Inggris menghadapi tekanan pasar tenaga kerja yang makin nyata setelah tingkat pengangguran naik ke 5% pada kuartal I-2026. Pada periode yang sama, jumlah lowongan pekerjaan merosot ke level terendah dalam lima tahun terakhir, menandakan perusahaan mulai menahan perekrutan di tengah ketidakpastian global.
Data Kantor Statistik Nasional Inggris atau ONS menunjukkan lowongan kerja turun 28.000, atau 3,9%, menjadi 705.000 pada Februari-April 2026. Perlambatan ini terjadi ketika biaya tenaga kerja meningkat, sementara konflik Amerika Serikat dan Iran ikut menambah risiko bagi prospek ekonomi Inggris.
Pasar Tenaga Kerja Inggris
ONS mencatat tingkat pengangguran Inggris meningkat menjadi 5% pada kuartal I-2026. Angka tersebut mengejutkan pasar karena muncul di tengah ekspektasi bahwa kondisi ketenagakerjaan masih relatif stabil. Namun, data terbaru justru menunjukkan pelemahan yang lebih cepat dari perkiraan. Situasi ini menandai tekanan baru bagi pemulihan ekonomi Inggris.
Jumlah lowongan pekerjaan juga turun tajam menjadi 705.000 pada periode Februari-April 2026. Penurunan 28.000 lowongan itu menjadi yang terdalam sejak April 2021. Keterbatasan permintaan tenaga kerja terlihat di berbagai sektor, terutama yang sensitif terhadap biaya operasional. Dunia usaha dinilai memilih menahan ekspansi rekrutmen.
Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown, mengatakan sektor bergaji rendah seperti perhotelan dan ritel mengalami penurunan terbesar. Kedua sektor itu terdampak baik dalam beberapa bulan terakhir maupun selama setahun terakhir. Kondisi tersebut mencerminkan lemahnya konsumsi sekaligus tekanan biaya yang belum mereda. Perusahaan di sektor ini menjadi yang paling cepat menyesuaikan jumlah pekerja.
Para analis menilai penundaan perekrutan menjadi respons utama dunia usaha terhadap ketidakpastian ekonomi. Selain itu, peningkatan biaya tenaga kerja turut memperberat keputusan perusahaan untuk membuka posisi baru. Perubahan pajak ketenagakerjaan juga disebut menambah beban di sisi pengeluaran. Dalam kondisi seperti ini, pasar kerja cenderung bergerak lebih lambat.
Tekanan Biaya dan Pajak
Kenaikan pengangguran di Inggris tidak lepas dari biaya tenaga kerja yang lebih tinggi. Perubahan pajak ketenagakerjaan ikut memperbesar beban perusahaan dalam menjaga jumlah karyawan. Akibatnya, sebagian pelaku usaha memilih menunda perekrutan ketimbang menambah risiko. Langkah tersebut segera tercermin pada menurunnya jumlah lowongan.
Penurunan lowongan kerja menunjukkan perusahaan sedang berhitung ketat terhadap prospek pendapatan. Dalam situasi permintaan yang belum pulih penuh, rekrutmen baru dianggap bukan prioritas utama. Sektor dengan margin tipis menjadi yang paling rentan menghadapi tekanan ini. Dampaknya terlihat jelas pada penyerapan tenaga kerja di lapangan.
Langkah menahan perekrutan juga berpotensi menekan mobilitas kerja di Inggris. Pencari kerja menghadapi lebih sedikit pilihan, sementara perusahaan lebih selektif dalam membuka posisi. Kombinasi tersebut dapat membuat tingkat pengangguran bertahan lebih lama di level tinggi. Jika berlanjut, pelemahan pasar kerja bisa merembet ke konsumsi rumah tangga.
ONS menilai tren ini menggambarkan perubahan sikap dunia usaha dalam beberapa bulan terakhir. Perusahaan tidak hanya menahan ekspansi, tetapi juga mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sektor tertentu. Ini menunjukkan tekanan biaya telah bertransformasi menjadi perlambatan nyata pada pasar kerja. Kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi pembuat kebijakan.
Prospek Suku Bunga BoE
Pelemahan pasar tenaga kerja biasanya membuka peluang penurunan suku bunga. Namun, situasi di Inggris saat ini berbeda karena inflasi masih menjadi perhatian utama. Bank of England atau BoE diperkirakan tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan. Pasar pun menimbang dua tekanan yang saling bertolak belakang.
Pertumbuhan pendapatan di Inggris rata-rata turun menjadi 3,4% pada kuartal I-2026. Setelah inflasi diperhitungkan, upah riil hanya naik 0,3%, sehingga ruang belanja masyarakat masih terbatas. Perlambatan pendapatan seperti ini biasanya mendukung pelonggaran moneter. Akan tetapi, kekhawatiran inflasi membuat skenario tersebut tidak sederhana.
Kepala Strategi Wealth Club, Susannah Streeter, menilai suku bunga kemungkinan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Menurutnya, kekhawatiran inflasi membuat BoE tidak memiliki banyak ruang untuk bergerak agresif. Kondisi itu membuat kebijakan moneter tetap ketat meskipun pasar tenaga kerja melambat. Pasar keuangan kini menanti sinyal berikutnya dari bank sentral.
Analis memperingatkan permintaan tenaga kerja dapat melemah lebih jauh jika konflik berlangsung lebih lama. Ketidakpastian geopolitik berpotensi memperburuk kepercayaan dunia usaha dan menahan investasi. Jika tekanan itu berlanjut, pasar kerja Inggris bisa menghadapi fase yang lebih sulit. Dalam situasi tersebut, BoE akan berada di bawah tekanan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus pertumbuhan.
Dampak Konflik Global
Konflik Amerika Serikat dan Iran disebut ikut memengaruhi sentimen ekonomi Inggris. Ketegangan geopolitik meningkatkan ketidakpastian bagi bisnis yang bergantung pada stabilitas rantai pasok dan permintaan global. Dalam kondisi seperti itu, perusahaan cenderung menunda keputusan ekspansi. Efeknya merembet ke pasar tenaga kerja domestik.
Dunia usaha menghadapi kombinasi tantangan, mulai dari biaya yang naik hingga prospek perdagangan yang tidak pasti. Situasi ini membuat keputusan perekrutan menjadi semakin konservatif. Sektor jasa dan ritel menjadi yang paling cepat merasakan pengetatan itu. Keduanya sangat bergantung pada belanja konsumen dan arus pelanggan harian.
Jika konflik berkepanjangan, analis menilai tekanan terhadap permintaan tenaga kerja bisa semakin besar. Perusahaan akan lebih fokus menjaga arus kas daripada menambah karyawan baru. Dalam jangka menengah, hal itu dapat menahan laju pemulihan pengangguran. Risiko perlambatan ekonomi pun menjadi lebih terlihat.
Data terbaru ONS memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja Inggris sedang memasuki fase rapuh. Kenaikan pengangguran, penurunan lowongan, dan perlambatan upah membentuk gambaran yang kurang menggembirakan. Meski demikian, tekanan inflasi membuat ruang penyesuaian kebijakan masih terbatas. Karena itu, arah pemulihan ekonomi Inggris akan sangat bergantung pada meredanya ketidakpastian global.
