Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei. Kenaikan indeks terutama ditopang oleh saham perbankan dan otomotif yang bergerak solid sepanjang sesi. Di sisi lain, tekanan jual masih terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Kondisi ini membuat pasar tetap selektif menjelang libur panjang bursa.
Penguatan IHSG terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing senilai Rp2,09 triliun di pasar reguler dan Rp2,22 triliun di seluruh pasar. Enam sektor berhasil bertahan di zona hijau, dengan transportasi menjadi penopang utama. Sektor energi justru mencatat pelemahan terdalam di antara kelompok sektoral. Untuk perdagangan hari ini, pelaku pasar menimbang sentimen geopolitik, kebijakan ekspor DSI, serta peluang aksi ambil untung.
Prospek IHSG Hari Ini
Pergerakan IHSG diperkirakan masih terbatas karena investor cenderung berhati-hati. Sentimen positif datang dari perkembangan pembicaraan Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi meredakan ketegangan geopolitik. Selain itu, penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor DSI hingga awal 2027 ikut menjadi perhatian pasar. MSCI Indonesia offshore yang menguat 1,70 persen juga memberi tambahan dukungan.
Meski begitu, peluang aksi ambil untung masih terbuka menjelang libur panjang bursa. Pelaku pasar biasanya cenderung menurunkan eksposur saat ketidakpastian meningkat. Hal ini membuat penguatan indeks berisiko tertahan pada area tertentu. Oleh karena itu, pergerakan intraday diperkirakan tetap fluktuatif.
Dari sisi teknikal, penguatan yang terjadi pada awal pekan menunjukkan minat beli belum sepenuhnya hilang. Saham-saham berkapitalisasi besar tetap menjadi penentu arah indeks. Jika tekanan jual asing kembali meningkat, IHSG berpeluang bergerak konsolidatif. Namun, sentimen eksternal yang membaik dapat menjaga indeks bertahan di zona positif.
Saham Emiten Menarik Perhatian
Di jajaran emiten, Solusi Environment Asia Tbk atau SOFA menarik perhatian setelah resmi bergabung dalam konsorsium proyek Waste to Energy. Perseroan akan menggarap proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik di Denpasar Raya dan Bogor Raya melalui PT Ananta Energi Asia. Mitra konsorsium, Zhejiang Weiming, dikenal sebagai operator PSEL besar di dunia. Pada 2025, perusahaan tersebut menghasilkan listrik berbasis sampah sebesar 4,62 miliar kWh.
Kerja sama itu membuka peluang pendapatan berulang bagi SOFA dalam jangka panjang. Skema Power Purchase Agreement dengan PLN berlaku selama 30 tahun dengan tarif tetap US$0,20 per kWh. Model bisnis ini memberi visibilitas arus kas yang relatif lebih stabil. Pasar pun menilai proyek tersebut sebagai langkah strategis di sektor energi terbarukan.
Sementara itu, Millennium Pharmacon International Tbk atau SDPC membidik pertumbuhan bisnis yang lebih agresif. Perseroan menargetkan pendapatan Rp5 triliun pada 2026 dan laba bersih Rp60 miliar. Untuk mendukung target tersebut, gudang pusat di Bekasi hampir rampung dengan progres 95 persen. Ekspansi cabang ke Kupang dan Kendari juga disiapkan untuk memperluas sumber pendapatan.
Dividen Dan Kinerja Emiten
Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMAR menjadi sorotan setelah menetapkan dividen tunai Rp270 per saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp775,49 miliar atau setara 30 persen dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Keputusan itu mencerminkan kemampuan perseroan menjaga profitabilitas di tengah dinamika harga komoditas. Investor juga menilai kebijakan dividen tersebut cukup menarik untuk saham berbasis konsumsi dan agribisnis.
Sepanjang 2025, SMAR membukukan pendapatan Rp86,95 triliun atau tumbuh 10,29 persen secara tahunan. Laba bersih perseroan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp2,58 triliun. Laba per saham juga naik menjadi Rp900, memperkuat daya tarik fundamental emiten. Pada perdagangan 25 Mei 2026, saham SMAR ditutup di level Rp5.225 per saham.
Dengan harga penutupan tersebut, indikasi dividend yield SMAR berada di kisaran 5,17 persen. Cum date dividen dijadwalkan pada 4 Juni, sedangkan pembayaran dilakukan pada 18 Juni 2026. Jadwal tersebut berpotensi menjadi perhatian investor pencari pendapatan pasif. Di tengah volatilitas pasar, saham dengan dukungan dividen kerap menjadi pilihan defensif.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Sejumlah saham direkomendasikan untuk dipantau pada perdagangan hari ini. BRIS disarankan buy di area 1905 hingga 1915 dengan target 1935 sampai 1990 dan stop loss 1805. INDF direkomendasikan buy di kisaran 6850 hingga 6925 dengan target 6975 sampai 7050 dan stop loss 6525. PGAS berada pada rentang buy 1865 hingga 1875 dengan target 1900 sampai 1925 dan stop loss 1760.
Selain itu, SSIA direkomendasikan buy pada area 1685 hingga 1700 dengan target 1725 sampai 1770 dan stop loss 1590. ISAT juga masuk radar dengan area buy 2130 hingga 2160, target 2190 sampai 2240, serta stop loss 2020. Rekomendasi tersebut disusun berdasarkan kondisi teknikal dan momentum pasar. Investor tetap perlu menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
Seluruh analisis dan rekomendasi saham bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor sesuai tujuan keuangan pribadi. Dalam situasi pasar yang dinamis, disiplin terhadap strategi menjadi kunci utama. Investor disarankan tetap cermat membaca sentimen dan level risiko sebelum masuk pasar.
