Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan nilai tukar rupiah kembali menguat ke level Rp15.000 per dolar Amerika Serikat. Saat ini, rupiah masih berada di atas Rp17.600 per dolar AS, sehingga pemerintah menyiapkan langkah baru untuk mendorong penguatan mata uang Garuda.
Purbaya menyampaikan kebijakan tersebut akan mulai dijalankan pada pekan depan. Menurut dia, penguatan devisa hasil ekspor dan stabilitas pasar keuangan menjadi kunci agar tekanan terhadap rupiah dapat berkurang.
Rupiah Jadi Fokus Pemerintah
Purbaya menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan baru terkait nilai tukar rupiah. Ia menyebut langkah itu diperlukan agar mata uang domestik kembali bergerak ke arah yang lebih kuat.
Dalam keterangannya di Istana Negara, Jakarta Pusat, Purbaya tidak menjelaskan detail kebijakan yang akan diambil. Meski begitu, ia menilai arah kebijakan tersebut akan membantu menjaga aliran devisa tetap berada di dalam negeri.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika pasar global. Dengan kondisi yang lebih terkendali, pemerintah berharap kepercayaan pelaku pasar dapat meningkat.
DHE Diperkuat Lewat Aturan Baru
Salah satu instrumen yang akan digunakan pemerintah adalah penempatan devisa hasil ekspor atau DHE. Aturan baru itu akan mulai berlaku pada Juni 2026.
Pemerintah mewajibkan devisa hasil ekspor disimpan di himpunan bank milik negara atau Himbara. Kebijakan ini ditujukan agar dana dari ekspor tidak langsung keluar dari sistem keuangan domestik.
Purbaya menilai kebijakan tersebut akan memberi dukungan tambahan bagi stabilitas rupiah. Ia menyebut ekspor batu bara dan CPO diharapkan bisa berkontribusi lebih besar terhadap likuiditas dalam negeri.
Pasar Obligasi Dijaga
Selain DHE, Kementerian Keuangan juga telah mendorong stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar obligasi. Langkah itu ditempuh agar imbal hasil atau yield obligasi tidak melonjak terlalu tinggi.
Menurut Purbaya, yield yang lebih terkendali dapat membantu menahan keluarnya modal asing. Kondisi tersebut juga membuat investor luar negeri lebih nyaman untuk tetap masuk ke pasar Indonesia.
Ia menambahkan, stabilitas harga obligasi menjadi salah satu indikator penting bagi kepercayaan pasar. Karena itu, pemerintah akan menjaga keseimbangan pasar ke depan agar tekanan terhadap rupiah tidak kembali membesar.
Prospek Rupiah Ke Depan
Target penguatan rupiah ke level Rp15.000 menunjukkan optimisme pemerintah terhadap arah kebijakan ekonomi. Namun, pencapaian target itu tetap bergantung pada efektivitas langkah yang ditempuh serta respons pasar.
Arus devisa dari ekspor, stabilitas obligasi, dan minat investor asing akan menjadi faktor penentu utama. Jika ketiganya terjaga, peluang rupiah bergerak lebih kuat akan semakin terbuka.
Pemerintah kini menunggu implementasi kebijakan baru yang dijadwalkan mulai berjalan pada pekan depan dan bulan Juni 2026. Pasar akan mencermati apakah rangkaian kebijakan tersebut mampu menurunkan tekanan terhadap rupiah secara berkelanjutan.
