Pelaku Usaha Hijab Dyalodya Curhat Rugi Akibat Retur COD

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 05:41 WIB 2
Pelaku Usaha Hijab Dyalodya Curhat Rugi Akibat Retur COD

Sebuah video curahan hati pelaku usaha hijab lokal, Dyalodya, viral di media sosial setelah memperlihatkan tumpukan paket retur dalam jumlah besar. Dalam unggahan di Instagram @dyalodya, pemilik usaha mengaku rugi dalam sepekan akibat paket berlabel COD yang gagal terkirim dan dikembalikan kurir.

Kekecewaan itu muncul karena banyak paket diduga disalahgunakan oleh oknum pembeli, bahkan ada temuan barang yang ditukar dengan isi tidak pantas. Kasus ini kembali menyoroti risiko sistem Cash on Delivery yang kerap dimanfaatkan untuk penipuan, merugikan pelaku UMKM, dan berpotensi mengganggu kepercayaan pelanggan.

Curhat Kerugian Dyalodya

Dalam video yang diunggah, pemilik Dyalodya menunjukkan deretan paket retur yang menumpuk selama satu minggu. Hampir seluruh paket tersebut merupakan pesanan COD, sehingga kerugian yang ditanggung bukan hanya ongkos kirim, tetapi juga biaya operasional lain.

Ia menyampaikan kekecewaannya dengan nada emosional karena paket yang sudah diproses justru berakhir ditolak pelanggan. Menurutnya, kondisi ini membuat pelaku usaha kecil menanggung beban berlapis, mulai dari stok, tenaga kerja, hingga biaya pengemasan.

Video itu dengan cepat menyebar dan memicu reaksi warganet yang ikut prihatin. Banyak pengguna media sosial menilai kasus seperti ini bukan kejadian baru, melainkan masalah yang terus berulang di lapangan.

Unggahan tersebut juga menampilkan bukti fisik paket yang kembali ke tangan penjual. Dari situ, ia ingin menunjukkan bahwa kerugian akibat retur bukan sekadar hitungan angka, melainkan berdampak langsung pada keberlangsungan bisnis.

Modus Retur Yang Merugikan

Zahra, pemilik brand Dyalodya, menjelaskan bahwa usahanya berdiri sejak 2017 dan kini menghadapi tekanan serius dari penyalahgunaan COD. Ia menilai banyak komplain datang dari orang-orang yang mengaku tidak pernah memesan produk, tetapi tiba-tiba menerima paket.

Menurut Zahra, ada dugaan penipuan yang melibatkan pihak ketiga dalam proses pengiriman. Ia menyebut oknum tertentu diduga memanfaatkan celah saat paket sampai ke konsumen, lalu membuat penerima menolak barang dengan alasan tidak merasa memesan.

Ia juga mengungkap adanya paket yang dikembalikan dalam kondisi terbuka, bahkan isi di dalamnya telah diganti dengan barang tak bernilai. Salah satu temuan yang disorot adalah celana dalam bekas yang diduga digunakan untuk menipu penjual.

Fenomena itu membuat pelaku usaha harus lebih waspada terhadap setiap pesanan COD. Bagi Zahra, kerugian bukan hanya soal barang yang kembali, tetapi juga rusaknya alur penjualan yang sudah dibangun sejak lama.

Alamat Palsu Dan Data Bocor

Zahra memperingatkan adanya modus lain yang dinilai lebih berbahaya karena menyasar identitas toko. Dalam pola itu, alamat Dyalodya dicantumkan seolah-olah sebagai pengirim, padahal barang berasal dari toko lain yang tidak jelas.

Ia menilai skema tersebut berpotensi mencoreng reputasi merek, karena penerima paket bisa mengira Dyalodya yang melakukan pengiriman. Kondisi ini juga dapat merugikan konsumen yang tidak pernah memesan barang, tetapi namanya tercantum dalam pengiriman COD.

Menurutnya, kasus itu memperlihatkan bahwa data pribadi dan alamat pelanggan bisa saja bocor di rantai distribusi. Ia menduga kebocoran dapat terjadi dari pihak kurir, staf, atau oknum lain yang terlibat dalam proses pengantaran.

Zahra pun meminta masyarakat lebih berhati-hati saat menerima paket yang tidak pernah dipesan. Ia menegaskan, jika tidak ada pesanan resmi dari Dyalodya, maka paket sebaiknya tidak langsung diterima tanpa verifikasi yang jelas.

Reaksi Warganet Dan Imbauan

Video curhat itu telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali dan menuai banyak komentar simpatik. Sejumlah warganet mengaku pernah mengalami kejadian serupa, terutama terkait paket COD yang datang tanpa pesanan yang jelas.

Beberapa komentar menyebut data pelanggan bisa saja bocor dari berbagai titik, termasuk saat proses pengiriman. Ada pula yang menilai pelaku usaha sebaiknya mempertimbangkan pembatasan penggunaan COD untuk menekan risiko penipuan.

Respons warganet memperlihatkan bahwa persoalan retur COD bukan hanya beban penjual, tetapi juga mengganggu rasa aman pembeli. Karena itu, banyak yang mendorong adanya pengawasan lebih ketat dalam sistem pembayaran di tempat.

Bagi pelaku usaha seperti Dyalodya, kejadian ini menjadi pengingat bahwa edukasi kepada pelanggan sangat penting. Kejelasan identitas pengirim, verifikasi pesanan, dan disiplin dalam menerima paket menjadi langkah awal untuk mencegah kerugian serupa terulang.

Tag Terkait
#hijab#COD#UMKM

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!