Purbaya Pastikan Rupiah Melemah Tak Guncang APBN

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 16:46 WIB 6
Purbaya Pastikan Rupiah Melemah Tak Guncang APBN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp17.700 per dolar Amerika Serikat belum mengganggu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ia menegaskan pemerintah sudah menghitung berbagai skenario sehingga perubahan kurs tidak otomatis memperlebar defisit.

Purbaya menyampaikan hal itu saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 19 Mei 2026. Menurut dia, dampak pelemahan rupiah terhadap APBN jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan harga minyak dunia.

Rupiah dan APBN Aman

Purbaya menilai APBN masih berada dalam kondisi aman meski nilai tukar rupiah melemah. Ia menyebut simulasi fiskal telah memasukkan kemungkinan pergerakan kurs yang lebih tinggi dari asumsi dasar.

Dalam asumsi APBN 2026, pemerintah menetapkan kurs rupiah sebesar Rp16.500 per dolar AS. Dengan perhitungan itu, ruang fiskal disebut tetap terjaga meski pasar bergerak lebih volatil.

Ketika ditanya soal kekhawatiran pasar, Purbaya menegaskan pemerintah tidak bekerja tanpa perhitungan. Ia mengatakan, semua skenario sudah diuji sebelum angka APBN disusun.

Minyak Dunia Lebih Berisiko

Purbaya menilai tekanan dari harga minyak dunia lebih besar terhadap APBN dibanding pelemahan rupiah. Menurut dia, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 dapat menambah defisit sekitar Rp6,8 triliun.

Ia menyebut beban fiskal dari energi lebih mudah terlihat karena dampaknya langsung masuk ke berbagai pos belanja negara. Karena itu, fluktuasi harga minyak menjadi perhatian utama dalam menjaga keseimbangan anggaran.

Sementara itu, dampak pelemahan rupiah disebutnya relatif kecil dan sudah diperhitungkan dalam simulasi. Purbaya bahkan mengaku tidak mengingat angka pasti, tetapi memastikan nilainya tidak signifikan.

Defisit APBN Membaik

Defisit APBN per 30 April 2026 tercatat sebesar Rp164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap produk domestik bruto. Angka ini menunjukkan kondisi fiskal yang lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada Maret 2026, defisit masih berada di level Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa pengelolaan anggaran mulai menunjukkan hasil yang lebih baik.

Purbaya menilai perbaikan itu tidak lepas dari membaiknya keseimbangan primer yang mencatat surplus Rp28 triliun. Ia mengatakan tren tersebut berpeluang terus menguat apabila penerimaan negara tetap terjaga.

Prospek Fiskal Tetap Terjaga

Menurut Purbaya, kondisi fiskal ke depan masih memiliki ruang untuk membaik. Ia menilai kekhawatiran bahwa defisit akan melesat hingga 3,6 persen seperti perkiraan sebagian analis tidak sesuai dengan hitungan pemerintah.

Ia menyebut cara membaca angka APBN tidak bisa dilakukan dengan asumsi sederhana yang dipukul rata. Dengan simulasi yang lebih rinci, pemerintah menilai defisit tetap berada dalam jalur yang terkendali.

Purbaya menegaskan bahwa APBN masih menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Selama asumsi makro diperbarui secara hati-hati, pemerintah menilai risiko dari pelemahan rupiah tetap dapat dikelola.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!