Pisahkan Daging dan Jeroan Kurban untuk Cegah Kontaminasi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 13:41 WIB 3
Pisahkan Daging dan Jeroan Kurban untuk Cegah Kontaminasi

Hari Raya Idul Adha identik dengan pembagian daging kurban dalam jumlah besar, namun penanganannya tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Jeroan dan daging sebaiknya dipisahkan sejak awal karena pencampuran keduanya dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.

Ketua Kelompok Substansi Pengawasan Keamanan Produk Hewan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementerian Pertanian, drh Ira Firgorita, mengingatkan agar daging, jeroan merah, dan jeroan hijau ditempatkan dalam wadah berbeda. Imbauan itu disampaikan dalam Webinar Paman Kece Seri 6: Mengolah Daging Kurban yang Aman yang diselenggarakan Badan Pengawas Obat dan Makanan pada Kamis, 21 Mei 2026.

Pisahkan Daging dan Jeroan

Menurut drh Ira, pemisahan daging dan jeroan perlu dilakukan sejak proses distribusi. Langkah ini penting agar bakteri dari jeroan tidak berpindah ke daging yang masih segar.

Ia menegaskan, daging dan jeroan memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, keduanya tidak boleh disatukan dalam satu kantong atau wadah.

Pemisahan juga membantu menjaga kebersihan selama proses pembagian kepada masyarakat. Dengan cara ini, risiko kontaminasi silang dapat ditekan sejak awal.

Selain lebih aman, penanganan yang terpisah membuat kualitas bahan pangan tetap terjaga. Masyarakat pun dapat mengolah daging kurban dengan lebih tenang.

Risiko Jeroan Hijau

Jeroan hijau adalah istilah untuk organ yang berhubungan langsung dengan sistem pencernaan hewan, seperti usus dan babat. Bagian ini memiliki potensi kontaminasi lebih tinggi dibandingkan daging biasa.

Kontak langsung dengan sisa makanan dan kotoran di dalam tubuh hewan membuat jeroan hijau lebih mudah terpapar bakteri. Kondisi ini menuntut penanganan yang lebih hati-hati sejak awal.

Karena risikonya lebih besar, jeroan hijau tidak sebaiknya diperlakukan sama dengan daging segar. Penyimpanan yang bercampur justru memperbesar peluang penyebaran bakteri.

Perlakuan terpisah juga membantu memudahkan proses pengolahan berikutnya. Dengan begitu, masyarakat dapat menyesuaikan teknik memasak sesuai jenis bahan pangan.

Langkah Aman Sebelum Dibagikan

Drh Ira menyarankan jeroan hijau direbus terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada masyarakat. Perebusan dapat membantu mengurangi risiko kontaminasi bakteri yang masih menempel pada permukaan jeroan.

Langkah ini menjadi penting terutama ketika distribusi dilakukan dalam jumlah besar. Perebusan memberi lapisan perlindungan tambahan sebelum bahan pangan diterima warga.

Meski demikian, perebusan bukan alasan untuk mengabaikan kebersihan saat penanganan. Wadah, alat distribusi, dan tangan petugas tetap harus dijaga tetap bersih.

Upaya sederhana ini dapat menekan potensi gangguan kesehatan setelah daging kurban dibagikan. Keamanan pangan pada tahap awal sangat menentukan kualitas konsumsi di rumah.

Cegah Kontaminasi Silang

Pencampuran jeroan dengan daging segar dapat memicu kontaminasi silang. Bakteri dari jeroan bisa berpindah ke daging yang sebenarnya masih bersih.

Kondisi tersebut berisiko terjadi bila keduanya disimpan dalam wadah yang sama. Risiko semakin tinggi jika suhu penyimpanan tidak terjaga dengan baik.

Karena itu, masyarakat disarankan segera memisahkan bahan pangan setelah menerima pembagian kurban. Pemisahan sejak awal akan memudahkan pengolahan dan penyimpanan di rumah.

Kebiasaan menjaga kebersihan saat menerima dan mengolah daging kurban perlu dibangun setiap tahun. Dengan penanganan yang benar, manfaat kurban dapat dirasakan tanpa mengabaikan aspek kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!