Pelemahan Rupiah Dinilai Jadi Momentum Industri Satelit

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 21 Mei 2026 16:37 WIB 8
Pelemahan Rupiah Dinilai Jadi Momentum Industri Satelit

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh Rp17.500 memberi tekanan langsung pada industri satelit nasional. Sebab, mayoritas kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada komponen berdenominasi asing, sehingga biaya operasional ikut tertekan.

Di tengah kondisi itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menilai situasi ini justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri satelit dan manufaktur dalam negeri. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Peluang di Tengah Tekanan

Sigit menilai pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai sinyal untuk memperkuat industri lokal. Menurut dia, tekanan kurs tidak semata menjadi beban, tetapi juga dapat mendorong pelaku usaha untuk membangun rantai pasok yang lebih mandiri.

Ia menyebut Indonesia sebenarnya cukup kuat di level Asia Tenggara. Namun, jika dibandingkan dengan sejumlah negara di Asia, kapasitas industri satelit nasional masih tertinggal.

Karena itu, kondisi rupiah yang melemah harus dimanfaatkan untuk mempercepat industrialisasi di dalam negeri. Dengan begitu, ketergantungan pada produk impor dapat ditekan secara bertahap.

Ekspor Jadi Penopang

Dalam penjelasannya, Sigit menyebut sektor yang paling diuntungkan saat dolar menguat adalah industri berorientasi ekspor. Biaya produksi yang dibayar dalam rupiah, sementara pendapatan diterima dalam dolar AS, membuat margin usaha menjadi lebih besar.

Ia mencontohkan, selisih kurs dari Rp16.000 ke Rp18.000 per dolar dapat menjadi tambahan margin bagi industri lokal. Kondisi itu, menurut dia, seharusnya menjadi dorongan untuk memperkuat daya saing manufaktur nasional.

Karena itu, penguatan ekosistem teknologi dan satelit nasional dinilai penting agar pelaku industri tidak terus bergantung pada impor. Strategi tersebut juga membuka jalan bagi perluasan pasar ke luar negeri.

Peran Modal Domestik

Sigit juga mendorong investor domestik untuk lebih aktif menanamkan modal di sektor industri teknologi nasional. Ajakan itu muncul di tengah melambatnya minat investasi asing di sejumlah sektor strategis.

Menurut dia, jika investasi dari luar negeri belum masuk, maka modal lokal harus mengambil peran lebih besar. Langkah tersebut akan membantu menjaga kesinambungan proyek dan pengembangan industri dalam negeri.

Ia menilai pasar domestik dapat menjadi tahap awal sebelum ekspansi ke pasar global. Dengan basis permintaan lokal yang kuat, pelaku industri berpeluang membangun skala usaha yang lebih sehat.

Bekal Generasi Muda

Selain soal investasi, Sigit menekankan pentingnya menanamkan pola pikir industri dan ekspor sejak dini kepada generasi muda. Menurut dia, kemandirian teknologi tidak bisa dibangun hanya oleh pelaku usaha saat ini, tetapi juga perlu dukungan sumber daya manusia masa depan.

Ia menilai pemahaman tentang industrialisasi harus menjadi bagian dari cara pandang generasi muda. Dengan begitu, Indonesia dapat memiliki tenaga kerja yang siap mengembangkan teknologi secara mandiri.

Di sisi lain, penguatan karakter ekspor sejak awal dianggap penting agar industri nasional tidak berhenti di pasar domestik. Sigit meyakini kombinasi modal lokal, industri dalam negeri, dan orientasi ekspor akan memperkuat posisi Indonesia di sektor satelit.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!