PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmen pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan menggandeng PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rutan Kelas IIB Kebumen. Kolaborasi ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi, ramah lingkungan, dan berpotensi masuk rantai pasok industri.
Program tersebut tidak hanya menargetkan peningkatan bisnis, tetapi juga membuka ruang keterampilan bagi warga binaan agar terlibat langsung dalam proses produksi. Dalam kunjungan asesor pada Senin, 26 Januari, Pertamina memastikan model kerja sama ini berjalan sesuai standar dan memberi manfaat jangka panjang.
Pertapreneur UMKM di Kebumen
Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menyebut pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Ia menilai produk berbasis serat alami itu memiliki peluang pasar yang kuat, termasuk untuk kebutuhan ekspor.
Novita menegaskan perusahaan ingin warga binaan lembaga pemasyarakatan terlibat langsung dalam rantai produksi yang nyata dan bernilai. Menurut dia, keterlibatan tersebut dapat menjadi bekal keterampilan yang berguna setelah mereka kembali ke masyarakat.
Kerja sama dengan Rutan Kebumen juga menjadi bagian dari pengembangan model agregasi UMKM yang lebih terstruktur. Dalam pendekatan ini, bahan baku, proses produksi, dan pendampingan usaha disusun agar memiliki nilai tambah yang jelas.
Melalui skema tersebut, Pertamina mendorong agar UMKM binaan tidak hanya tumbuh dari sisi produksi, tetapi juga mampu membangun pasar yang lebih stabil. Pendekatan ini dinilai penting agar usaha kecil dapat naik kelas dan berdaya saing.
Produksi Serat Terus Meningkat
Setelah pelatihan perdana, Agrominafiber telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen dalam waktu satu minggu. Pasokan awal itu menjadi dasar penguatan proses produksi serat pelepah pisang oleh warga binaan.
Ke depan, sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton direncanakan dipasok dari hasil produksi warga binaan. Target itu menunjukkan adanya potensi kerja sama yang lebih besar antara sektor usaha dan lembaga pemasyarakatan.
Dari hasil pelatihan awal, warga binaan disebut telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Saat ini, sekitar 60 persen produk sudah memenuhi standar kualitas perusahaan.
Sisa produksi masih dalam tahap penyempurnaan teknik agar sesuai dengan kebutuhan industri. Adapun target produksi ditetapkan sekitar 3 ton per bulan untuk menjaga kesinambungan pasokan.
Pendampingan Fokus Zero Waste
Selama proses pendampingan, tim Agrominafiber memberikan bimbingan langsung mulai dari teknik produksi hingga peningkatan kerapian hasil akhir. Perusahaan juga menekankan pengelolaan bahan baku berbasis prinsip zero waste agar limbah dapat dimanfaatkan secara optimal.
Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi antara Agrominafiber dan Rutan Kebumen merupakan langkah strategis untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Ia menyebut kolaborasi ini memiliki potensi besar karena hasilnya dapat terlihat dalam waktu relatif cepat.
Menurut Bima, fokus pendampingan ke depan adalah kualitas dan ketepatan waktu produksi. Dua aspek tersebut dinilai penting agar produk dapat diterima pasar secara konsisten.
Program ini juga dipantau langsung untuk memastikan pelaksanaannya sesuai standar dan memberi dampak sosial yang terukur. Dengan pengawasan itu, Pertamina berharap proses pembinaan berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Dampak Sosial Dan Bisnis
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyebut respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Meski belum genap satu bulan, ia mengatakan laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik.
Pramu menambahkan, mitra usaha juga melihat prospek program ini menjanjikan dari sisi bisnis maupun dampak sosial. Karena itu, ia menilai keterlibatan Pertamina memperkuat arah program agar tidak berhenti pada pelatihan semata.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia dalam Pertapreneur Aggregator. Menurut dia, pendampingan intensif selama enam bulan ke depan menjadi bagian penting dari penguatan program.
Pertamina berharap model kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi yang berdaya saing dan berkelanjutan. Selain memperkuat bisnis, program tersebut juga diharapkan memberi dampak sosial nyata bagi warga binaan dan lingkungan sekitar.
