Pertamina Dorong UMKM Lewat Olahan Limbah Pisang

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 14:59 WIB 6
Pertamina Dorong UMKM Lewat Olahan Limbah Pisang

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator (PAG) dengan mendorong kolaborasi antara binaan PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen. Kerja sama ini mengolah limbah pelepah pisang menjadi serat alami bernilai ekonomi, ramah lingkungan, dan memiliki potensi pasar yang luas. Program tersebut juga melibatkan warga binaan sebagai bagian dari rantai produksi yang produktif.

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menilai pelepah pisang memiliki peluang besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Dalam tahap awal kerja sama, perusahaan telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu. Pertamina meninjau langsung program ini untuk memastikan pelaksanaannya berjalan sesuai standar, berkelanjutan, dan memberi manfaat sosial yang nyata.

UMKM Olah Pelepah Pisang

Kolaborasi antara Agrominafiber dan Rutan Kebumen menempatkan pelepah pisang sebagai bahan baku utama yang sebelumnya kerap terbuang. Melalui proses pengolahan yang terarah, limbah tersebut diubah menjadi serat alami dengan nilai jual. Skema ini membuka peluang ekonomi baru yang selaras dengan prinsip ramah lingkungan.

Novita menjelaskan bahwa serat pelepah pisang memiliki prospek besar untuk industri kerajinan dan material berkelanjutan. Produk semacam ini juga dinilai memiliki daya tarik di pasar ekspor. Menurut dia, keterlibatan warga binaan dalam produksi memberi nilai tambah yang konkret bagi keberlanjutan usaha.

Perusahaan menargetkan sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku dari hasil produksi warga binaan. Total kebutuhan bahan baku Agrominafiber saat ini mencapai 15 ton, dengan target pasokan bertahap dari Rutan Kebumen. Skema tersebut menunjukkan adanya integrasi antara pemberdayaan sosial dan kebutuhan bisnis.

UMKM dan Rutan Kebumen

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyebut respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Menurut dia, perkembangan program terlihat sejak belum genap satu bulan berjalan. Pihak mitra usaha juga melihat prospeknya menjanjikan dari sisi bisnis dan dampak sosial.

Pramu menegaskan bahwa kehadiran Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina memperkuat arah program agar tidak berhenti pada tahap pelatihan. Pendampingan tersebut membuat program lebih terukur dan berorientasi pada hasil. Dengan demikian, warga binaan tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga memahami standar kerja industri.

Ia berharap kemampuan yang diperoleh selama program dapat menjadi bekal bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat. Keterampilan tersebut diharapkan tetap relevan di luar masa pembinaan. Karena itu, program ini dipandang sebagai sarana rehabilitasi yang memiliki nilai ekonomi.

UMKM Produksi Naik Kualitas

Dari pelatihan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan. Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan.

Sisa produksi masih dalam tahap penyempurnaan teknik agar sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Tim Agrominafiber memberikan bimbingan langsung pada proses produksi, kerapian produk, dan pengelolaan bahan baku. Pendampingan ini dilakukan agar hasil kerja lebih konsisten dan efisien.

Penerapan prinsip zero waste juga menjadi bagian dari proses pembinaan di Rutan Kebumen. Pendekatan tersebut memastikan bahan baku dimanfaatkan secara optimal tanpa menimbulkan sisa yang tidak perlu. Dengan cara itu, program ini tidak hanya produktif, tetapi juga relevan dengan tren industri hijau.

UMKM Jadi Model Pertamina

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi Agrominafiber dan Rutan Kebumen sebagai langkah strategis untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Ia menyebut kolaborasi ini sangat potensial karena hasilnya dapat terlihat relatif cepat. Menurut dia, fokus utama pendampingan ke depan adalah kualitas dan ketepatan waktu produksi.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia dalam skema Pertapreneur Aggregator. Pertamina menempatkan program tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat UMKM berbasis agregasi. Model ini diharapkan mampu menghubungkan kebutuhan bisnis dengan pemberdayaan sosial.

Melalui pendampingan intensif selama enam bulan ke depan, Pertamina berharap kolaborasi ini menjadi contoh pengembangan UMKM yang berdaya saing. Program tersebut juga ditargetkan menghadirkan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan. Jika berjalan konsisten, pola kerja sama ini dapat direplikasi di daerah lain.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!