Rosan Respons IHSG Anjlok, Sentimen Global Disorot

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 26 Mei 2026 10:13 WIB 2
Rosan Respons IHSG Anjlok, Sentimen Global Disorot

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut akan mengelola ekspor komoditas strategis, mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, hingga fero alloy. Menurut Rosan, tekanan di pasar saham tidak semata-mata dipengaruhi satu kebijakan, melainkan juga datang dari faktor teknikal dan sentimen global.

IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei. Saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam, indeks bahkan sempat turun lebih dari 2 persen. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, IHSG ditutup di level 6.094 atau terkoreksi 233 poin, setara 3,54 persen.

IHSG dan Tekanan Pasar

Rosan menyebut pelemahan IHSG perlu dibaca secara statistik dan tidak hanya dari satu peristiwa. Ia menilai pasar sedang merespons berbagai faktor yang datang bersamaan. Salah satunya adalah tekanan teknikal yang membuat pergerakan indeks semakin volatil.

Selain faktor teknikal, Rosan juga menyoroti pengaruh persepsi pelaku pasar. Menurut dia, sentimen global turut memperbesar tekanan di bursa domestik. Kondisi ini membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.

Dalam pernyataannya usai rapat di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Rosan menjelaskan bahwa pasar saham memang sedang berada dalam fase tertekan. Ia menegaskan bahwa koreksi seperti ini lazim terjadi ketika banyak sentimen negatif muncul bersamaan. Karena itu, ia meminta investor tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

Rosan menilai pelemahan tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar yang selalu bereaksi cepat terhadap berita dan ekspektasi. Ia mengatakan tekanan jangka pendek kerap muncul sebelum pasar menemukan titik keseimbangan baru. Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah arah pergerakan dalam periode yang lebih panjang.

MSCI dan Arus Dana

Rosan juga mengaitkan pelemahan pasar dengan rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Menurut dia, penyesuaian indeks itu berpotensi memengaruhi aliran dana investor asing. Dampaknya, sejumlah saham yang keluar dari indeks bisa mendapat tekanan jual.

MSCI telah merilis hasil penyesuaian yang berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Dari hasil tersebut, sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek.

Rosan menyebut investor global biasanya menyesuaikan portofolionya mengikuti perubahan indeks acuan. Ketika ada saham yang dikeluarkan, tekanan jual dari investor asing kerap meningkat. Hal itu pada akhirnya dapat menahan laju IHSG meski faktor fundamental belum berubah.

Menurut Rosan, pasar saat ini sedang menghadapi kombinasi antara faktor teknikal dan aksi penyesuaian portofolio. Ia menilai kondisi tersebut wajar terjadi menjelang implementasi rebalancing. Karena itu, ia meminta pelaku pasar melihat perkembangan ini secara proporsional.

Fundamental BUMN Tetap Kuat

Di tengah tekanan pasar, Rosan menegaskan bahwa fundamental perusahaan pelat merah masih kuat. Ia meminta investor melihat kinerja perusahaan secara jangka panjang, bukan hanya dari fluktuasi harian saham. Pandangan itu, menurut dia, penting untuk menjaga kepercayaan pasar.

Rosan mencontohkan bank-bank Himbara yang menurutnya masih mencatat performa positif. Ia menyebut beberapa indikator kinerja menunjukkan hasil yang baik, termasuk tingkat imbal hasil yang tinggi. Hal itu, kata dia, menjadi bukti bahwa fundamental BUMN masih solid.

Menurut Rosan, kekuatan fundamental perusahaan tidak selalu langsung tercermin pada pergerakan harga saham harian. Pasar dapat tertekan oleh persepsi, meski kinerja emiten tetap baik. Ia menilai investor perlu membedakan antara sentimen jangka pendek dan nilai bisnis yang sesungguhnya.

Rosan juga optimistis kondisi pasar akan membaik dalam jangka menengah dan panjang. Ia menegaskan bahwa selama fundamental ekonomi dan perusahaan tetap kuat, pemulihan pasar akan mengikuti. Keyakinan itu menjadi dasar pandangannya terhadap prospek BUMN ke depan.

Prospek Pasar Jangka Panjang

Rosan mengatakan tekanan yang terjadi saat ini tidak mengubah prospek ekonomi secara keseluruhan. Ia melihat pasar masih memiliki ruang pemulihan setelah sentimen negatif mereda. Dalam pandangannya, investor yang sabar akan lebih mampu membaca arah jangka panjang.

Ia menekankan bahwa fundamental yang baik akan menjadi penopang utama ketika pasar kembali stabil. Karena itu, Rosan mendorong pelaku pasar untuk menilai perusahaan dari kinerja operasional, arus kas, dan prospek usaha. Pendekatan tersebut dinilai lebih relevan dibanding sekadar mengikuti gejolak harian indeks.

Rosan juga menyampaikan bahwa persepsi pasar dapat berubah cepat ketika ada kepastian baru. Jika sentimen eksternal membaik, tekanan terhadap IHSG berpotensi berkurang. Pada saat yang sama, kinerja emiten yang sehat dapat membantu pemulihan indeks.

Ia menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat. Menurut Rosan, kondisi jangka menengah dan panjang tetap menjanjikan selama fundamental ekonomi terjaga. Dengan begitu, koreksi yang terjadi saat ini dipandang sebagai fase penyesuaian, bukan pelemahan struktural.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!