PFpreneur 2026 Bekali Perempuan Naik Kelas

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 05:38 WIB 2
PFpreneur 2026 Bekali Perempuan Naik Kelas

Pertamina Foundation menggelar kurasi Program PFpreneur 2026 secara daring pada Selasa, 21 April, setelah proses seleksi administrasi yang menjaring peserta dari 8.196 pendaftar. Para peserta yang lolos memasuki tahap pra-kurasi sebagai pintu awal pembinaan wirausaha perempuan. Pada fase ini, mereka menerima pembekalan dasar usaha yang dirancang untuk memperkuat fondasi bisnis. Materi yang diberikan mencakup peran founder, karakteristik pelanggan, dan penentuan nilai produk atau usaha.

Pra-kurasi menjadi tahapan pertama dari empat proses dalam PFpreneur 2026, sebelum peserta melaju ke kurasi satu, kurasi dua, dan kurasi final. Seluruh pembelajaran dilakukan secara asinkron melalui platform e-learning PFseries, yang memuat video materi, pre-test, dan post-test. Skema ini dibuat agar peserta dapat belajar dengan lebih fleksibel sambil tetap mengikuti standar penilaian yang terukur. Program ini juga disiapkan sebagai jembatan menuju pembinaan UMKM tingkat lanjut di ekosistem Pertamina.

PFpreneur Perkuat Fondasi Usaha

Program PFpreneur dirancang untuk membantu perempuan pelaku usaha membangun pondasi bisnis yang lebih kuat sejak awal. Materi pembinaan tidak hanya menekankan kemampuan produksi, tetapi juga cara membaca kebutuhan pasar dan memahami konsumen. Pendekatan ini dipilih agar peserta tidak berhenti pada tahap semangat berwirausaha semata. Mereka diharapkan mampu menyusun usaha yang lebih siap tumbuh dan bersaing.

Manager SMEPP PT Pertamina (Persero), Fety, menegaskan bahwa wirausaha perempuan memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional. Ia menyebut PFpreneur sebagai program pembinaan dasar yang ditujukan untuk memperkuat fondasi womenpreneur sebelum masuk ke pembinaan lanjutan. Menurut dia, program ini menjadi bagian dari upaya Pertamina untuk mendampingi pelaku usaha perempuan naik kelas. Dengan dukungan yang tepat, usaha kecil berpeluang berkembang lebih berkelanjutan.

Fety menjelaskan bahwa PFpreneur tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi tahap awal sebelum peserta mengikuti program seperti Pertamina UMK Academy, Pertamina SMEXPO, dan UMK Go Global. Alur ini menunjukkan adanya jenjang pembinaan yang berkesinambungan bagi UMKM perempuan. Peserta yang memiliki kesiapan lebih baik dapat melanjutkan ke program yang membuka akses pasar lebih luas. Dengan demikian, pembinaan yang diberikan tidak berhenti pada pelatihan dasar.

Sejak dijalankan pada 2020, PFpreneur telah membina 6.325 UMKM perempuan dari berbagai sektor usaha. Bidang yang paling banyak terlibat meliputi kuliner, fesyen, kerajinan, dan agribisnis. Capaian tersebut menunjukkan bahwa program ini memiliki jangkauan yang luas dan konsisten. Pertamina juga menempatkan inisiatif ini sebagai bagian dari dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi perempuan.

Kurikulum PFpreneur dan Metode

Kurikulum PFpreneur 2026 disusun untuk menjawab kebutuhan dasar pelaku usaha yang sedang bertumbuh. Peserta dibekali penguatan mindset wirausaha agar lebih siap menghadapi tantangan bisnis. Mereka juga mempelajari analisis pasar dan konsumen sebagai dasar dalam membaca peluang. Selain itu, materi pengelolaan sumber daya manusia dan keuangan turut menjadi bagian penting dari pembelajaran.

Program ini juga memberikan materi strategi pemasaran yang relevan untuk usaha skala kecil dan menengah. Di tengah perubahan perilaku konsumen, kemampuan memasarkan produk secara tepat menjadi kunci keberlanjutan bisnis. Karena itu, peserta dilatih untuk memahami saluran promosi yang efektif dan hemat biaya. Fokus lainnya adalah peningkatan kapasitas digital dan penjualan agar usaha mampu beradaptasi.

Seluruh proses belajar dilakukan melalui platform PFseries secara asinkron. Metode ini memberi kesempatan kepada peserta untuk mengakses video pembelajaran sesuai waktu masing-masing. Setiap modul disertai penugasan yang menilai pemahaman peserta melalui pre-test dan post-test. Dengan pola tersebut, proses kurasi dapat berjalan lebih sistematis dan terukur.

Pendekatan digital ini juga membuka ruang pembelajaran yang lebih merata bagi peserta dari berbagai daerah. Mereka tidak harus hadir secara fisik, tetapi tetap dapat mengikuti materi secara lengkap. Sistem ini penting untuk menjangkau pelaku usaha perempuan yang memiliki keterbatasan waktu maupun jarak. Pada saat yang sama, model pembelajaran ini mendukung efisiensi dan konsistensi kurasi.

Kisah Peserta PFpreneur

Salah satu peserta, Rifera dari Sumatera Selatan, mengembangkan produk eco-fashion berbahan kulit kayu dan serat alami. Usahanya berawal dari skala rumahan sebelum kemudian mendapatkan pembinaan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan. Melalui dukungan itu, produknya ikut tampil dalam Pameran Produk Unggulan Sumatera Selatan 2026. Perjalanan ini menunjukkan bahwa pembinaan yang tepat dapat membuka panggung yang lebih luas.

Kisah lain datang dari Sofyani Mirah asal Yogyakarta yang memulai usaha olahan pisang tanpa pewarna dan pengawet. Setelah mengikuti program pembinaan, ia melanjutkan ke UMK Academy dan tampil dalam Trade Expo Indonesia. Usahanya kemudian menjalin kerja sama dengan pembeli dari China dan Kanada. Pencapaian tersebut memperlihatkan potensi ekspor dari produk lokal yang dikelola secara serius.

Sofyani juga meraih Platinum Award Bina Mitra UMKM 2025 sebagai pengakuan atas perkembangan usahanya. Prestasi itu menjadi bukti bahwa pembinaan berjenjang dapat memberi dampak nyata bagi pelaku usaha perempuan. Dari tahap awal yang sederhana, usaha dapat berkembang menjadi lebih profesional dan kompetitif. Pengalaman ini memperkuat pesan bahwa akses pembinaan membuka peluang pasar yang lebih besar.

Dua kisah tersebut menggambarkan keragaman latar belakang peserta PFpreneur yang berasal dari sektor usaha berbeda. Ada yang bergerak di fesyen ramah lingkungan, ada pula yang fokus pada pangan olahan. Meski berbeda bidang, keduanya menunjukkan semangat serupa untuk bertumbuh dan mandiri. Program ini pun menjadi ruang belajar sekaligus ruang pembuktian bagi perempuan pelaku usaha.

PFpreneur Dorong Kemandirian

President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S Asngari, mengatakan program ini ditujukan untuk mendorong kemandirian pelaku usaha perempuan. Ia menilai PFpreneur bukan sekadar pelatihan, melainkan sebuah ekosistem pembinaan yang dirancang agar peserta bisa tumbuh berkelanjutan. Melalui program ini, perempuan pelaku usaha di berbagai daerah diharapkan mampu menghidupi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Semangat itu disebut sejalan dengan nilai perjuangan Kartini.

Agus menegaskan bahwa Pertamina ingin hadir bukan hanya sebagai perusahaan energi, tetapi juga sebagai penggerak keberdayaan perempuan Indonesia. Karena itu, pembinaan UMKM perempuan ditempatkan sebagai bagian penting dari kontribusi sosial perusahaan. Program PFpreneur diposisikan sebagai langkah awal untuk menyiapkan peserta menghadapi pembinaan yang lebih tinggi. Dengan pola seperti itu, jalur pengembangan usaha menjadi lebih jelas dan berkesinambungan.

Keberadaan PFpreneur juga memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal. Saat pelaku usaha perempuan naik kelas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha, tetapi juga pekerja dan rantai pasok di sekitarnya. Program ini menempatkan perempuan sebagai subjek penggerak ekonomi, bukan sekadar penerima bantuan. Perspektif tersebut penting untuk membangun ekosistem UMKM yang lebih inklusif.

Dengan jumlah peserta yang terus bertambah dan jejak binaan yang semakin luas, PFpreneur menjadi salah satu program pembinaan yang relevan untuk memperkuat UMKM perempuan. Kurikulum yang terstruktur, metode belajar digital, serta jalur lanjutan yang jelas memberi nilai tambah bagi peserta. Program ini menunjukkan bahwa pembinaan dasar dapat menjadi awal dari lompatan usaha yang lebih besar. Di tengah tantangan ekonomi, dukungan semacam ini menjadi modal penting bagi kemandirian perempuan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!