Pertamina Foundation memulai kurasi program PFpreneur 2026 secara daring pada Selasa, 21 April, dengan peserta yang lolos seleksi administrasi dari total 8.196 pendaftar. Tahap pra-kurasi ini dirancang untuk membekali pelaku usaha perempuan dengan dasar-dasar bisnis sebelum melangkah ke pembinaan yang lebih lanjut. Program tersebut sekaligus menegaskan fokus Pertamina dalam memperkuat fondasi UMKM perempuan di Indonesia.
Peserta pada tahap awal akan mengikuti pembelajaran asinkron melalui platform e-learning PFseries, yang memuat video materi, pre-test, dan post-test. Kurikulum yang disiapkan mencakup peran founder, karakteristik pelanggan, penentuan nilai produk, hingga penguatan mindset wirausaha dan pengelolaan usaha.
Pembekalan PFpreneur untuk peserta
Pra-kurasi menjadi pintu awal dari empat tahapan dalam PFpreneur 2026, yakni pra-kurasi, kurasi satu, kurasi dua, dan kurasi final. Pada tahap ini, peserta diarahkan memahami fondasi usaha secara sistematis agar siap menghadapi seleksi berikutnya.
Materi yang diberikan tidak hanya menyentuh aspek motivasi, tetapi juga analisis pasar dan konsumen. Selain itu, peserta dibekali pemahaman tentang pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, strategi pemasaran, serta peningkatan kapasitas digital dan penjualan.
Skema pembelajaran daring dipilih agar peserta dapat belajar secara fleksibel tanpa meninggalkan aktivitas usaha sehari-hari. Dengan cara ini, PFpreneur diharapkan dapat menjangkau lebih banyak perempuan pelaku usaha dari berbagai daerah.
Fokus pada kemandirian perempuan
Manager SMEPP PT Pertamina, Fety, mengatakan program ini disusun untuk memperkuat fondasi pelaku usaha perempuan sebelum masuk ke tahap pembinaan lanjutan. Ia menilai wirausaha perempuan memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional.
Menurut Fety, PFpreneur dirancang sebagai pembinaan dasar yang akan membantu womenpreneur naik kelas. Setelah itu, peserta berpeluang melanjutkan pembinaan ke program seperti UMK Academy, SMEXPO, dan UMK Go Global.
Sejak berjalan pada 2020, PFpreneur telah membina 6.325 UMKM perempuan dari berbagai sektor. Bidang usaha yang terlibat mencakup kuliner, fesyen, kerajinan, hingga agribisnis.
Jejak usaha para peserta
Sejumlah peserta menunjukkan perkembangan usaha yang signifikan setelah mengikuti program ini. Rifera dari Sumatera Selatan, misalnya, mengembangkan produk eco-fashion berbahan kulit kayu dan serat alami.
Usaha yang semula rumahan itu kini menjadi binaan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan. Rifera juga ikut tampil dalam Pameran Produk Unggulan Sumatera Selatan 2026.
Peserta lain, Sofyani Mirah dari Yogyakarta, memulai usaha olahan pisang tanpa pewarna dan pengawet. Setelah mengikuti program, ia melanjutkan ke UMK Academy, tampil di Trade Expo Indonesia, serta menjalin kerja sama dengan pembeli dari China dan Kanada.
Ekosistem pembinaan berkelanjutan
President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S Asngari, mengatakan PFpreneur bukan sekadar program pelatihan. Menurut dia, program ini merupakan ekosistem pembinaan agar perempuan pelaku usaha bisa mandiri dan memberi dampak bagi lingkungan sekitarnya.
Agus menegaskan bahwa semangat PFpreneur sejalan dengan nilai Kartini, yakni mendorong perempuan menjadi penggerak ekonomi keluarga dan masyarakat. Karena itu, pembinaan tidak berhenti pada pelatihan dasar, melainkan diarahkan agar peserta memiliki daya saing yang lebih kuat.
Pertamina menilai kehadiran PFpreneur menjadi bukti dukungan perusahaan terhadap pemberdayaan ekonomi perempuan. Melalui program ini, Pertamina ingin hadir bukan hanya sebagai perusahaan energi, tetapi juga sebagai penggerak keberdayaan UMKM perempuan Indonesia.
