Piercing Hidung Tersangkut di Paru-Paru, Wanita Ini Dioperasi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 17:45 WIB 3
Piercing Hidung Tersangkut di Paru-Paru, Wanita Ini Dioperasi

Seorang wanita asal Spanyol mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh selama sekitar satu bulan, hingga akhirnya memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan rontgen kemudian mengungkap temuan mengejutkan, yakni sebuah anting hidung atau septum piercing berada di dalam tubuhnya. Kasus ini dialami Monica Deyanira Cabrera Barajas, yang diduga tidak menyadari perhiasan tersebut lepas saat tidur. Kondisi itu membuatnya harus menjalani operasi darurat karena benda asing tersebut berada sangat dekat dengan pembuluh darah utama.

Awalnya, Deyanira mengira batuk berkepanjangan yang dialaminya hanyalah gangguan biasa. Namun, rasa khawatir membuatnya mencari bantuan medis agar penyebab keluhan itu diketahui lebih jelas. Hasil pemeriksaan justru menunjukkan adanya risiko serius yang tidak terduga. Temuan itu menjadi pengingat bahwa gejala ringan sekalipun dapat menandakan masalah kesehatan yang lebih berbahaya.

Piercing Hidung dan Batuk

Batuk yang terus muncul selama berminggu-minggu kerap dianggap sebagai keluhan ringan. Dalam kasus Deyanira, gejala tersebut ternyata berkaitan dengan benda asing yang masuk ke tubuhnya. Kondisi seperti ini dapat terjadi tanpa disadari, terutama jika benda kecil tertelan atau terhirup. Karena itu, pemeriksaan medis menjadi langkah penting saat keluhan tidak kunjung membaik.

Menurut kisah yang dibagikan melalui media sosial, Deyanira sempat tidak menyadari piercing miliknya hilang. Ia menduga bagian kecil anting tersebut terlepas saat dirinya tidur telentang. Dari sana, benda itu diduga masuk ke tenggorokan dan berlanjut hingga ke paru-paru. Dugaan ini kemudian diperkuat oleh hasil pemeriksaan dokter.

Piercing yang masuk ke saluran napas bisa memicu batuk, nyeri, hingga infeksi. Pada beberapa kasus, benda asing juga dapat berpindah ke lokasi yang lebih berbahaya di dalam tubuh. Karena ukurannya kecil, keberadaannya tidak selalu menimbulkan gejala yang langsung terasa. Akibatnya, pasien baru menyadari masalah saat keluhan sudah berlangsung lama.

Kasus ini menunjukkan pentingnya mengenali perubahan tubuh yang tidak biasa. Batuk berkepanjangan, sesak napas, atau nyeri dada sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan rontgen atau evaluasi medis lanjutan dapat membantu menemukan penyebab yang tersembunyi. Dengan penanganan cepat, risiko komplikasi dapat ditekan sejak awal.

Temuan Dokter yang Mengejutkan

Hasil rontgen yang diterima dokter memperlihatkan adanya anting septum di area dalam tubuh Deyanira. Temuan itu mengejutkan karena benda asing tersebut tidak berada di tempat semestinya. Dokter kemudian menilai posisinya sangat berbahaya dan membutuhkan tindakan segera. Situasi ini membuat tim medis bersiap melakukan prosedur darurat.

Yang membuat kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan, posisi anting berada sangat dekat dengan aorta. Aorta merupakan pembuluh darah utama yang berfungsi menyalurkan darah ke seluruh tubuh. Jaraknya disebut hanya sekitar 0,5 milimeter, sehingga risiko komplikasi menjadi sangat tinggi. Sedikit saja pergeseran dapat memicu keadaan yang mengancam nyawa.

Dokter menilai benda asing itu berpotensi menyebabkan perdarahan hebat bila mengenai pembuluh darah utama. Selain itu, ada kemungkinan paru-paru mengalami kerusakan serius jika benda tersebut bergeser. Kondisi tersebut juga dapat menimbulkan infeksi dan peradangan pada jaringan sekitar. Karena itulah, penanganan tidak bisa ditunda lebih lama.

Temuan ini menjadi bukti bahwa benda kecil sekalipun dapat menimbulkan ancaman besar. Dalam dunia medis, benda asing yang masuk ke organ vital selalu dipandang sebagai kasus serius. Pemeriksaan pencitraan seperti rontgen berperan penting untuk mengetahui lokasi dan tingkat bahayanya. Dari hasil tersebut, dokter dapat menentukan langkah penanganan yang paling aman.

Operasi Darurat Berlapis

Deyanira kemudian harus menjalani operasi darurat untuk mengeluarkan piercing dari tubuhnya. Pada awalnya, prosedur diperkirakan berlangsung singkat dan tidak terlalu rumit. Namun, kenyataan di ruang operasi berbeda dari perkiraan awal. Benda tersebut ternyata sudah menempel pada jaringan tubuh.

Kondisi itu membuat operasi pertama gagal dilakukan sepenuhnya. Tim medis kemudian harus menyiapkan tindakan kedua yang lebih kompleks dan lebih hati-hati. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi karena lokasi benda sangat dekat dengan aorta. Setiap langkah harus dihitung agar tidak menimbulkan luka tambahan.

Operasi kedua akhirnya berjalan lancar dan piercing berhasil diangkat dari tubuh Deyanira. Keberhasilan ini menjadi titik penting dalam proses pemulihannya. Dokter menyebut dirinya sangat beruntung karena situasinya bisa berakhir tanpa komplikasi fatal. Jika ada keterlambatan sedikit saja, hasilnya bisa jauh lebih buruk.

Kasus ini memperlihatkan pentingnya respons cepat saat benda asing terdeteksi di dalam tubuh. Operasi darurat sering kali menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah kerusakan organ vital. Setelah tindakan berhasil, pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada masalah susulan. Langkah itu juga membantu menilai kondisi jaringan yang sebelumnya terdampak.

Trauma setelah Kejadian

Setelah melewati pengalaman tersebut, Deyanira mengaku tidak ingin kembali menggunakan piercing. Ia menyebut dirinya trauma karena kejadian itu nyaris merenggut nyawanya. Sebelumnya, ia memang menyukai aksesori tersebut sebagai bagian dari penampilan. Namun, pengalaman medis itu mengubah pandangannya secara drastis.

Rasa takut yang dialaminya bukan tanpa alasan, sebab ancaman yang dihadapi memang sangat serius. Ancaman terhadap aorta dan paru-paru dapat berujung pada kondisi fatal. Karena itu, wajar jika kejadian tersebut meninggalkan bekas psikologis yang kuat. Pengalaman seperti ini dapat membuat seseorang lebih berhati-hati terhadap penggunaan aksesori tubuh.

Di sisi lain, kisah Deyanira menjadi peringatan bagi pengguna piercing agar lebih waspada terhadap kondisi fisik mereka. Jika aksesori terasa longgar atau hilang, pemeriksaan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Jangan mengabaikan gejala seperti batuk, nyeri tenggorokan, atau sesak napas. Penanganan cepat dapat mencegah risiko yang lebih besar.

Kasus ini juga menegaskan bahwa tubuh dapat memberi sinyal saat ada gangguan yang tidak terlihat. Gejala sederhana bisa menjadi petunjuk awal dari masalah yang lebih kompleks. Karena itu, pemeriksaan medis tidak boleh ditunda ketika keluhan berlangsung lama. Sikap waspada dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah komplikasi serius.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!