Pertamina UMK Academy 2025 Latih UMK Naik Kelas

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 14:31 WIB 7
Pertamina UMK Academy 2025 Latih UMK Naik Kelas

Ratusan pelaku usaha mikro dan kecil mengikuti pelatihan tematik dalam program Pertamina UMK Academy 2025 yang digelar untuk memperluas pengetahuan, keterampilan, dan daya saing usaha di berbagai sektor. Program ini dirancang agar pelaku UMK dapat naik kelas lebih cepat, sekaligus memiliki bekal yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, pelatihan itu disusun berdasarkan sektor usaha, mulai dari craft, furniture, jewelry, food and beverage, agribisnis, jasa, teknologi, fashion, hingga wastra. Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan teori, tetapi juga praktik langsung bersama mentor ahli di bidang masing-masing.

Pelatihan UMK Tematik

Pertamina menghadirkan pelatihan tematik agar peserta memperoleh materi yang lebih spesifik sesuai bidang usaha. Baron menegaskan pendekatan ini membuat pembelajaran lebih tepat sasaran dan mudah diterapkan.

Dalam kelas yang disesuaikan dengan sektor usaha, peserta dapat membahas tantangan yang benar-benar mereka hadapi. Pelaku fesyen, misalnya, mendapatkan pembekalan mengenai tren mode, manajemen rantai pasok, dan pengembangan produk.

Skema pelatihan tersebut juga memberi ruang bagi peserta untuk berdiskusi langsung dengan mentor. Dengan begitu, UMK tidak hanya menyerap informasi, tetapi juga memahami cara menggunakannya dalam operasional usaha.

Pertamina menilai pembekalan yang relevan akan membantu pelaku UMK tumbuh lebih cepat. Langkah ini sekaligus mendorong lahirnya usaha yang lebih siap bersaing di sektor masing-masing.

Mentor Hadirkan Wawasan Praktis

Sejumlah pemateri profesional dihadirkan untuk memperkuat kualitas pelatihan. Mereka berasal dari latar belakang usaha dan industri kreatif yang beragam.

Di antaranya adalah pendiri dan Direktur Kreatif Pyo Jewelry, Luthfia Fataty, pemilik Panda Food Stenly Hendi Avanda, serta pendiri Sirtanio Organik Indonesia dan Satu Atap Coworking Space Surabaya, Ahmad Tessario. Hadir pula pengamat mode sekaligus pendiri Indonesia Fashion Chamber, Lisa Fitria.

Luthfia memberikan materi untuk sektor craft, furniture, dan jewelry dengan menyoroti arah tren pasar tahun 2026. Sementara itu, Stenly membahas distribusi, promosi, dan pengembangan produk F&B, termasuk pentingnya memaksimalkan media sosial.

Materi yang dibawa para mentor dinilai memberi perspektif baru bagi peserta. Pendekatan praktis itu membantu pelaku usaha memahami strategi yang bisa langsung diterapkan dalam bisnis harian.

Peserta Dapat Manfaat Nyata

Sejumlah peserta mengaku memperoleh manfaat langsung dari pelatihan tematik tersebut. Mereka menilai materi yang disampaikan membuka wawasan baru tentang pengelolaan usaha.

Novita Hermawan, pemilik Agrominafiber, mengatakan pelatihan itu memberinya pemahaman tentang tren desain global, manajemen bisnis, dan pemasaran digital. Ia menilai bekal itu penting untuk memperkuat daya saing produk UMKM di pasar internasional.

Dimita Agustin, pemilik Dara Baro, juga merasakan manfaat serupa setelah mengikuti kelas fesyen. Ia memahami cara menghitung ongkos produksi secara lebih efisien serta membedakan katalog, lookbook, dan line sheet dalam pemasaran.

Achmad Em, pemilik Kopi Kalimantan, mendapatkan wawasan baru mengenai strategi pengembangan brand, inovasi produk, dan pengelolaan sumber daya manusia. Ia meyakini pengetahuan tersebut akan memperkuat posisinya di pasar kopi yang semakin kompetitif.

Dorong Ekonomi Inklusif

Program UMK Academy 2025 disebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat industri kreatif dan mendorong kewirausahaan. Inisiatif ini juga dipandang sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem usaha yang lebih berdaya saing.

Pertamina menegaskan bahwa penguatan kapasitas UMK menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dengan bekal yang lebih baik, pelaku usaha diharapkan mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.

Program pelatihan tematik juga diposisikan sebagai jembatan agar UMK lebih siap menghadapi perubahan pasar. Di tengah persaingan yang makin ketat, kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha.

Melalui dukungan pembinaan yang terarah, Pertamina berharap lebih banyak UMK dapat naik kelas dan memperluas pasar. Sasaran akhirnya adalah lahirnya pelaku usaha yang tangguh, inovatif, dan mampu menjadi penggerak ekonomi daerah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!