Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pemerintah mengumumkan pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus ekspor pada Rabu, 20 Mei 2026. Menurut dia, pasar masih bereaksi hati-hati karena belum memahami dampak kebijakan baru tersebut terhadap emiten dan aliran transaksi komoditas.
Purbaya menjelaskan, ketidakpastian kerap membuat investor memilih menjual terlebih dahulu sebelum menilai manfaat kebijakan secara utuh. Ia menyampaikan pandangan itu saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Kamis, 21 Mei 2026.
Respons Purbaya
Purbaya menilai penurunan IHSG bukan disebabkan oleh buruknya kebijakan, melainkan oleh respons pasar yang belum memperoleh gambaran lengkap. Ia menyebut investor cenderung defensif ketika menghadapi aturan baru yang belum jelas implikasinya.
Dalam pandangannya, pasar biasanya memilih menunggu kepastian sebelum kembali masuk. Kondisi itu membuat tekanan jual muncul lebih dulu, meski arah kebijakan belum sepenuhnya terbaca.
Ia menegaskan bahwa reaksi semacam itu bersifat wajar dalam pasar modal. Saat ketidakpastian menurun, minat beli berpeluang kembali menguat dan mendorong pergerakan indeks ke arah lebih positif.
Fungsi BUMN Ekspor
Pembentukan BUMN khusus ekspor ditujukan untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Pemerintah juga ingin menutup celah praktik under invoicing yang selama ini berpotensi merugikan penerimaan negara.
Purbaya menjelaskan, dengan mekanisme penjualan yang lebih terpantau, nilai transaksi dapat tercatat lebih mendekati kondisi sebenarnya. Hal itu diyakini membuat arus pendapatan perusahaan menjadi lebih transparan dan sulit dimanipulasi.
Menurut dia, skema baru tersebut justru dapat menciptakan keuntungan ganda bagi perusahaan yang tercatat di bursa. Di satu sisi, pendapatan menjadi lebih jelas, sementara di sisi lain valuasi emiten berpeluang meningkat karena kinerja yang terefleksi lebih baik.
Dampak Ke Emiten
Purbaya optimistis pasar akan menyesuaikan penilaian setelah memahami manfaat kebijakan itu secara lebih utuh. Ia menilai investor pada akhirnya akan melihat bahwa penguatan tata kelola bisa mendukung profitabilitas perusahaan ekspor.
Ia juga menyebut emiten yang selama ini bergerak di sektor komoditas berpotensi memperoleh manfaat dari pencatatan penjualan yang lebih akurat. Dengan begitu, laporan keuangan dapat mencerminkan pendapatan yang lebih nyata dan menambah kepercayaan pasar.
Ketika persepsi pasar membaik, tekanan jual yang muncul karena ketidakpastian dapat mereda. Dalam skenario itu, IHSG dinilai berpeluang pulih secara alami tanpa perlu dorongan yang berlebihan.
Arah Kebijakan Baru
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa seluruh ekspor sumber daya alam akan dikelola melalui satu pintu. Pemerintah menunjuk BUMN tertentu sebagai pengekspor tunggal untuk komoditas strategis.
Komoditas yang disebut dalam kebijakan tersebut antara lain kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi ferro alloy. Pemerintah menilai langkah itu diperlukan agar penjualan hasil SDA lebih tertib dan terkoordinasi.
Prabowo menegaskan bahwa penjualan komoditas utama Indonesia harus dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah. Kebijakan tersebut diharapkan memperkuat kontrol negara atas ekspor sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi nasional.
