Pertamina bersama Pusat Pelatihan dan Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk, atau PPEJP, menggelar pelatihan ekspor bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Gedung PPEJP, Grogol, Jakarta, pada 1 Oktober 2025. Program ini digelar sebagai persiapan menuju Trade Expo Indonesia 2025, salah satu pameran dagang terbesar di Asia Tenggara. Kegiatan tersebut ditujukan untuk memperkuat kemampuan UMKM dalam promosi, negosiasi, dan perluasan pasar. Sejumlah peserta juga dijadwalkan tampil dalam ajang TEI 2025.
Pelatihan ini menjadi tindak lanjut dari nota kesepahaman antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian BUMN yang berfokus mendorong UMKM naik kelas. Selama tiga hari, peserta mendapat materi dari praktisi berpengalaman, mulai dari strategi pameran internasional hingga penyusunan kontrak. Mereka juga mengikuti praktik display produk, presentasi, dan simulasi temu bisnis. Langkah ini diharapkan membuat pelaku UMKM lebih siap bersaing di pasar ekspor.
Pelatihan Ekspor UMKM
Kepala PPEJP, Sugih Rahmansyah, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kesiapan pelaku usaha menghadapi pasar global. Ia menyebut PPEJP dan Pertamina memiliki visi yang sama dalam mendukung UMKM agar berdaya saing. Menurut dia, pelatihan ini penting agar peserta memahami standar promosi dan komunikasi bisnis di level internasional. Dengan bekal tersebut, UMKM diharapkan lebih percaya diri saat bertemu calon buyer.
Sugih juga menilai TEI 2025 menjadi momentum penting bagi UMKM untuk memperluas jejaring pasar. Ajang tersebut membuka peluang bertemu pembeli dari berbagai negara secara langsung. Karena itu, peserta tidak hanya dibekali teori, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan pameran dagang. Pendekatan ini diharapkan membuat produk lokal lebih kompetitif di hadapan buyer internasional.
Fety, Manager SMEPP Pertamina, menyebut pelatihan ekspor sebagai kesempatan berharga yang harus dimanfaatkan serius oleh peserta. Ia meminta para pelaku usaha mengikuti seluruh sesi dengan sungguh-sungguh dan segera menerapkan ilmunya dalam pengembangan usaha. Fety menekankan bahwa pemahaman mendalam atas materi akan sangat menentukan kesiapan UMKM menghadapi pasar global. Menurut dia, pelatihan semacam ini dapat membuka jalan menuju pertumbuhan usaha yang lebih berkelanjutan.
Selama pelatihan, peserta mempelajari teknik pitching yang efektif untuk menarik minat buyer. Mereka juga mendapatkan panduan tentang business matching, yaitu pertemuan bisnis yang menjadi pintu awal kerja sama ekspor. Selain itu, peserta berlatih menyusun kontrak agar memahami aspek administratif dalam transaksi internasional. Dengan kombinasi teori dan praktik, pelatihan ini diarahkan agar peserta tidak gagap saat memasuki forum bisnis global.
Persiapan Menuju TEI
Pelatihan tersebut secara khusus diposisikan sebagai persiapan menuju Trade Expo Indonesia 2025. Ajang ini dikenal sebagai salah satu etalase besar produk Indonesia bagi buyer luar negeri. Melalui kegiatan tersebut, UMKM diharapkan siap memperkenalkan produk tidak hanya dari sisi kualitas, tetapi juga dari sisi presentasi dan strategi pemasaran. Hal ini penting agar produk lokal memiliki daya tarik yang lebih kuat di pasar ekspor.
Fety menjelaskan bahwa pameran internasional membutuhkan kesiapan yang menyeluruh dari pelaku usaha. Produk yang bagus saja tidak cukup tanpa kemampuan komunikasi bisnis yang tepat. Karena itu, materi pelatihan juga menyoroti cara membangun kepercayaan dengan calon pembeli. Pendekatan tersebut diharapkan membantu UMKM tampil lebih profesional saat mengikuti TEI 2025.
Kehadiran peserta seperti Gunawan dari UMKM Gun'S Leather asal Garut menjadi contoh nyata manfaat program ini. Ia akan membawa produk ramah lingkungan berbahan kulit untuk dipromosikan di TEI 2025. Gunawan mengaku antusias karena dapat belajar langsung tentang cara memperkenalkan produk ke pasar internasional. Menurut dia, kesempatan ini bisa membuka peluang usaha yang lebih luas bagi masyarakat Garut.
Gunawan menilai pelatihan ekspor Pertamina memberikan wawasan praktis yang sebelumnya sulit didapatkan secara langsung. Ia berharap produk yang dibawanya dapat diterima oleh buyer internasional. Selain itu, ia juga melihat peluang munculnya lapangan kerja baru bila pasar produk semakin berkembang. Bagi pelaku usaha daerah, dukungan seperti ini dianggap sangat berarti untuk naik kelas.
Dukungan Bagi Daya Saing
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung daya saing bangsa. Ia menyebut Pertamina ingin memastikan produk UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar global. Pada saat yang sama, perusahaan ingin memperkuat citra bangsa di mata dunia. Inisiatif tersebut dinilai sebagai langkah nyata untuk mengangkat potensi lokal ke panggung internasional.
Fadjar menambahkan bahwa penguatan UMKM tidak hanya berkaitan dengan penjualan produk. Lebih dari itu, program ini juga mendukung terciptanya ekosistem usaha yang lebih sehat dan berkelanjutan. Ketika pelaku UMKM naik kelas, dampaknya dapat dirasakan pada penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan usaha. Karena itu, pelatihan ekspor menjadi bagian dari upaya jangka panjang yang memiliki efek ekonomi luas.
Program ini juga sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya poin ketiga. Poin tersebut menekankan peningkatan lapangan kerja yang berkualitas, dorongan terhadap kewirausahaan, dan pengembangan industri kreatif. Pertamina menilai dukungan kepada UMKM merupakan bagian dari kontribusi terhadap agenda pembangunan nasional. Dengan demikian, pelatihan ekspor tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan arah kebijakan yang lebih besar.
Melalui program yang berdampak langsung ini, Pertamina berharap UMKM binaan semakin siap menembus pasar ekspor. Perusahaan juga menargetkan lahirnya lapangan kerja baru dari tumbuhnya usaha yang lebih kompetitif. Di sisi lain, kontribusi UMKM diharapkan semakin kuat terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Pertamina untuk mendukung pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Komitmen Energi Berkelanjutan
Pertamina menegaskan bahwa dukungan terhadap UMKM juga sejalan dengan agenda transisi energi yang dijalankan perusahaan. Sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, Pertamina berkomitmen mendorong program yang berdampak nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut diarahkan untuk mendukung target net zero emission 2060. Dalam pelaksanaannya, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan.
Selain itu, Pertamina menempatkan program pengembangan UMKM sebagai bagian dari kontribusi terhadap Sustainable Development Goals. Dukungan terhadap pelaku usaha kecil dipandang dapat memperkuat ekonomi lokal dan membuka peluang kesejahteraan yang lebih merata. Perusahaan juga menekankan pentingnya penerapan Environmental, Social, dan Governance di seluruh lini bisnis. Dengan pendekatan itu, program pemberdayaan dinilai memiliki nilai ekonomi sekaligus sosial.
Fadjar menyebut seluruh upaya perusahaan diarahkan untuk menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat luas. Ia menilai pengembangan UMKM dapat berjalan seiring dengan agenda transisi energi dan tanggung jawab sosial perusahaan. Karena itu, Pertamina terus mendorong program yang memberi manfaat langsung kepada pelaku usaha binaan. Strategi ini diharapkan memperkuat posisi perusahaan sebagai penggerak pertumbuhan yang inklusif.
Di tengah tantangan pasar global, penguatan kapasitas UMKM menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Pelatihan ekspor, business matching, dan pendampingan pameran menjadi bekal penting agar produk lokal mampu bersaing. Dengan dukungan lintas lembaga, peluang UMKM Indonesia untuk menembus pasar internasional dinilai semakin terbuka. Program ini pun menjadi bukti bahwa pemberdayaan ekonomi dapat berjalan seiring dengan visi keberlanjutan.
