam situasi serba cepat. Dalam kondisi itu, makanan olahan menjadi solusi yang terasa efisien dan mudah dijangkau. Namun, kemudahan tersebut tetap perlu diimbangi dengan kesadaran akan dampaknya bagi kesehatan.

Karena itu, dr Aru menilai penting bagi masyarakat untuk mencari titik tengah yang realistis. Tidak semua orang bisa sepenuhnya bergantung pada bahan segar setiap hari. Kendati demikian, upaya memperbanyak konsumsi makanan alami tetap perlu dilakukan sebisa mungkin.

Menurutnya, kebiasaan kecil seperti memilih bahan pangan segar saat ada waktu luang dapat membantu memperbaiki pola makan. Langkah sederhana itu bisa menjadi awal untuk mengurangi ketergantungan pada makanan ultra proses. Pada akhirnya, keputusan sehari-hari akan menentukan kualitas kesehatan dalam jangka panjang.

Langkah Bijak Konsumsi

Untuk menjaga kesehatan, masyarakat disarankan lebih selektif membaca komposisi pada produk kemasan. Informasi pada label dapat membantu mengenali kadar gula, garam, lemak, serta bahan tambahan lain. Dengan begitu, pilihan makanan bisa dibuat lebih sadar dan terukur.

Dr Aru menilai, edukasi mengenai pola makan sehat perlu terus diperkuat. Banyak orang masih menganggap semua makanan praktis aman dikonsumsi tanpa batas. Padahal, frekuensi dan jumlah konsumsi sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh.

Ia juga mendorong masyarakat untuk menjadikan real food sebagai dasar pola makan harian. Makanan seperti sayur, buah, protein segar, dan bahan pangan minim proses dapat menjadi prioritas utama. Pilihan ini dinilai lebih mendukung kesehatan dibanding produk olahan yang terlalu sering dikonsumsi.

Pada akhirnya, pesan utama yang disampaikan sederhana, yakni semakin alami makanan yang dipilih, semakin baik pula dampaknya bagi tubuh. Makanan olahan masih bisa menjadi bagian dari pola konsumsi, tetapi bukan sumber utama. Dengan keseimbangan yang tepat, risiko kesehatan dapat ditekan dan kebiasaan makan yang lebih baik bisa dibangun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!