Presiden Prabowo Subianto menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disebutnya konsisten dalam tujuh tahun terakhir, namun belum sepenuhnya tercermin pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 di rapat paripurna DPR RI, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Prabowo menilai laju pertumbuhan sekitar 5 persen per tahun seharusnya membawa dampak lebih besar terhadap kemakmuran rakyat. Namun, ia mempertanyakan mengapa pada saat yang sama jumlah penduduk miskin masih bertambah dan kelas menengah justru menyusut.
Sorotan Pertumbuhan Ekonomi
Prabowo menyebut ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam tujuh tahun terakhir. Menurut dia, akumulasi pertumbuhan itu setara dengan sekitar 35 persen.
Dalam pandangannya, capaian tersebut semestinya membuat perekonomian nasional semakin kuat. Ia menyampaikan pertanyaan terbuka mengenai alasan manfaat pertumbuhan itu belum dirasakan secara merata.
Presiden menegaskan bahwa angka pertumbuhan tidak cukup jika tidak diikuti pemerataan hasil pembangunan. Ia menilai ukuran keberhasilan ekonomi harus terlihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat luas.
Data Kesejahteraan
Prabowo mengaku terkejut setelah menerima berbagai data ekonomi beberapa minggu usai dilantik. Ia menggambarkan situasi itu seperti mendapat pukulan di ulu hati.
Ia menyebut angka kemiskinan masih bergerak naik, sementara kelas menengah justru menurun. Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung bahwa kondisi tersebut tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung.
Menurutnya, fakta itu perlu dibaca secara cermat agar pemerintah memperoleh gambaran yang utuh. Ia menekankan bahwa kebijakan ekonomi harus berpijak pada data, bukan sekadar pada angka pertumbuhan.
Evaluasi Sistem Ekonomi
Prabowo meminta jawaban atas persoalan tersebut dijelaskan secara ilmiah dan matematis. Ia mengaku telah bertanya kepada partai politik, organisasi masyarakat, hingga para pakar dan guru besar.
Ia mempertanyakan bagaimana pertumbuhan yang mencapai 35 persen dalam tujuh tahun bisa diiringi penurunan kelas menengah. Baginya, kondisi itu menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem ekonomi yang berjalan.
Prabowo menilai kemungkinan besar Indonesia berada pada trayektori ekonomi yang tidak tepat. Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh agar kebijakan yang dijalankan benar-benar mendukung kemakmuran nasional.
Perbandingan Dengan Negara Lain
Dalam pidatonya, Prabowo juga membandingkan Indonesia dengan negara berkembang lain, termasuk India, Meksiko, dan Filipina. Ia menilai perbedaan utama ada pada aspek sistemik.
Menurut dia, Indonesia perlu belajar dari fakta di negara lain agar dapat memperbaiki kelemahan yang masih ada. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan sistem yang sama berisiko membuat target kemakmuran sulit tercapai.
Prabowo menutup dengan penegasan bahwa Indonesia harus segera membenahi fondasi ekonominya. Tanpa perubahan yang tepat, ia menilai bangsa ini akan kesulitan menjadi negara yang makmur.
