Purbaya Nilai Pelemahan Rupiah Tak Masuk Akal

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 08:47 WIB 3
Purbaya Nilai Pelemahan Rupiah Tak Masuk Akal

Nilai tukar rupiah hampir menyentuh Rp17.800 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Mata uang Garuda tercatat melemah 0,29 persen atau 52 poin ke level Rp17.795 per dolar AS. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan tersebut tidak sejalan dengan kondisi ekonomi Indonesia yang menurutnya masih kuat. Ia menyampaikan pandangan itu saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, pada Rabu, 27 Mei 2026.

Purbaya menegaskan, pelemahan rupiah semestinya terjadi ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi. Dalam pandangannya, kondisi yang berlangsung saat ini justru bertolak belakang karena indikator dasar perekonomian dinilai bagus. Ia juga memastikan pemerintah tidak akan melakukan stress test ulang terhadap APBN hanya karena pelemahan nilai tukar. Menurutnya, simulasi dengan asumsi harga minyak dunia mencapai US$100 per barel sudah pernah dihitung sebelumnya.

Rupiah dan Fundamental Ekonomi

Purbaya menyebut penurunan rupiah sebagai hal yang tidak masuk akal jika dilihat dari kondisi ekonomi nasional. Ia menilai fundamental Indonesia tetap solid, sehingga pelemahan mata uang tidak seharusnya terjadi sedalam itu. Menurut dia, pelemahan biasanya muncul ketika ada masalah pada dasar ekonomi. Karena itu, ia melihat pergerakan rupiah saat ini perlu dibaca lebih hati-hati.

Ia menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang baik. Pernyataan itu disampaikan untuk menepis anggapan bahwa pelemahan rupiah mencerminkan kerusakan struktur ekonomi. Purbaya menilai ada faktor lain yang mendorong tekanan di pasar valas. Meski demikian, ia tidak merinci sumber tekanan tersebut secara lebih jauh.

Dalam keterangannya, Purbaya menegaskan pemerintah tidak melihat pelemahan rupiah sebagai sinyal krisis. Ia justru menilai pasar sedang merespons dinamika tertentu yang tidak langsung terkait fundamental. Pemerintah, kata dia, tetap percaya pada daya tahan ekonomi nasional. Sikap itu menjadi dasar utama dalam merespons gejolak nilai tukar.

Purbaya juga menyampaikan bahwa penilaian terhadap rupiah harus dilakukan secara menyeluruh. Ia menilai stabilitas ekonomi tidak bisa hanya dilihat dari satu indikator saja. Menurutnya, ada banyak penopang yang masih bekerja dengan baik. Karena itu, ia menganggap kekhawatiran berlebihan tidak diperlukan.

APBN Masih Dianggap Aman

Ketika ditanya soal kemungkinan stress test terhadap APBN, Purbaya menjawab tidak perlu. Ia mengatakan pemerintah sudah memiliki simulasi yang memasukkan asumsi harga minyak dunia hingga US$100 per barel. Dalam perhitungan itu, asumsi nilai tukar rupiah juga sudah diikutkan. Dengan demikian, menurutnya, APBN tetap berada dalam kondisi yang terukur.

Purbaya bahkan berkelakar bahwa dirinya yang justru stres, bukan APBN. Pernyataan itu disampaikan untuk menegaskan bahwa pemerintah tidak panik menghadapi tekanan rupiah. Ia memastikan tidak ada kebutuhan untuk menghitung ulang rancangan fiskal secara mendadak. Menurutnya, skenario terburuk sudah pernah dipetakan sebelumnya.

Ia menilai ketahanan APBN bergantung pada kesiapan asumsi yang digunakan sejak awal. Karena simulasi harga minyak tinggi sudah disiapkan, tekanan dari pasar valas tidak membuat pemerintah kehilangan pegangan. Purbaya menyebut perhitungan fiskal tersebut masih relevan untuk kondisi saat ini. Dengan begitu, ruang fiskal dinilai tetap aman.

Dalam penjelasannya, Purbaya menekankan bahwa kebijakan fiskal tidak boleh didasarkan pada kepanikan sesaat. Pemerintah, kata dia, perlu merujuk pada data dan simulasi yang sudah tersedia. Sikap itu dianggap penting agar APBN tetap kredibel di mata pasar. Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan fiskal harus menjaga disiplin dan konsistensi.

Yield Obligasi Terjaga

Di tengah pelemahan rupiah, Purbaya menyoroti kondisi pasar obligasi Indonesia yang justru membaik. Ia mengatakan imbal hasil atau yield surat utang mengalami penurunan. Menurutnya, situasi itu menunjukkan pasar obligasi masih terkendali. Kondisi ini dianggap sebagai sinyal positif bagi stabilitas keuangan nasional.

Purbaya menjelaskan, penurunan yield tidak lepas dari langkah pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara. Aksi tersebut dilakukan melalui treasury operation untuk menahan volatilitas. Tujuannya adalah menjaga agar pergerakan pasar tetap dalam batas yang wajar. Pemerintah disebut aktif agar tekanan pada rupiah tidak merembet lebih luas.

Ia menyebut tim Direktorat Jenderal Perbendaharaan turut berperan dalam menjaga keseimbangan pasar. Menurut Purbaya, pembelian terbatas dilakukan agar yield tidak melonjak. Kebijakan itu dinilai membantu menciptakan suasana pasar yang lebih tenang. Dengan kondisi tersebut, investor disebut tetap memiliki kepercayaan pada aset domestik.

Purbaya menilai stabilitas pasar obligasi sangat penting bagi perekonomian. Jika yield terkendali, maka minat investor asing untuk masuk ke pasar Indonesia akan tetap terjaga. Ia menegaskan bahwa kepercayaan terhadap obligasi pemerintah berpengaruh langsung pada arus modal. Karena itu, intervensi dianggap sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas makro.

Arus Modal Asing Diharapkan

Purbaya mengatakan pemerintah sudah mulai melihat aliran modal asing masuk ke pasar obligasi. Menurutnya, arus dana itu menjadi tanda bahwa kepercayaan investor belum hilang. Ia menilai kondisi ini dapat membantu meredakan tekanan terhadap rupiah. Dengan begitu, pasar keuangan domestik masih memiliki penopang yang kuat.

Ia menambahkan bahwa selama pasar obligasi tetap terkendali, minat investor asing akan lebih mudah bertahan. Menurut Purbaya, faktor utama yang dicermati investor adalah kestabilan instrumen utang pemerintah. Jika kondisi tersebut terjaga, maka kepercayaan untuk berinvestasi juga meningkat. Hal ini diharapkan memberi dampak positif bagi nilai tukar rupiah.

Ke depan, Purbaya mengatakan pemerintah akan mengambil tindakan tambahan untuk membantu rupiah. Ia menyebut langkah itu akan memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap stabilitas nilai tukar. Meski tidak menjelaskan detail kebijakannya, ia menekankan pemerintah tetap waspada. Strategi lanjutan itu disiapkan agar pasar tetap percaya pada arah kebijakan ekonomi.

Menurut dia, kombinasi antara pasar obligasi yang stabil, intervensi yang terukur, dan fundamental ekonomi yang baik akan menjaga ketahanan Indonesia. Ia berharap tekanan rupiah tidak dibaca secara berlebihan oleh pelaku pasar. Pemerintah, kata Purbaya, akan terus memastikan stabilitas makro tetap terjaga. Dengan pendekatan itu, ekonomi dinilai masih memiliki ruang untuk bertahan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!