Produk UMKM Tenun Kainnesia Tembus Pasar Malaysia

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 31 Mei 2026 00:00 WIB 2
Produk UMKM Tenun Kainnesia Tembus Pasar Malaysia

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar internasional, setelah Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, menerima pesanan sarung tenun senilai US$50 ribu atau sekitar Rp800 juta dari Malaysia. Keberhasilan ini menegaskan bahwa produk berbasis budaya lokal dapat menembus pasar luar negeri ketika dikelola secara konsisten dan didukung ekosistem yang tepat.

Founder sekaligus CEO Kainnesia, Nur Salam, mengatakan pertumbuhan usaha tersebut ikut mengangkat ratusan penenun dan puluhan UMKM mitra di berbagai daerah. Dukungan program Pertapreneur Aggregator, menurut dia, membuat produk tenun nusantara semakin dikenal, sekaligus membuka peluang kerja dan pasar ekspor yang lebih luas.

Kainnesia dan pasar ekspor

Kainnesia memanfaatkan kekuatan tenun Indonesia sebagai produk bernilai budaya sekaligus bernilai ekonomi. Permintaan dari Malaysia menjadi salah satu bukti bahwa produk UMKM lokal dapat bersaing di pasar regional.

Pesanan senilai US$50 ribu itu menunjukkan ada minat yang kuat terhadap kerajinan berbahan tenun. Momentum tersebut juga mempertegas bahwa kualitas, desain, dan konsistensi produksi menjadi faktor penting dalam memenangkan pasar luar negeri.

Nur Salam menyampaikan bahwa ekspansi Kainnesia tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga pada para pelaku usaha yang menjadi bagian dari rantai pasok. Saat ini, 37 UMKM mitra Kainnesia telah melibatkan lebih dari 400 tenaga kerja.

Menurut dia, pertumbuhan yang terjadi bersifat menyeluruh karena turut memperkuat kapasitas produksi para penenun. Kondisi itu membuat manfaat bisnis tidak berhenti pada satu merek, melainkan menyebar ke banyak pelaku usaha di daerah.

Dukungan program Pertapreneur

Program Pertapreneur Aggregator menjadi salah satu faktor yang mendorong perkembangan Kainnesia. Melalui program ini, pelaku UMKM mendapatkan dukungan teknis, manajerial, hingga akses pasar yang lebih luas.

Nur Salam menilai pendampingan tersebut membantu UMKM binaan naik kelas secara bertahap. Ia menegaskan bahwa hasilnya dapat dilihat dari peningkatan kapasitas usaha dan keterhubungan dengan pembeli potensial dari luar negeri.

Kunjungan Sustainability Implementation & Monitoring Pertapreneur Aggregator di Yogyakarta pada Senin, 15 September, menjadi ajang untuk melihat capaian program secara langsung. Dalam kesempatan itu, Kainnesia disebut sebagai contoh nyata keberhasilan pendekatan aggregator.

Program yang diluncurkan sejak 2022 itu telah melibatkan ratusan UMKM di berbagai daerah. Model pendampingan tersebut dinilai efektif karena menggabungkan penguatan bisnis dengan pembukaan jejaring pasar.

Tenun sebagai warisan budaya

Bagi Kainnesia, tenun bukan hanya produk komersial, tetapi juga warisan budaya yang perlu dijaga keberlanjutannya. Karena itu, perusahaan berupaya menghadirkan tenun agar tetap relevan bagi generasi muda.

Nur Salam mengatakan pihaknya ingin anak muda melihat tenun sebagai bagian dari masa depan, bukan sekadar peninggalan masa lalu. Pendekatan itu dilakukan melalui inovasi desain, pemasaran yang lebih modern, dan penyesuaian dengan tren konsumen.

Kehadiran produk tenun di berbagai ajang internasional turut memperkuat citra tersebut. Kainnesia telah tampil di Osaka World Expo Japan 2025, Korea Import Fair di Seoul, Jogja Fashion Week 2025, dan Inacraft 2025.

Rangkaian pameran itu membuka peluang pertemuan dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Dari sana, tenun Indonesia memperoleh panggung yang lebih besar untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan identitas budaya nasional.

Dampak ekonomi lokal

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut Kainnesia menjadi contoh tujuan Pertapreneur Aggregator yang berjalan dengan baik. Menurut dia, semakin banyak aggregator UMKM, semakin besar pula peluang pelaku usaha naik kelas.

Ia menambahkan bahwa penguatan UMKM dapat membuka lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam pandangannya, keberhasilan satu agregator harus memberi nilai tambah bagi banyak UMKM yang berada di dalam ekosistemnya.

Rudi berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi tentakel ekonomi yang menciptakan nilai lebih besar. Harapan itu sejalan dengan misi agar produk lokal tidak hanya laku di dalam negeri, tetapi juga mampu bertahan di pasar internasional.

Keberhasilan Kainnesia menunjukkan bahwa kolaborasi, pendampingan, dan akses pasar dapat mengubah UMKM menjadi penggerak ekonomi yang lebih kuat. Dari tenun, lahir peluang ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan rantai usaha di tingkat daerah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!