Rumah produksi HAS Pictures melayangkan somasi kepada aktris Ratu Sofya terkait dugaan penolakan promosi film Dosa Penebusan atau Pengampunan. Sengketa ini mencuat setelah muncul keberatan soal adegan dewasa dalam film tersebut, yang kemudian berujung pada ketidakhadiran sang aktris dalam agenda promosi.
Perwakilan HAS Pictures, Reza Aditya, menilai sikap itu merugikan perusahaan karena Ratu Sofya merupakan salah satu pemeran utama. Pihak rumah produksi juga menyebut telah menempuh langkah hukum setelah upaya penyelesaian internal tidak menemukan titik temu.
Somasi HAS Pictures
Reza Aditya mengatakan persoalan bermula dari ketidaksediaan Ratu Sofya ikut mempromosikan film yang akan segera dirilis. Menurut dia, keputusan itu berdampak langsung pada kepentingan promosi rumah produksi.
Ia menegaskan bahwa kewajiban promosi sudah menjadi bagian dari kerja sama yang disepakati sejak awal. Karena itu, absennya salah satu pemeran utama dalam kegiatan promosi dinilai tidak sejalan dengan kontrak.
Reza menyampaikan hal tersebut di Kemang, Jakarta Selatan, pada Jumat, 22 Mei 2026. Ia menuturkan bahwa pihaknya merasa dirugikan karena film membutuhkan dukungan penuh dari seluruh pemeran utama.
Dalam pernyataannya, Reza menegaskan bahwa somasi ditempuh bukan untuk memperbesar konflik. Langkah itu diambil agar kewajiban promosi dapat segera dijalankan sesuai kesepakatan.
Keberatan Adegan Dewasa
Reza menjelaskan bahwa Ratu Sofya disebut tidak nyaman dengan isi film, terutama pada bagian adegan dewasa. Keberatan itu kemudian menjadi alasan sang aktris memilih tidak ikut promosi.
Meski demikian, pihak produksi menilai keberatan tersebut tidak pernah disampaikan secara serius selama proses produksi berlangsung. Menurut Reza, selama casting, reading, hingga syuting, tidak ada keluhan yang masuk ke manajemen produksi.
Ia menyebut suasana kerja selama produksi justru berjalan baik. Ratu Sofya, kata dia, tampak nyaman dan terlibat aktif di lokasi syuting.
Reza juga menepis anggapan bahwa adegan dalam film dibuat secara vulgar. Ia menegaskan bahwa film tersebut tetap memiliki batas artistik dan tidak diarahkan pada unsur pornografi.
Pernyataan yang Dipersoalkan
Menurut Reza, masalah mulai membesar setelah Ratu Sofya membicarakan pengalamannya dalam sebuah podcast yang kemudian viral di media sosial. Dalam tayangan itu, ia disebut menyampaikan ketidaknyamanan dan persoalan body double.
Pihak HAS Pictures menilai pernyataan tersebut bertentangan dengan kondisi di lapangan. Reza mengklaim fakta selama produksi berbeda dengan yang disampaikan dalam podcast.
Ia menyebut perbedaan cerita itu membuat pihaknya kecewa. Sebab, menurut dia, hubungan profesional antara pemain dan rumah produksi seharusnya dijaga dengan komunikasi yang selaras.
Reza menegaskan bahwa film ini tidak dijual dengan mengandalkan adegan dewasa semata. Ia menilai ada cerita dan filosofi yang lebih besar di balik produksi film tersebut.
Langkah Hukum Lanjutan
Kuasa hukum HAS Pictures, Takwa, mengatakan pihaknya telah mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi terkait proses produksi. Keterangan itu digunakan untuk memperkuat posisi hukum rumah produksi.
Takwa juga menyinggung hubungan kerja antara perusahaan dan Ratu Sofya yang menurutnya diatur dalam kontrak. Ia menilai ada sejumlah hal yang dinilai bertentangan dengan kesepakatan kerja sama.
Menurut dia, salah satu poin yang dipersoalkan adalah kewajiban promosi film yang tidak dijalankan. Padahal, promosi dilakukan tidak hanya secara pribadi, tetapi juga melalui kanal media sosial yang telah ditentukan perusahaan.
HAS Pictures berharap persoalan ini dapat diselesaikan sesuai kewajiban yang telah disepakati. Namun, jika tidak ada penyelesaian, perusahaan disebut siap melanjutkan langkah hukum sesuai aturan yang berlaku.
