Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus stres melihat nilai tukar rupiah melemah hingga mendekati Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat. Ia menilai pelemahan itu tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang disebutnya masih bagus. Pernyataan itu disampaikan saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, pada Rabu. Purbaya menegaskan pelemahan rupiah pada saat ini terasa tidak masuk akal.
Meski kurs bergerak tertekan, Purbaya menyebut pemerintah tidak akan mengubah asumsi fiskal secara tergesa-gesa. Ia mengatakan berbagai skenario sudah lebih dulu dihitung, termasuk simulasi harga minyak dunia hingga US$ 100 per barel dan pergerakan kurs rupiah. Menurut dia, APBN masih berada dalam kendali dan tidak perlu diuji ulang hanya karena volatilitas pasar. Justru, kata Purbaya, dirinya yang merasa stres menghadapi pergerakan mata uang tersebut.
Rupiah Melemah, Fundamental Dinilai Kuat
Purbaya menilai pelemahan rupiah sulit dijelaskan bila merujuk pada kondisi ekonomi domestik. Ia menegaskan, pelemahan mata uang biasanya terjadi ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi. Dalam pandangannya, situasi Indonesia saat ini justru menunjukkan fondasi yang relatif baik. Karena itu, ia menyebut pelemahan kurs yang terjadi saat ini tidak masuk akal.
Menurut dia, pasar seharusnya merespons positif ketika indikator ekonomi berada dalam tren yang sehat. Ia menilai ketidakselarasan antara fundamental dan pergerakan kurs perlu dicermati lebih jauh. Namun, Purbaya tidak merinci faktor eksternal apa yang paling besar memengaruhi tekanan rupiah. Ia hanya menekankan bahwa kondisi dasar ekonomi nasional tidak sedang bermasalah.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena rupiah sempat bergerak mendekati Rp 17.800 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, dolar AS menguat 0,29 persen atau 52 poin ke level Rp 17.795. Pergerakan itu menunjukkan tekanan masih membayangi pasar valuta asing domestik. Di tengah situasi tersebut, pemerintah tetap berharap stabilitas bisa segera terjaga.
APBN Tidak Perlu Diuji Ulang
Menanggapi pertanyaan soal kemungkinan stress test APBN, Purbaya menegaskan pemerintah tidak akan melakukan perhitungan ulang. Ia mengatakan seluruh skenario risiko sudah dimasukkan dalam simulasi sebelumnya. Salah satu simulasi yang dimaksud adalah skenario harga minyak dunia mencapai US$ 100 per barel. Dalam simulasi itu, asumsi kurs rupiah juga sudah diperhitungkan.
Dengan dasar perhitungan tersebut, Purbaya menilai APBN masih aman menghadapi gejolak pasar. Ia menyebut tidak ada alasan untuk panik atau mengubah proyeksi fiskal secara mendadak. Menurut dia, ruang fiskal pemerintah tetap terjaga selama asumsi makro tidak meleset terlalu jauh. Karena itu, ia menilai stress test tambahan belum diperlukan.
Purbaya bahkan menyampaikan pernyataan itu dengan nada santai saat menjawab pertanyaan wartawan. Ia mengatakan yang justru merasa stres adalah dirinya sendiri, bukan APBN. Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan keyakinannya bahwa kondisi fiskal Indonesia masih terkendali. Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan langkah antisipatif sejak awal.
Intervensi Jaga Pasar Obligasi
Di tengah pelemahan rupiah, Purbaya menyoroti kondisi pasar obligasi yang justru membaik. Ia menyebut imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara mengalami penurunan. Penurunan itu terjadi karena adanya intervensi pemerintah melalui treasury operation. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar.
Purbaya menjelaskan, tim Direktorat Jenderal Perbendaharaan ikut berperan membeli surat utang secara terukur. Aksi itu dilakukan agar yield tetap terkendali dan tidak melonjak tajam. Menurut dia, stabilitas pasar obligasi menjadi salah satu penopang utama kepercayaan investor. Karena itu, pemerintah terus memantau pergerakan SBN secara ketat.
Ia menilai pasar obligasi yang terkendali akan membantu menjaga arus modal asing tetap masuk. Dalam pandangannya, investor akan lebih percaya diri bila pasar surat utang Indonesia stabil. Kondisi itu juga dinilai dapat memberi dukungan tambahan bagi rupiah. Purbaya menyebut pemerintah mulai melihat tanda-tanda masuknya modal asing ke pasar obligasi.
Modal Asing Mulai Mengalir
Purbaya optimistis langkah pemerintah ke depan akan membantu meredakan tekanan pada rupiah. Ia mengatakan akan ada tindakan lanjutan yang diyakini bisa berdampak lebih signifikan. Meski tidak membeberkan detail kebijakannya, ia menegaskan upaya stabilisasi masih terus berjalan. Pemerintah, katanya, ingin memastikan pasar tetap memperoleh sinyal yang meyakinkan.
Menurut dia, kestabilan pasar obligasi menjadi kunci untuk menjaga minat investor asing. Saat kepercayaan pasar terjaga, arus dana dari luar negeri berpeluang terus masuk. Arus modal itu pada akhirnya dapat membantu menahan tekanan terhadap rupiah. Dengan begitu, stabilitas keuangan nasional diharapkan tetap terjaga.
Hingga penutupan perdagangan terakhir, rupiah masih berada di bawah tekanan yang cukup besar. Namun, pemerintah menegaskan respons kebijakan akan terus disiapkan untuk menjaga kondisi pasar. Purbaya meyakini fundamental ekonomi yang kuat akan menjadi modal penting menghadapi gejolak tersebut. Ia pun berharap stabilitas rupiah dapat kembali pulih dalam waktu dekat.
