Perimenopause: Happy Salma Belajar Memahami Perubahan Tubuh

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 09:58 WIB 2
Perimenopause: Happy Salma Belajar Memahami Perubahan Tubuh

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memicu perubahan fisik dan emosional yang signifikan. Pengalaman itu juga dirasakan aktris Happy Salma, yang kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia.

Di usianya yang kini 46 tahun, Happy mengaku baru benar-benar memahami bahwa menopause adalah fase alami yang tidak terhindarkan. Ia menilai, perempuan perlu mengenali tahapan ini sejak dini agar lebih siap menghadapi perubahan tubuh dan emosi.

Perimenopause dan Perubahan Emosi

Happy Salma mengatakan perimenopause bisa dimulai sejak usia 30-an, sehingga banyak perempuan belum menyadari bahwa tubuhnya sudah memasuki fase transisi. Menurutnya, perubahan yang muncul tidak hanya terjadi pada fisik, tetapi juga pada kondisi emosional.

Ia menuturkan bahwa gejala yang dulu hanya terasa sebagai PMS ringan, kini dapat berubah menjadi sensitivitas yang jauh lebih kuat. Perubahan ini membuat perempuan lebih mudah tersentuh, lebih cepat lelah secara emosi, dan membutuhkan pemahaman yang lebih besar terhadap dirinya sendiri.

Pengalaman tersebut membuat Happy melihat perimenopause sebagai fase yang perlu dipahami, bukan ditakuti. Ia menilai pengetahuan yang cukup dapat membantu perempuan menjalani masa ini dengan lebih tenang dan terarah.

Brain Fog Saat Bekerja

Selain perubahan emosi, Happy juga merasakan gangguan daya ingat yang ia sebut sebagai brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan merasa pikirannya tidak sejelas biasanya.

Ia mengaku tantangan itu terasa nyata dalam pekerjaannya sebagai aktris, terutama saat harus menghafal naskah. Aktivitas yang biasanya berjalan lancar kini sesekali menjadi lebih berat karena fokus mudah terpecah.

Secara medis, brain fog pada fase perimenopause umumnya berkaitan dengan fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini berperan penting dalam fungsi otak, sehingga perubahannya dapat memengaruhi keputusan, fokus, dan ketajaman berpikir.

Perimenopause dan Pemahaman Diri

Meski menghadirkan tantangan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang harus ditakuti. Ia justru memandang masa ini sebagai momen untuk lebih mengenal diri sendiri dan memperbaiki kualitas hidup.

Baginya, usia matang memberi ruang untuk lebih menghargai diri, lebih reflektif, dan lebih dekat dengan nilai-nilai spiritual. Ia menyebut fase ini sebagai kesempatan kedua untuk bersinar dari dalam.

Happy juga percaya bahwa banyak perempuan bisa menjadi lebih bahagia pada usia ini karena mulai lebih jujur terhadap kebutuhan dirinya. Dengan memahami tubuh dan perasaannya, perempuan dapat menjalani hidup dengan lebih sadar dan lebih selaras.

Informasi dan Dukungan

Menurut Happy, pemahaman menjadi kunci utama dalam menghadapi perimenopause. Karena itu, ia kini lebih aktif mencari informasi agar tidak salah menafsirkan perubahan yang terjadi pada tubuhnya.

Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind untuk membantu menjaga keseimbangan emosi dan kenyamanan hidup. Upaya ini menjadi bagian dari usahanya untuk tetap sehat secara fisik maupun mental.

Pengalaman Happy menunjukkan bahwa perimenopause dapat dijalani dengan lebih baik jika perempuan memiliki informasi, dukungan, dan keberanian untuk mendengarkan tubuhnya. Dengan begitu, fase ini bisa menjadi awal baru yang lebih sehat, tenang, dan penuh pemahaman.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!