Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru di Era AI

Teknologi Moh. Royhan Nahado 27 Mei 2026 07:24 WIB 4
Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru di Era AI

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan penguatan kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa peran satelit kini tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial. Menurut dia, satelit telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional.

Prospek Industri Satelit Nasional

Risdianto mengatakan industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Saat ini, satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga mendukung ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional. Ia menyampaikan pandangan itu di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi modal strategis dalam pengembangan teknologi berbasis satelit. Dengan lebih dari 17.000 pulau, kebutuhan konektivitas di berbagai wilayah terus meningkat secara signifikan. Kondisi itu membuat satelit semakin relevan untuk menjembatani kesenjangan layanan digital.

Indonesia juga dinilai memiliki pasar yang besar, populasi yang luas, dan pengalaman industri yang cukup matang. Kombinasi tersebut membuka ruang bagi pertumbuhan layanan satelit yang lebih kompetitif. Dalam pandangan Risdianto, peluang ini harus dimanfaatkan melalui strategi yang terarah.

Ia menilai pengembangan industri satelit nasional perlu ditopang integrasi antara industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah. Menurut dia, tanpa kolaborasi yang kuat, pertumbuhan sektor ini akan sulit berkelanjutan. Karena itu, dibutuhkan pendekatan yang konsisten dan saling terhubung.

Satelit dan Kedaulatan Digital

Peran satelit juga dipandang semakin strategis untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Teknologi ini berpotensi memperluas konektivitas di wilayah 3T, memperkuat ketahanan nasional, serta mendukung konektivitas maritim. Selain itu, satelit juga penting dalam mitigasi bencana yang kerap terjadi di Indonesia.

Risdianto menilai isu kedaulatan digital kini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam konteks tersebut, kemampuan nasional dalam mengelola teknologi satelit menjadi semakin penting. Hal ini diperlukan agar industri domestik dapat tumbuh sehat di tengah persaingan global.

Menurut dia, yang perlu dijaga adalah kapasitas nasional dari sisi teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia. Ketiga unsur itu dianggap menjadi fondasi utama bagi penguatan industri satelit. Jika salah satunya lemah, daya saing nasional ikut terpengaruh.

Ia menambahkan, penguatan kapasitas nasional bukan hanya soal pengadaan perangkat, tetapi juga penguasaan ekosistem. Dengan pondasi yang kuat, Indonesia dapat menjaga kepentingan strategisnya di ruang digital. Langkah ini dinilai penting untuk menghadapi perubahan lanskap teknologi global.

Integrasi AI dan Ekosistem

Ke depan, Risdianto memprediksi teknologi AI, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan semakin terhubung dalam satu ekosistem digital terpadu. Integrasi itu diperkirakan akan menciptakan peluang baru bagi industri. Namun, peluang tersebut juga menuntut kesiapan infrastruktur dan regulasi yang lebih adaptif.

Menurut dia, perkembangan tersebut akan mengubah cara layanan digital dibangun dan dioperasikan. Satelit tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem konektivitas yang lebih luas. Karena itu, integrasi antarteknologi harus disiapkan sejak dini.

Kebutuhan investasi juga akan meningkat seiring berkembangnya ekosistem digital terpadu. Di sisi lain, talenta yang memahami teknologi satelit dan AI masih perlu diperkuat. Tanpa sumber daya manusia yang memadai, percepatan industri akan berjalan lambat.

Risdianto menekankan bahwa adaptasi menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan regional. Ia melihat masa depan sektor satelit sangat bergantung pada kemampuan industri membaca perubahan teknologi. Dengan kesiapan yang tepat, Indonesia berpeluang menjadi pemain penting di Asia Pasifik.

APSAT 2026 Jadi Wadah

Isu-isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 atau APSAT 2026. Kegiatan yang diselenggarakan ASSI itu berlangsung di Fairmont Jakarta pada 12-13 Mei 2026. Forum ini menjadi ruang temu bagi pelaku industri dan pemangku kepentingan.

Konferensi internasional edisi ke-22 tersebut mengangkat tema The Future of Satellite Ecosystems: Importance of Sovereignty, AI, Innovation and Technological Integration. Tema itu mencerminkan fokus utama industri pada kedaulatan, inovasi, dan integrasi teknologi. Pembahasan tersebut relevan dengan kebutuhan pengembangan satelit nasional.

Acara itu dihadiri berbagai pihak, mulai dari pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, hingga mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik. Kehadiran para pemangku kepentingan menunjukkan besarnya perhatian terhadap masa depan ekosistem satelit. Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu poin penting yang dibahas.

Sejumlah pejabat turut hadir dalam forum tersebut, antara lain Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Kehadiran mereka memperkuat sinyal bahwa industri satelit memiliki posisi strategis dalam agenda digital nasional. Forum ini juga diharapkan menghasilkan arah pengembangan yang lebih konkret.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!