Pertamina UMK Academy 2025 Latih Ratusan Pelaku Usaha

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 27 Mei 2026 06:04 WIB 3
Pertamina UMK Academy 2025 Latih Ratusan Pelaku Usaha

Ratusan pelaku usaha mikro dan kecil mengikuti pelatihan tematik dalam program Pertamina UMK Academy 2025. Program ini dirancang untuk memperluas pengetahuan, mengasah keterampilan, dan meningkatkan daya saing peserta di berbagai sektor usaha. Pertamina menilai pendekatan berbasis sektor membuat pembelajaran lebih relevan dengan kebutuhan pelaku UMK.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan perusahaan terus berinovasi agar program tersebut membantu pelaku usaha naik kelas lebih cepat. Pelatihan diberikan sesuai bidang usaha peserta, mulai dari craft, furniture, jewelry, food and beverage, agribisnis, jasa, teknologi, fashion, hingga wastra. Selain teori, peserta juga mendapat praktik langsung bersama mentor ahli.

Pelatihan UMK yang Lebih Spesifik

Pertamina menyiapkan pelatihan tematik agar peserta memperoleh materi yang sesuai dengan sektor usaha masing-masing. Baron menjelaskan bahwa kebutuhan pelaku UMK berbeda, sehingga pembelajaran umum saja dinilai belum cukup. Dengan model ini, peserta dapat memahami tantangan usaha secara lebih terarah.

Untuk kelas fesyen, misalnya, peserta mendapatkan materi tentang tren mode dan manajemen rantai pasok. Di sektor lain, pembahasan disesuaikan dengan karakter bisnis, termasuk pengembangan produk dan strategi pasar. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pelaku usaha lebih fokus dalam memperkuat fondasi bisnisnya.

Baron menegaskan, pelatihan tidak hanya berisi teori, melainkan juga praktik yang mendukung penerapan di lapangan. Para mentor berasal dari kalangan profesional yang memiliki pengalaman di bidangnya. Dengan demikian, materi yang disampaikan lebih dekat dengan kebutuhan industri.

Melalui pelatihan ini, Pertamina berharap UMK mampu berkembang sesuai sektornya dan memiliki bekal untuk bersaing lebih kuat. Perusahaan menilai daya saing yang baik menjadi modal penting untuk mendorong pelaku usaha menjadi pemimpin pasar di bidangnya. Upaya itu juga sejalan dengan misi perusahaan dalam mendukung penguatan ekonomi kerakyatan.

Mentor Profesional Berbagi Wawasan

Sejumlah pemateri hadir untuk memperkaya wawasan peserta melalui pengalaman praktis mereka. Di antaranya pendiri dan Direktur Kreatif Pyo Jewelry Luthfia Fataty, pemilik Panda Food Stenly Hendi Avanda, serta Ahmad Tessario yang bergerak di bidang beras organik dan ruang kerja bersama. Pengamat mode sekaligus pendiri Indonesia Fashion Chamber Lisa Fitria juga turut berbagi pandangan.

Luthfia memberikan pelatihan bagi sektor craft, furniture, dan jewelry dengan menyoroti arah tren pasar tahun 2026. Materi tersebut memberi gambaran kepada peserta mengenai peluang desain dan permintaan konsumen ke depan. Pengetahuan ini diharapkan membantu pelaku usaha menyiapkan produk yang lebih adaptif.

Sementara itu, Stenly Hendi Avanda membahas distribusi, promosi, dan pengembangan produk untuk sektor makanan dan minuman. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi yang efektif. Dalam pasar yang kompetitif, kemampuan membangun visibilitas dinilai sangat menentukan.

Materi yang dibawakan para mentor memperlihatkan bahwa pertumbuhan UMK tidak hanya bergantung pada kualitas produk. Strategi pemasaran, pemahaman tren, dan kemampuan membaca pasar juga menjadi faktor utama. Karena itu, pendekatan tematik dianggap lebih tepat untuk menjawab kebutuhan peserta yang beragam.

Peserta Dapat Wawasan Baru

Sejumlah peserta mengaku merasakan manfaat langsung dari pelatihan yang diikuti. Novita Hermawan, pemilik Agrominafiber, mengatakan pelatihan membuka wawasannya tentang tren desain global, manajemen bisnis, dan pemasaran digital. Menurut dia, materi tersebut relevan untuk mendorong produk lokal agar lebih kompetitif.

Novita menilai pelatihan itu mendukung peningkatan kapasitas UMKM agar mampu menghasilkan produk berdaya saing internasional. Ia menyebut wawasan baru tersebut penting untuk memperluas pasar dan memperkuat posisi usaha. Bagi pelaku UMK, pengetahuan semacam ini menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan permintaan konsumen.

Peserta lain, Dimita Agustin dari Dara Baro, mengaku lebih memahami cara menghitung ongkos produksi secara efisien setelah mengikuti kelas fesyen. Ia juga mendapat pemahaman mengenai perbedaan katalog, lookbook, dan line sheet beserta penerapannya dalam pemasaran. Penjelasan itu disebutnya sangat membantu dalam pengembangan merek.

Dimita menilai kelas tematik tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga membuka peluang baru untuk memperluas brand yang ia bangun. Dengan pemahaman yang lebih baik, ia merasa lebih siap menyusun strategi bisnis yang lebih tepat sasaran. Hal serupa dirasakan peserta lain yang ingin meningkatkan profesionalitas usaha mereka.

Dorong Daya Saing UMKM

Achmad Em, pemilik Kopi Kalimantan, juga memperoleh wawasan baru dari kelas tematik food and beverage. Ia mendapatkan materi tentang strategi pengembangan merek, inovasi produk, dan pengelolaan sumber daya manusia. Bagi dia, bekal tersebut penting di tengah persaingan pasar kopi yang semakin ketat.

Achmad meyakini pengetahuan yang diperoleh akan membantu meningkatkan daya saing produknya di pasar. Ia menilai pelaku usaha perlu terus belajar agar mampu merespons perubahan tren dan selera konsumen. Dengan begitu, usaha yang dijalankan tidak tertinggal oleh kompetitor.

Pertamina menyebut Program UMK Academy 2025 sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat industri kreatif dan mendorong kewirausahaan. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Fokus tersebut diharapkan memberi dampak nyata bagi pengembangan UMK di berbagai daerah.

Melalui pelatihan tematik, Pertamina ingin memastikan pelaku usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang lebih cepat. Penguatan kapasitas, jejaring, dan pemahaman pasar menjadi unsur penting untuk mendorong UMK naik kelas. Program ini pun diposisikan sebagai salah satu langkah konkret dalam memperluas kontribusi ekonomi nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!