Raline Shah Tampil Elegan dengan Gaun Sapto di Cannes 2026

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 04:42 WIB 2
Raline Shah Tampil Elegan dengan Gaun Sapto di Cannes 2026

Raline Shah kembali menjadi sorotan saat melangkah di karpet merah Cannes Film Festival 2026 di Cannes, Prancis. Pada penampilan terbarunya, ia mengenakan gaun rancangan khusus Sapto Djojokartiko yang langsung mencuri perhatian publik. Busana tersebut menegaskan konsistensi Raline dalam membawa karya desainer Indonesia ke panggung internasional.

Gaun yang dipakai Raline hadir dengan siluet klasik bernuansa glamor, namun tetap terasa modern dan relevan. Sapto Djojokartiko menyebut rancangan itu dibuat untuk premiere The Beloved, dengan sentuhan heritage Indonesia yang halus. Detail bordir dan warna Oyster membuat penampilan tersebut tampil elegan tanpa berlebihan.

Gaun Raline Shah di Cannes

Sapto Djojokartiko menjelaskan bahwa inspirasi utama gaun ini berangkat dari keinginan menghadirkan siluet klasik yang tetap modern. Ia ingin menciptakan tampilan yang timeless, tetapi tetap memiliki karakter personal yang kuat. Karena itu, unsur kemewahan visual dipadukan dengan identitas khas rumah mode Sapto Djojokartiko.

Gaun tersebut dibuat sebagai ballgown dengan bordir motif Yayi Ukir yang memenuhi seluruh permukaan kain. Menurut Sapto, motif itu tidak hanya memperkuat kemewahan, tetapi juga menampilkan craftsmanship yang menjadi ciri utama rancangannya. Hasilnya, busana itu tampak anggun sekaligus memiliki nilai artistik yang tinggi.

Penampilan Raline kali ini kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu publik figur Indonesia yang konsisten membawa karya lokal ke ajang dunia. Setiap detail pada gaun dibuat untuk mendukung kesan glamor yang tenang dan berkelas. Kehadiran Raline di Cannes pun kembali menjadi momen penting bagi mode Indonesia.

Jika pada Cannes 2024 ia tampil dengan terusan bersiluet kebaya, maka pada 2026 ia memilih gaun yang lebih dramatis. Meski berbeda bentuk, keduanya sama-sama memperlihatkan pendekatan desain yang kuat dan berakar pada identitas budaya. Keputusan itu menunjukkan kesinambungan antara gaya personal Raline dan visi kreatif Sapto.

Detail Motif dan Perhiasan

Motif Yayi Ukir terinspirasi dari perpaduan elemen ukiran dan tekstur tenun tradisional. Sapto kemudian mengolahnya bersama motif khas Penara sehingga tercipta pola baru yang lebih kaya detail. Meski kompleks, motif tersebut tetap terlihat halus dan elegan saat dikenakan.

Perpaduan motif gaun dengan perhiasan Chopard yang dipakai Raline juga menjadi perhatian. Sapto menilai kombinasi itu menghasilkan nuansa art-deco yang membuat tampilan terlihat lebih dimensional. Keserasian tersebut memberi kesan mewah yang terukur dan tidak saling menutupi.

Dalam pencahayaan karpet merah, detail bordir dan tekstur gaun terlihat semakin hidup. Warna Oyster yang dipilih juga membantu menonjolkan karakter motif tanpa kehilangan kelembutan. Hasil akhirnya adalah penampilan yang matang secara visual dan mudah dikenali.

Sentuhan detail seperti ini memperlihatkan bahwa busana red carpet tidak hanya soal bentuk, tetapi juga narasi. Sapto menyusun elemen-elemen desain agar saling mendukung dan membangun kesan utuh. Dengan begitu, gaun Raline tidak sekadar indah, tetapi juga memiliki identitas yang kuat.

Proses Pengerjaan Ratusan Jam

Pembuatan gaun ini memakan waktu sekitar 800 jam. Angka tersebut menunjukkan tingkat ketelitian tinggi yang dibutuhkan untuk menghasilkan tampilan sekelas karpet merah Cannes. Setiap tahap dikerjakan secara hati-hati agar hasil akhir terlihat mulus.

Prosesnya mencakup konstruksi, bordir, hingga finishing yang detail. Sapto menekankan bahwa perhatian pada tiap tahap penting agar siluet gaun tampak effortless saat dikenakan. Pendekatan ini juga membantu busana menyatu dengan gerak tubuh Raline secara natural.

Jika dibandingkan dengan kebaya Sapto yang dipakai di Cannes 2024 dan dikerjakan selama 1.200 jam, gaun tahun ini memiliki proses yang berbeda. Meski durasinya lebih singkat, tingkat kesulitannya tetap tinggi karena mengandalkan struktur ballgown. Perbedaan waktu itu lebih mencerminkan karakter rancangan daripada berkurangnya ketelitian.

Raline kembali menjadi wajah dari kerja panjang di balik sebuah busana mewah. Publik melihat hasil akhir yang anggun, namun di baliknya ada ratusan jam pengerjaan yang detail. Hal inilah yang membuat karya mode di karpet merah memiliki nilai lebih dari sekadar penampilan.

Warna Oyster Jadi Andalan

Warna Oyster sudah lama menjadi salah satu palet andalan Sapto Djojokartiko. Menurutnya, warna ini memiliki karakter timeless, understated, dan elegan. Karena itu, warna tersebut sering dipilih untuk menampilkan kemewahan yang tidak mencolok.

Raline juga secara personal menginginkan warna Oyster untuk penampilannya di Cannes kali ini. Ia menilai palet itu merepresentasikan sisi klasik dan anggun dari dirinya. Pilihan tersebut membuat penampilannya terasa konsisten dari tahun ke tahun.

Sapto menyebut warna ini mampu tampil menonjol tanpa terlihat berlebihan. Dalam pencahayaan red carpet, Oyster memberi ruang bagi bordir dan tekstur untuk tampil lebih hidup. Efeknya, keseluruhan busana terlihat seimbang dan sangat fotogenik.

Konsistensi pemilihan warna juga memperkuat citra mode yang dibangun Raline bersama Sapto. Keduanya tampak memahami bahwa sebuah tampilan red carpet perlu memiliki benang merah yang jelas. Dari motif, struktur, hingga warna, semuanya disusun untuk menghasilkan kesan yang elegan dan berkesan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!