Purbaya: Rupiah Rp17.700 Tak Ganggu APBN

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 22 Mei 2026 19:12 WIB 6
Purbaya: Rupiah Rp17.700 Tak Ganggu APBN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.700 per dolar Amerika Serikat belum mengganggu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ia menyebut pemerintah sudah mengantisipasi berbagai skenario kurs dalam penyusunan APBN sehingga dampaknya terhadap defisit tetap terkendali.

Dalam asumsi APBN 2026, nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp16.500 per dolar AS. Purbaya mengatakan pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam batas perhitungan pemerintah, sementara tekanan yang lebih besar justru datang dari harga minyak dunia.

Rupiah Masih Dalam Hitungan

Purbaya menilai fluktuasi rupiah belum menjadi sumber risiko utama bagi APBN. Menurut dia, pemerintah sudah menyiapkan simulasi untuk berbagai kemungkinan pergerakan nilai tukar.

Ia menegaskan pelemahan rupiah tidak otomatis menambah defisit anggaran secara signifikan. Dampaknya, kata dia, jauh lebih kecil dibandingkan kenaikan harga minyak dunia.

Saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa 19 Mei 2026, Purbaya menegaskan seluruh asumsi fiskal telah dihitung. Ia menyebut pemerintah tidak bekerja dengan perkiraan tunggal, melainkan dengan beberapa skenario yang disesuaikan kondisi pasar.

Minyak Dunia Lebih Berpengaruh

Purbaya mencontohkan, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$1 dapat menambah defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun. Menurut dia, angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan dari sisi energi lebih besar dibandingkan pelemahan rupiah.

Ia juga menyebut dampak kurs terhadap APBN relatif kecil, meski tidak merinci angka pasti. Karena itu, pemerintah menilai risiko pelemahan rupiah masih bisa dikelola dalam kerangka fiskal yang ada.

Dalam penjelasannya, Purbaya menyebut dirinya sempat lupa menyebut besaran hitungan untuk rupiah. Namun ia menegaskan bahwa hasil perhitungan pemerintah menunjukkan pengaruhnya tidak sebesar faktor minyak dunia.

Defisit APBN Membaik

Selain soal kurs, Purbaya menyoroti kinerja defisit APBN yang dinilai membaik hingga akhir April 2026. Defisit tercatat Rp164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto.

Angka itu lebih baik dibandingkan posisi Maret 2026 yang masih berada di level Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Perbaikan tersebut turut didorong oleh surplus keseimbangan primer sebesar Rp28 triliun.

Purbaya mengatakan tren tersebut menunjukkan kondisi fiskal masih aman dan bergerak ke arah yang lebih baik. Ia optimistis, apabila konsistensi penerimaan dan belanja terjaga, defisit APBN masih berpeluang terus membaik.

Prospek Fiskal Tetap Terjaga

Pemerintah menilai ruang fiskal tetap cukup kuat untuk menghadapi gejolak eksternal. Dengan simulasi yang sudah disiapkan, APBN disebut masih mampu menahan tekanan dari pergerakan kurs dan harga komoditas.

Purbaya menekankan pentingnya melihat defisit secara proporsional berdasarkan data dan asumsi resmi. Ia menilai perkiraan yang terlalu menyederhanakan perhitungan justru dapat menyesatkan pembacaan terhadap kondisi fiskal.

Di sisi lain, surplus keseimbangan primer menjadi sinyal positif bagi pengelolaan anggaran. Pemerintah berharap tren perbaikan ini berlanjut seiring stabilitas makroekonomi yang dijaga secara hati-hati.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!