Anggun C Sasmi kembali menjadi sorotan publik setelah tampil dalam film Para Perasuk dan menerima Golden Visa dari Direktorat Jenderal Imigrasi. Di tengah perhatian itu, penyanyi senior tersebut mengungkap sisi lain kehidupannya, yakni hubungan dengan putrinya, Kirana, yang kini menginjak usia remaja. Salah satu kebiasaan yang kerap dibahas ibu dan anak itu adalah soal perhiasan, terutama gelang dan aksesori lain yang selama ini menjadi bagian dari keseharian Anggun. Perbincangan tersebut memperlihatkan bahwa bagi Anggun, perhiasan bukan sekadar pelengkap penampilan, melainkan simbol nilai yang ingin ia wariskan.
Anggun mengaku selama ini membatasi penggunaan perhiasan bagi Kirana sebelum berusia 18 tahun. Ia menilai keputusan itu penting agar sang anak memahami makna perhiasan secara utuh, bukan sekadar sebagai benda yang dipakai untuk gaya. Setelah Kirana resmi berusia 18 tahun, Anggun mulai membuka kemungkinan perkenalan yang lebih serius terhadap dunia perhiasan. Bagi pelantun Tua Tua Keladi itu, proses tersebut harus dilakukan dengan bijak dan tidak tergesa-gesa.
Anggun dan Perhiasan
Anggun menilai perhiasan memiliki nilai emosional yang jauh lebih besar daripada sekadar aksesori. Sejak kecil, ia melihat bagaimana ibunda dan neneknya memandang berlian sebagai warisan kasih sayang yang diteruskan lintas generasi. Pandangan itu membentuk cara Anggun menghargai perhiasan hingga saat ini. Karena itu, ia ingin Kirana memahami bahwa setiap perhiasan membawa cerita, perhatian, dan makna yang tidak sederhana.
Dalam penjelasannya, Anggun menyebut perhiasan sebagai sesuatu yang eksklusif dan merupakan bentuk privilege. Ia ingin sang putri menyadari bahwa kualitas sebuah berlian bukan hanya soal tampilan, tetapi juga soal nilai dan perhatian di baliknya. Menurutnya, perhiasan yang baik harus terasa understated, namun tetap tidak biasa. Sikap itu mencerminkan cara pandang Anggun terhadap keanggunan yang tenang dan berkelas.
Anggun juga menekankan bahwa perhiasan seharusnya menjadi bagian dari identitas, bukan sekadar tren sesaat. Baginya, pemakai perhiasan perlu memiliki hubungan personal dengan benda yang dikenakan. Itulah sebabnya ia selalu melihat perhiasan sebagai sesuatu yang membawa karakter pemiliknya. Cara pandang tersebut membuat Anggun dikenal memiliki selera yang kuat dan konsisten dalam memilih aksesori.
Pandangan itu pula yang membuat banyak pihak menilai Anggun sangat tepat menjadi sosok yang mewakili brand perhiasan. Ia tidak hanya dikenal sebagai figur publik, tetapi juga sebagai perempuan yang memahami filosofi di balik sebuah karya perhiasan. Keselarasan antara citra dan nilai yang dibawanya menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran jika kehadirannya dianggap mampu memperkuat pesan elegan dari sebuah merek perhiasan.
Aturan untuk Kirana
Di rumah, Anggun punya aturan yang cukup tegas untuk Kirana terkait perhiasan. Selama belum berusia 18 tahun, sang putri tidak diperbolehkan memakai perhiasan secara bebas. Aturan itu bukan bentuk larangan tanpa alasan, melainkan bagian dari pendidikan keluarga. Anggun ingin Kirana memahami proses sebelum menikmati sesuatu yang dianggap bernilai tinggi.
Anggun mengisahkan bahwa sejak kecil, Kirana kerap tertarik pada gelang dan aksesori miliknya. Setiap kali melihat perhiasan ibunya, Kirana selalu menanyakan kapan ia bisa memakainya. Jawaban Anggun pun konsisten, yakni menunggu hingga usianya cukup dewasa. Kebiasaan itu menunjukkan bahwa ada proses komunikasi yang terbuka antara ibu dan anak di rumah mereka.
Meski demikian, Anggun tidak menutup kemungkinan Kirana mulai mengenal perhiasan secara lebih dekat dalam waktu dekat. Ia menyebut mungkin saja tahun depan sang putri sudah diperbolehkan mengenakan perhiasan. Namun, pemberian izin itu tetap harus diiringi dengan pemahaman mengenai makna dan tanggung jawab. Dengan begitu, perhiasan tidak hanya menjadi hiasan, tetapi juga bagian dari proses kedewasaan.
Bagi Anggun, pendekatan tersebut penting agar Kirana tumbuh dengan kesadaran yang baik terhadap nilai estetika dan nilai hidup. Ia ingin putrinya belajar menghargai sesuatu yang indah tanpa menjadikannya berlebihan. Aturan di rumah itu mencerminkan gaya pengasuhan yang tegas, namun tetap penuh kasih. Dalam pandangan Anggun, batasan yang jelas justru dapat membantu anak memahami prioritas dengan lebih baik.
Makna Warisan dari Keluarga
Anggun menuturkan bahwa pandangannya terhadap perhiasan berasal dari lingkungan keluarga yang sangat menghargai benda tersebut. Ibunya dan neneknya mewariskan cara pandang bahwa perhiasan, terutama berlian, adalah simbol kasih sayang yang bisa diturunkan dari generasi ke generasi. Dari sana, Anggun belajar bahwa perhiasan memiliki dimensi emosional yang tidak lekang oleh waktu. Nilai itu kini ingin ia teruskan kepada Kirana.
Warisan keluarga tersebut membuat Anggun memandang kualitas sebagai hal yang tidak boleh ditawar. Ia percaya bahwa perhiasan yang baik harus dibuat dengan perhatian penuh dan standar tinggi. Bagi dirinya, keindahan akan terasa lebih bermakna jika lahir dari proses yang serius. Karena itu, ia cenderung memilih perhiasan yang punya cerita dan ketelitian dalam pembuatannya.
Anggun juga melihat perhiasan sebagai bentuk ekspresi rasa sayang yang elegan. Dalam keluarganya, berlian bukan sekadar benda mewah, melainkan penanda perhatian yang tulus. Cara pandang itu membuat perhiasan menjadi bagian dari memori keluarga yang terus hidup. Nilai sentimental seperti inilah yang menurut Anggun sulit digantikan oleh tren mode apa pun.
Pandangan tersebut memperkuat citra Anggun sebagai figur publik yang matang dalam memilih dan memaknai aksesori. Ia tidak menempatkan perhiasan sebatas unsur penampilan, melainkan sebagai simbol hubungan antargenerasi. Karena itu, kisahnya dengan Kirana terasa relevan bagi banyak perempuan yang ingin mewariskan nilai dalam keluarga. Cerita itu menunjukkan bahwa fashion dan perhiasan juga bisa menjadi medium pendidikan karakter.
Wanda dan Pilihan Anggun
Pandangan Anggun yang kuat soal perhiasan akhirnya membuatnya dipilih sebagai House Ambassador sekaligus D color Lady untuk Wanda House of Jewels. Menurut pihak brand, karakter Anggun dianggap paling selaras dengan filosofi mereka. Kesamaan itu bukan hanya soal penampilan, tetapi juga soal jiwa dan cara memaknai perhiasan. Kesesuaian tersebut menjadi alasan utama kolaborasi ini terasa natural.
Founder Wanda House of Jewels, Wanda Ponika, menyebut bahwa semakin ia mengenal Anggun, semakin terasa kecocokan di antara keduanya. Ia menilai Anggun memiliki kepribadian yang sejalan dengan nilai brand, yakni anggun, kuat, dan tidak berlebihan. Bagi Wanda, kecocokan itu bukan tentang fisik semata, melainkan tentang soul. Karena itu, Anggun dianggap sebagai representasi yang tepat untuk membawa pesan merek.
Anggun pun menegaskan bahwa Wanda House of Jewels berbeda dari toko perhiasan pada umumnya. Ia melihat mereka sebagai jeweler yang benar-benar membuat perhiasan dengan perhatian penuh pada detail. Setiap proses, menurutnya, dilakukan dengan niat dan atensi yang tinggi. Penjelasan itu menunjukkan bahwa Anggun menghargai aspek craftsmanship dalam dunia perhiasan.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa perhiasan dapat menjadi bahasa visual yang mencerminkan identitas seseorang. Dalam kasus Anggun, pilihan itu sejalan dengan citra dirinya sebagai perempuan yang elegan dan memiliki prinsip. Keterkaitan antara personalitas dan karya perhiasan membuat kerja sama ini terasa autentik. Di tengah sorotan publik, Anggun kembali menunjukkan bahwa gaya, nilai keluarga, dan makna bisa berjalan beriringan.
