Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000, Tekanan Bisa Berlanjut

Forex & Saham Gilang Nabaris 02 Juni 2026 18:51 WIB 2
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000, Tekanan Bisa Berlanjut

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dan berpeluang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dalam waktu dekat. Analis menilai pelemahan mata uang Garuda dapat berlanjut hingga akhir pekan ini atau pekan depan, seiring kuatnya permintaan dolar di pasar.

Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bahkan berpotensi terdepresiasi hingga Rp18.200 per dolar AS jika tekanan pasar tidak mereda. Senada, Bhima Yudhistira menilai level Rp18.000 bisa menjadi pintu menuju pelemahan yang lebih dalam, termasuk ke area Rp19.000.

Tekanan rupiah kian besar

Ibrahim menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor teknikal, melainkan juga persoalan struktural dalam ekonomi nasional. Salah satu yang ia soroti adalah defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi.

Menurutnya, kebutuhan impor minyak mentah menjadi beban besar bagi pemerintah karena harga minyak dunia bergerak di atas asumsi APBN. Kondisi itu membuat kebutuhan dolar meningkat, sementara pasokan valuta asing di dalam negeri tidak cukup kuat.

Ia menambahkan, tekanan juga datang dari kewajiban dividen perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Ketika dividen dibagikan kepada investor luar negeri, permintaan dolar pun naik dan memperlemah rupiah lebih jauh.

Faktor energi dan dividen

Dalam penjelasannya, Ibrahim menyebut asumsi harga minyak dalam APBN berada di kisaran US$70 per barel dengan kurs Rp16.500. Namun, situasi saat ini menunjukkan harga minyak sudah melampaui US$90, sementara rupiah berada jauh di atas proyeksi awal.

Ia menilai kondisi tersebut memaksa pemerintah mengeluarkan lebih banyak dolar untuk menutup kebutuhan impor. Beban itu semakin berat karena sebagian besar impor minyak mentah berkaitan dengan subsidi energi yang harus ditanggung negara.

Di sisi lain, kewajiban pembagian dividen oleh emiten asing turut menambah tekanan di pasar valas domestik. Menurut Ibrahim, kombinasi dua faktor itu menciptakan kegaduhan tersendiri bagi stabilitas rupiah.

Emas dan sentimen investor

Ibrahim juga melihat pergerakan harga emas dunia masih fluktuatif di tengah ketidakpastian global. Saat dolar menguat terhadap rupiah, sebagian investor cenderung memindahkan dana dari emas ke dolar untuk mengejar keuntungan jangka pendek.

Ia menjelaskan, pergeseran aset itu membuat minat terhadap logam mulia dan emas digital ikut tertekan. Dalam kondisi seperti ini, indeks dolar dinilai menjadi pilihan yang lebih menarik dibanding emas bagi sebagian pelaku pasar.

Perubahan arus dana tersebut memperkuat tekanan pada rupiah karena permintaan dolar semakin tinggi. Akibatnya, mata uang Garuda menjadi lebih rentan terhadap pelemahan dalam perdagangan harian.

Kebijakan dan prospek pasar

Bhima Yudhistira menilai sentimen negatif investor asing juga dipicu kebijakan pemerintah yang dinilai bergerak terlalu cepat. Salah satu sorotan utamanya adalah rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI.

Ia menilai kebijakan itu memang bertujuan menekan praktik transfer pricing dan under invoicing. Namun, pelaksanaannya yang cepat tanpa sosialisasi memadai dinilai menimbulkan ketidakpastian di mata pelaku usaha.

Bhima juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap defisit APBN dan efektivitas sejumlah program populis pemerintah. Menurutnya, jika tekanan fiskal dan sentimen investor tidak membaik, pelemahan rupiah berisiko berlanjut ke level yang lebih dalam.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!