Purbaya Heran Rupiah Melemah ke Rp17.795 per Dolar AS

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 14:23 WIB 3
Purbaya Heran Rupiah Melemah ke Rp17.795 per Dolar AS

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus stres melihat rupiah melemah hingga mendekati Rp17.800 per dolar AS. Ia menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya masih tergolong baik. Pernyataan itu disampaikan saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, pada Rabu. Pelemahan rupiah terjadi ketika pasar mencermati stabilitas nilai tukar dan respons pemerintah.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, dolar AS menguat 0,29 persen atau 52 poin ke level Rp17.795. Di tengah tekanan itu, Purbaya menegaskan pemerintah sudah menghitung berbagai skenario fiskal, termasuk saat harga minyak dunia menyentuh US$100 per barel. Ia juga menyebut tidak ada kebutuhan untuk melakukan stress test ulang terhadap APBN. Menurut dia, ruang fiskal tetap terjaga selama asumsi yang digunakan masih berada dalam koridor perhitungan awal.

Rupiah Melemah di Tengah Fundamental

Purbaya menilai pelemahan rupiah kali ini terasa janggal karena terjadi saat ekonomi domestik dinilai kuat. Menurut dia, pelemahan biasanya muncul ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi. Karena itu, ia menyebut kondisi yang berlangsung saat ini tidak masuk akal. Ia menilai pasar semestinya merespons positif fondasi ekonomi Indonesia yang masih terjaga.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak melihat adanya sinyal darurat yang memerlukan perubahan besar pada rancangan anggaran. Simulasi terhadap berbagai kemungkinan eksternal sudah dilakukan sebelumnya. Salah satu simulasi tersebut mencakup skenario harga minyak mentah yang tinggi. Dengan dasar itu, pemerintah merasa belum perlu menghitung ulang APBN.

Dalam keterangannya, Purbaya bahkan berkelakar bahwa justru dirinya yang merasa stres, bukan APBN. Ia memastikan simulasi fiskal telah memasukkan asumsi kurs dan harga energi secara hati-hati. Karena itu, kondisi rupiah saat ini belum dianggap mengganggu desain anggaran negara. Pemerintah, kata dia, tetap berpegang pada skenario yang telah disusun sejak awal.

Pemerintah Jaga Pasar Obligasi

Meski rupiah melemah, Purbaya mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah atau bond yield justru mengalami penurunan. Menurut dia, hal ini tidak terlepas dari langkah intervensi pemerintah di pasar Surat Berharga Negara. Aksi tersebut dilakukan melalui treasury operation untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Upaya itu juga bertujuan menahan gejolak yang dapat menekan mata uang domestik.

Purbaya menyebut Direktorat Jenderal Perbendaharaan ikut mengambil peran dalam menjaga pergerakan yield. Langkah pembelian dilakukan secara terukur agar pasar obligasi tetap terkendali. Dengan kondisi itu, pemerintah berharap sentimen investor tidak terganggu. Stabilitas pasar surat utang dinilai penting untuk mempertahankan kepercayaan pelaku pasar.

Ia menambahkan bahwa selama pasar obligasi tetap tenang, minat investor asing untuk masuk ke Indonesia cenderung terjaga. Arus modal asing ke pasar obligasi, menurut dia, mulai terlihat kembali. Pemerintah pun menilai kestabilan bond market dapat membantu meredam tekanan pada rupiah. Karena itu, intervensi pasar akan terus disiapkan bila diperlukan.

Arus Modal Asing Mulai Masuk

Purbaya mengatakan kepercayaan investor menjadi kunci bagi ketahanan pasar keuangan nasional. Ketika bond market terkendali, investor asing dinilai lebih nyaman menempatkan dana di Indonesia. Hal itu berdampak positif terhadap pasar obligasi dan stabilitas nilai tukar. Pemerintah pun melihat arus masuk modal asing sebagai sinyal yang perlu dijaga.

Ia menegaskan pemerintah tidak berhenti pada satu langkah intervensi saja. Menurut dia, tindakan tambahan akan kembali dilakukan untuk membantu rupiah secara lebih signifikan. Kebijakan itu disiapkan agar tekanan eksternal tidak berlarut-larut. Dengan demikian, stabilitas pasar dapat dipertahankan dalam jangka menengah.

Purbaya menilai koordinasi antarlembaga menjadi penting dalam merespons dinamika pasar saat ini. Kementerian Keuangan, khususnya jajaran perbendaharaan, disebut aktif menjaga likuiditas dan sentimen pasar. Upaya tersebut diarahkan untuk meredam volatilitas yang berlebihan. Pemerintah berharap langkah yang ditempuh dapat menjaga kepercayaan pasar secara konsisten.

APBN Tetap Dianggap Aman

Terkait kekhawatiran bahwa rupiah lemah akan menekan APBN, Purbaya menegaskan pihaknya tidak melihat perlunya stress test tambahan. Ia menyebut simulasi terhadap kurs telah dimasukkan dalam perhitungan fiskal sebelumnya. Bahkan, skenario harga minyak tinggi juga sudah disiapkan sejak awal. Karena itu, ia menilai kondisi anggaran negara masih aman.

Menurut dia, pemerintah telah memiliki dasar yang cukup untuk membaca risiko dari fluktuasi pasar global. Perubahan nilai tukar memang perlu diwaspadai, tetapi belum sampai mengganggu struktur APBN. Pemerintah juga masih memiliki instrumen untuk meredam dampak lanjutan. Selama asumsi fiskal tetap relevan, ia yakin anggaran tidak akan terguncang.

Purbaya menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas makroekonomi. Rupiah, pasar obligasi, dan arus modal asing menjadi perhatian utama dalam jangka pendek. Dengan intervensi yang terukur, pemerintah berharap tekanan nilai tukar segera mereda. Ia pun optimistis koordinasi kebijakan dapat menjaga kepercayaan pasar ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!