Dr Gia Pratama Ungkap Perjuangan Turunkan Berat Badan

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 09:11 WIB 3
Dr Gia Pratama Ungkap Perjuangan Turunkan Berat Badan

Influencer kesehatan dr Gia Pratama mengaku pernah memiliki bobot tubuh hingga 100 kilogram dan tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada pada fase obesitas. Kondisi itu membuatnya berisiko tinggi terhadap penyakit tidak menular, termasuk gangguan jantung, sebelum akhirnya ia memutuskan menurunkan berat badan.

Tekad tersebut muncul setelah ia menangani pasien serangan jantung di instalasi gawat darurat, yang usianya disebut sama dengan dirinya. Dari pengalaman itu, dr Gia menilai perubahan gaya hidup tidak bisa ditunda lagi, karena risiko kesehatan dapat datang kapan saja.

Pengalaman Di IGD

dr Gia menceritakan bahwa momen yang mengubah pandangannya terjadi saat ia menerima pasien serangan jantung di IGD. Pasien itu disebut memiliki usia dan tanggal ulang tahun yang sama dengannya, sehingga pengalaman tersebut terasa sangat personal.

Ia berhasil menyelamatkan pasien dengan bantuan alat pacu jantung, namun peristiwa itu justru memunculkan pertanyaan besar dalam dirinya. Dalam hati, ia bertanya apakah dirinya akan mengalami nasib serupa jika tidak segera memperbaiki kondisi tubuh.

Menurut dr Gia, pengalaman langsung menghadapi kasus gawat darurat membuatnya semakin sadar bahwa obesitas bukan sekadar soal penampilan. Risiko penyakit serius dapat muncul tanpa peringatan, terutama jika kebiasaan hidup tidak segera diubah.

Komitmen Menjalani Diet

Setelah kejadian itu, dr Gia memutuskan untuk berkomitmen menjalani diet selama enam bulan. Ia memilih menetapkan target waktu yang jelas agar proses penurunan berat badan berjalan lebih terarah.

Keputusan tersebut diambil karena ia menyadari bahwa tubuhnya membutuhkan perubahan nyata, bukan sekadar niat sesaat. Bagi dia, disiplin menjadi faktor utama dalam membangun kebiasaan makan yang lebih sehat.

Ia menegaskan bahwa proses menurunkan berat badan tidak bisa dicapai secara instan. Hasil yang ideal, menurut dia, hanya dapat diperoleh melalui konsistensi dan kesabaran.

Pola Makan Tidak Terkontrol

dr Gia menjelaskan bahwa salah satu pemicu obesitas adalah ketidaksadaran saat makan. Kebiasaan kecil yang dianggap sepele, bila berulang, dapat membuat asupan kalori meningkat tanpa disadari.

Ia mencontohkan perilaku mengambil makanan ringan secara spontan, seperti gorengan, yang kemudian sulit dihentikan. Dalam satu kesempatan, ia mengaku bisa menghabiskan banyak gorengan tanpa benar-benar memperhatikan jumlahnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut kerap menjadi jebakan bagi banyak orang yang merasa masih makan dalam batas wajar. Padahal, akumulasi konsumsi harian dapat berdampak besar terhadap kenaikan berat badan.

Fokus Pada Kalori

Dalam menjalani diet, dr Gia tidak memilih pola makan tertentu yang bersifat ekstrem. Ia lebih fokus pada pengurangan asupan kalori yang sebelumnya berlebihan.

Pendekatan itu ia lakukan secara konsisten agar tubuh dapat beradaptasi dengan perubahan secara bertahap. Menurutnya, kunci keberhasilan bukan pada metode yang cepat, melainkan pada kebiasaan yang bisa dipertahankan.

Ia juga menilai edukasi mengenai kesehatan perlu dibarengi dengan kesadaran pribadi untuk menjaga tubuh. Dengan begitu, risiko penyakit tidak menular dapat ditekan sejak dini melalui langkah sederhana yang dilakukan terus-menerus.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!