PGTC 2026 Didorong Dekatkan Kampus dan Industri Energi

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 22 Mei 2026 04:54 WIB 7
PGTC 2026 Didorong Dekatkan Kampus dan Industri Energi

Persiapan masa depan energi tidak hanya bergantung pada pembangunan kilang, jaringan distribusi, dan teknologi baru. Tantangan yang sama besarnya adalah menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengelolanya. Dari kebutuhan itu, Pertamina Goes to Campus 2026 hadir membawa industri lebih dekat ke kampus.

Program bertema Energizing Acceleration for Future Impact ini resmi dimulai di Institut Teknologi Bandung, Kamis (21/5). PGTC 2026 dirancang sebagai ruang pertemuan antara mahasiswa, akademisi, dan pelaku industri agar ide, riset, serta talenta muda tidak berhenti di ruang kelas.

Jembatan Kampus dan Industri

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita menjelaskan bahwa PGTC bukan program yang lahir tiba-tiba. Pertamina sudah menjalin pendekatan ke dunia kampus sejak awal dekade 2000-an. Program itu kemudian dibakukan menjadi identitas PGTC pada 2012.

Menurut Arya, Pertamina ingin membangun ekosistem yang mempertemukan pendidikan tinggi dengan kebutuhan masa depan sektor energi. Upaya ini dipandang penting karena ketahanan energi tidak hanya berbicara soal pasokan hari ini. Persoalan itu juga menyangkut kesiapan generasi yang akan mengelola energi Indonesia ke depan.

Ia menyebut PGTC 2026 digelar dalam format roadshow ke lima kota. Setelah pembukaan di ITB, rangkaian kegiatan akan berlanjut ke sejumlah kampus lain yang masih difinalisasi. Sejumlah lokasi disebut mengarah ke wilayah Sumatera Barat dan Sulawesi.

Pertamina juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi dan ITB atas dukungan terhadap pembukaan program tersebut. Kehadiran kampus dalam program ini dinilai menjadi bagian dari upaya memperluas dampak sosial dan edukatif perusahaan. Dengan demikian, interaksi industri dan mahasiswa dapat berlangsung lebih terstruktur.

Ruang Belajar Lebih Dekat

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Irwan Meilano menilai kolaborasi seperti PGTC memberi manfaat langsung bagi mahasiswa. Mereka dapat mengenal dunia industri lebih awal, bukan hanya melalui teori di kelas. Pengalaman itu membuka perspektif yang lebih nyata tentang kebutuhan sektor energi.

Irwan juga menilai dosen dan sivitas akademika memperoleh manfaat serupa. Mereka dapat melihat langsung bagaimana industri melakukan riset dan mengembangkan kebutuhan bisnis. Dari situ, peluang kerja sama penelitian menjadi lebih terbuka.

Selain itu, mahasiswa juga bisa memahami kebutuhan dunia kerja sejak dini. Paparan terhadap industri membantu mereka melihat jalur magang hingga pengalaman profesional di Pertamina Group. Hal ini dinilai penting untuk memperkuat kesiapan karier lulusan.

ITB saat ini bahkan tengah menjajaki kerja sama dengan Pertamina untuk menyusun kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan industri. Irwan menilai tantangan industri kerap bergerak lebih cepat daripada program pendidikan. Karena itu, penyelarasan kurikulum bersama dinilai menjadi langkah strategis.

Dukungan Pemerintah

Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Junaidi Khotib menilai PGTC sebagai contoh konkret pertemuan kampus dan industri. Ia menekankan pentingnya ruang yang setara untuk kedua pihak dalam membangun kolaborasi. Model seperti ini dinilai relevan untuk menjawab perubahan kebutuhan zaman.

Menurut Junaidi, dunia pendidikan tinggi harus memastikan lulusan tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Keterlibatan industri sejak awal di lingkungan kampus dapat membantu mahasiswa memahami arah perkembangan sektor energi. Dengan begitu, mereka tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga memahami konteks praktik.

Ia menegaskan dukungan kementerian terhadap sinergi yang mempertemukan akademisi dan industri secara lebih intensif. Skema tersebut dinilai mampu memperluas pemahaman mahasiswa mengenai peluang karier dan kebutuhan lapangan kerja. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperkuat daya saing lulusan perguruan tinggi.

Junaidi juga berharap cakupan program seperti PGTC dapat diperluas ke lebih banyak kampus. Menurutnya, pelaksanaan di Bandung berpotensi menghadirkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, tidak hanya dari ITB. Keterlibatan holding dan subholding Pertamina turut membuka ruang interaksi yang lebih luas bagi mahasiswa dan akademisi.

Arah Baru Talenta Energi

PGTC 2026 menunjukkan bahwa penguatan sektor energi tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia. Industri membutuhkan talenta yang tidak hanya paham teknologi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan. Karena itu, kampus dan perusahaan perlu berjalan beriringan.

Melalui pertemuan langsung dengan mahasiswa, Pertamina dapat memperkenalkan tantangan nyata di sektor energi. Di sisi lain, mahasiswa memperoleh gambaran tentang kompetensi yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia kerja. Pertemuan itu menjadi ajang saling memahami kebutuhan masing-masing pihak.

Kehadiran program ini juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan energi nasional. Kurikulum, riset, dan pengalaman lapangan perlu diselaraskan agar lulusan lebih siap menghadapi dinamika industri. Upaya ini diharapkan mampu menghasilkan talenta yang kompetitif.

Dengan format roadshow dan pelibatan berbagai pihak, PGTC 2026 diarahkan menjadi ruang pembelajaran yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya memperkuat hubungan Pertamina dengan kampus, tetapi juga memperluas kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat masa depan energi secara lebih utuh. Pada akhirnya, kualitas lulusan menjadi fondasi penting bagi ketahanan energi Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!