Rien Wartia Trigina atau Erin memenuhi panggilan penyidik kepolisian terkait laporan dugaan penganiayaan yang diajukan mantan asisten rumah tangganya, Herawati. Pemeriksaan berlangsung di Polres Metro Jakarta Selatan pada Jumat malam, 22 Mei 2026, dengan pendampingan kuasa hukum. Dalam agenda itu, Erin menjalani Berita Acara Pemeriksaan selama beberapa jam dan menjawab 22 pertanyaan dari penyidik.
Selain diperiksa, pihak Erin juga menyerahkan barang bukti berupa satu unit recorder CCTV yang merekam kejadian di rumahnya secara utuh. Kuasa hukum menilai rekaman tersebut penting untuk membantah tuduhan penganiayaan, termasuk dugaan mencekik, mencakar, dan menodongkan pisau. Mereka menegaskan proses hukum akan dihormati sambil menunggu penilaian penyidik atas seluruh bukti yang ada.
Kasus Erin di Kepolisian
Erin datang ke kepolisian dengan didampingi tim pengacara untuk memenuhi agenda pemeriksaan yang telah dijadwalkan. Kehadirannya disebut sebagai bentuk sikap kooperatif dalam mengikuti proses hukum yang sedang berjalan. Selama pemeriksaan, penyidik menggali kronologi peristiwa yang menjadi dasar laporan Herawati.
Kuasa hukum menyampaikan bahwa klien mereka menjawab seluruh pertanyaan dengan terbuka. Pemeriksaan berlangsung beberapa jam dan menjadi bagian dari tahapan resmi penyidikan. Pihak Erin menilai langkah itu penting agar posisi hukum kliennya dapat dijelaskan secara utuh.
Dalam keterangan terpisah, kuasa hukum menegaskan tidak ada upaya menghindari proses hukum. Mereka menyebut Erin berkomitmen mengikuti setiap prosedur yang diminta penyidik. Sikap itu, menurut mereka, menunjukkan penghormatan terhadap mekanisme penegakan hukum.
Tim hukum juga menekankan bahwa pemeriksaan ini menjadi kesempatan untuk menjelaskan duduk perkara secara rinci. Mereka berharap keterangan yang disampaikan dapat membantu penyidik memperoleh gambaran yang objektif. Dengan demikian, proses penyidikan dapat berjalan berdasarkan fakta, bukan dugaan semata.
Bukti CCTV untuk Erin
Dalam pemeriksaan tersebut, tim hukum menyerahkan rekaman CCTV sebagai alat bukti utama. Rekaman itu berasal dari perangkat recorder yang merekam aktivitas di kediaman Erin tanpa potongan. Menurut mereka, bukti tersebut sudah dipelajari sebelum diserahkan kepada penyidik.
Kuasa hukum Stivany Agusia menyatakan rekaman itu tidak menunjukkan adanya tindakan kekerasan sebagaimana dituduhkan. Ia menilai video justru memperlihatkan kejadian yang sebenarnya terjadi di lokasi. Karena itu, pihaknya optimistis bukti tersebut dapat memperjelas perkara ini.
Adlina Amalia, anggota tim kuasa hukum lainnya, juga menegaskan hal serupa. Ia menyebut klaim tentang mencekik, mencakar, hingga menodongkan pisau dapat diuji secara rinci melalui rekaman CCTV. Menurutnya, visual yang terekam akan menjadi dasar penting untuk menilai kebenaran laporan.
Pihak Erin menyebut rekaman itu merekam seluruh pergerakan di rumah secara menyeluruh. Di lokasi tersebut terdapat sekitar 12 kamera pengawas yang memantau berbagai sudut ruangan. Dengan kondisi itu, mereka meyakini tidak ada ruang bagi narasi yang dianggap tidak sesuai fakta.
Kooperatif Hadapi Tuduhan
Tim hukum menilai Erin bersikap tenang dan kooperatif selama menghadapi pemeriksaan. Mereka menegaskan tidak ada upaya untuk menghambat proses hukum atau menolak pertanyaan penyidik. Fokus utama pihaknya adalah memastikan keterangan yang diberikan sesuai dengan fakta dan bukti yang tersedia.
Menurut kuasa hukum, sikap kooperatif itu penting untuk menjaga transparansi dalam penanganan perkara. Mereka ingin setiap informasi yang disampaikan dapat diverifikasi melalui alat bukti yang sah. Dengan begitu, penyidik memiliki dasar yang kuat dalam menilai laporan Herawati.
Pihak Erin juga menekankan bahwa tuduhan yang beredar perlu diuji secara objektif. Mereka menolak kesimpulan yang hanya bertumpu pada pernyataan satu pihak tanpa melihat bukti pendukung lain. Oleh karena itu, rekaman CCTV diposisikan sebagai dokumen penting dalam pembelaan.
Selain itu, tim hukum meminta agar publik menunggu hasil pemeriksaan resmi dari kepolisian. Mereka menilai proses penyidikan harus dihormati agar tidak menimbulkan penilaian sepihak. Dalam pandangan mereka, kebenaran hanya bisa dipastikan melalui pemeriksaan menyeluruh atas semua bukti.
Proses Hukum Masih Berjalan
Hingga saat ini, perkara dugaan penganiayaan tersebut masih dalam tahap penyidikan di kepolisian. Penyidik akan memeriksa keterangan para pihak serta menilai bukti yang telah diserahkan. Pihak Erin menyatakan siap mengikuti seluruh proses sampai ada kejelasan hukum.
Kuasa hukum menegaskan bahwa seluruh langkah lanjutan akan diserahkan sepenuhnya kepada penyidik. Mereka berharap rekaman CCTV dapat membantu mengungkap fakta yang sebenarnya di lapangan. Dengan begitu, kesimpulan yang diambil nantinya dapat mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.
Menurut tim hukum, keberadaan banyak kamera pengawas di rumah Erin menjadi faktor penting dalam perkara ini. Rekaman dari titik-titik tersebut diyakini mampu memperlihatkan rangkaian peristiwa secara utuh. Karena itu, mereka optimistis bukti visual akan memperkuat posisi kliennya.
Pihak Erin menyatakan akan terus mengedepankan hak hukum yang dimiliki klien mereka. Mereka juga berharap penyidikan berlangsung secara profesional dan objektif. Jika seluruh bukti telah dinilai, mereka yakin kebenaran atas kasus ini akan terungkap.
