Purbaya Terbitkan Global Bond US$ 2 Miliar untuk Stabilkan Rupiah

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 08:32 WIB 7
Purbaya Terbitkan Global Bond US$ 2 Miliar untuk Stabilkan Rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menerbitkan global bond atau surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat dengan target US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar. Kebijakan ini ditempuh untuk menambah pasokan dolar di dalam negeri sekaligus meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Langkah tersebut diumumkan di tengah gejolak pasar keuangan yang masih dipengaruhi sentimen eksternal.

Purbaya menyampaikan pemerintah sudah mulai turun tangan ke pasar obligasi sejak pekan lalu untuk menjaga stabilitas. Menurut dia, masuknya dana sekitar Rp1,3 triliun ke pasar obligasi menunjukkan minat investor masih terjaga meski rupiah sedang tertekan. Kondisi itu ikut mendorong imbal hasil obligasi di pasar sekunder menurun.

Global Bond Untuk Rupiah

Purbaya menjelaskan penerbitan global bond menjadi salah satu cara untuk menambah suplai dolar di pasar domestik. Dengan pasokan yang lebih longgar, pemerintah berharap tekanan terhadap rupiah bisa berkurang secara bertahap. Ia menilai langkah itu penting saat pasar menghadapi volatilitas yang tinggi.

Dalam konferensi pers APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, Purbaya menegaskan target penerbitan berada pada kisaran US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar. Dana tersebut diharapkan memperkuat ruang gerak pemerintah dalam menjaga kestabilan pasar keuangan. Ia menyebut kebijakan ini sebagai inisiatif untuk menjinakkan keperkasaan dolar AS.

Selain menambah suplai valas, penerbitan surat utang itu juga diharapkan memberi sinyal positif bagi pelaku pasar. Pemerintah ingin menunjukkan bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas utama. Menurut Purbaya, intervensi yang dilakukan sejak pekan lalu mulai memberi hasil yang terlihat.

Arus Dana Masuk Menguat

Purbaya mengatakan selama rupiah melemah, ada aliran dana yang masuk ke pasar obligasi sekitar Rp1,3 triliun. Arus dana tersebut tercatat pada Jumat, Senin, hingga Selasa saat konferensi pers berlangsung. Pemerintah menilai pergerakan itu sebagai tanda bahwa investor masih melihat peluang di instrumen obligasi domestik.

Ia menambahkan, masuknya dana itu membantu menurunkan yield obligasi di pasar sekunder. Penurunan imbal hasil biasanya mencerminkan permintaan yang lebih kuat terhadap surat utang pemerintah. Dalam pandangannya, kondisi tersebut juga memperlihatkan membaiknya kepercayaan investor asing.

Purbaya mengatakan pemerintah terus memantau setiap dana yang masuk ke pasar. Pemantauan dilakukan untuk memastikan stabilitas tetap terjaga di tengah perubahan sentimen global. Ia menyebut tidak semua investor asing kembali, namun arus yang masuk sudah cukup memberi dorongan positif.

Tekanan Eksternal Masih Dominan

Menurut Purbaya, pelemahan rupiah tidak lepas dari faktor eksternal yang masih kuat, terutama situasi geopolitik global. Tekanan tersebut menimbulkan sentimen negatif terhadap mata uang domestik. Pemerintah menilai kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada aktivitas ekonomi nasional.

Ia menegaskan gejolak luar negeri berpotensi memengaruhi sektor riil apabila tidak diantisipasi sejak awal. Karena itu, stabilitas pasar obligasi dan pasokan dolar menjadi perhatian utama pemerintah. Kebijakan yang diambil diharapkan dapat meredam efek lanjutan dari ketidakpastian global.

Purbaya juga menilai tekanan eksternal masih akan menjadi tantangan ke depan. Ia meminta pelaku pasar tetap mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan global. Menurut dia, kewaspadaan perlu dijaga agar aktivitas ekonomi domestik tidak terganggu lebih jauh.

Imbauan Purbaya Kepada Pemegang Dolar

Di tengah optimisme penguatan rupiah, Purbaya meminta pemegang dolar untuk mempertimbangkan menjual aset valasnya lebih cepat. Ia berpendapat langkah tersebut dapat menghindarkan potensi kerugian jika rupiah kembali menguat. Imbauan itu disampaikan dengan nada tegas dalam kesempatan yang sama.

Menurut dia, pasar keuangan saat ini sedang bergerak dinamis sehingga keputusan menahan dolar terlalu lama bisa kurang menguntungkan. Pemerintah, kata Purbaya, berupaya menciptakan kondisi yang lebih stabil agar kepercayaan terhadap rupiah pulih. Dengan begitu, pelaku pasar dapat mengambil keputusan berdasarkan prospek yang lebih jelas.

Purbaya menutup penjelasannya dengan optimisme bahwa rupiah akan segera membaik. Ia menilai kombinasi intervensi pasar, arus dana masuk, dan pasokan dolar tambahan dapat memperkuat sentimen positif. Pemerintah pun akan terus menjaga stabilitas agar tekanan terhadap ekonomi domestik tidak berlanjut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!