Pedagang Sate Madura Mayestik Naik Kelas ke Ruko Strategis

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 13:51 WIB 2
Pedagang Sate Madura Mayestik Naik Kelas ke Ruko Strategis

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura tercium kuat dari sebuah ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di kawasan Mayestik yang ramai, usaha Sate Ayam Barokah Mayestik milik Mochamad Haidir tumbuh dari gerobak keliling menjadi lapak yang lebih mapan. Perjalanan itu ditempuh sejak 2013, lewat kerja keras, ketekunan, dan keberanian bertahan di tengah persaingan.

Sore itu, Haidir tampak sibuk mengibaskan kipas bambu agar arang tetap menyala dan pesanan pelanggan terus terlayani. Pindah ke ruko yang lebih strategis menjadi titik penting dalam perjalanan usahanya, setelah bertahun-tahun berjualan di trotoar dan menghadapi berbagai hambatan. Keputusan itu sekaligus menandai naik kelasnya usaha kecil yang ia rintis sendiri.

Perjalanan Usaha Sate Madura

Haidir memulai usaha satenya pada 2013 dengan gerobak keliling yang berjualan di atas trotoar. Pada masa itu, ia harus menerima kenyataan bahwa berjualan di jalanan tidak selalu mudah. Situasi tersebut menuntut ketekunan agar usahanya tetap berjalan.

Dari awal, Haidir sudah terbiasa menghadapi tekanan dari berbagai arah. Ia pernah dikejar petugas dan juga bersinggungan dengan pedagang lain yang merasa terganggu. Pengalaman itu membuatnya paham bahwa bertahan dalam usaha kecil membutuhkan mental yang kuat.

Meski banyak tantangan, ia tetap melihat peluang dari lokasi Mayestik yang ramai. Kawasan itu dikelilingi perkantoran dan aktivitas ekonomi yang tinggi. Kondisi tersebut membuat lapaknya punya potensi untuk berkembang lebih besar.

Nama Sate Ayam Barokah Mayestik perlahan mulai dikenal pelanggan. Cita rasa khas Madura menjadi daya tarik utama yang membuat pembeli kembali datang. Dari situlah usaha Haidir mulai naik kelas secara bertahap.

Rintangan Pedagang Sate

Perjalanan usaha Haidir sempat terganggu saat pandemi COVID-19 melanda. Penjualan menurun tajam, sehingga kondisi usaha terasa jauh lebih berat. Dalam situasi itu, ia mengaku sempat stres dan mempertimbangkan untuk berhenti.

Ia bahkan pernah menawarkan lapaknya kepada orang lain. Saat itu, ia ingin mengakhiri usaha karena merasa tidak sanggup lagi menanggung tekanan. Namun, keputusan itu belum sempat benar-benar terwujud.

Haidir menyebut lapaknya pernah ditawar Rp50 juta. Nilai itu jauh di bawah permintaan dirinya yang mencapai Rp150 juta. Selisih harga yang besar membuat transaksi tersebut akhirnya batal.

Kegagalan menjual lapak justru menjadi keberuntungan bagi Haidir. Jika saat itu ia melepas usahanya, peluang untuk berkembang bisa hilang. Keputusan bertahan terbukti menjadi langkah yang lebih menguntungkan di kemudian hari.

Strategi Bertahan Di Mayestik

Haidir memilih bertahan karena melihat Mayestik sebagai lokasi yang menjanjikan. Arus pekerja kantoran dan warga sekitar memberi peluang besar bagi usaha kuliner. Ia menilai konsistensi menjadi kunci agar pelanggan tetap mengenal produknya.

Selama berjualan, ia menjaga kualitas rasa dan pelayanan. Ia juga tetap hadir di lokasi meski situasi usaha sempat tidak menentu. Pendekatan itu membantu membangun kepercayaan pelanggan secara perlahan.

Bagi pedagang kecil, bertahan di lokasi strategis sering kali berarti menjaga ritme usaha setiap hari. Haidir memahami bahwa kehadiran yang konsisten sama pentingnya dengan rasa makanan. Karena itu, ia terus menjaga lapak dan pelayanan agar tetap stabil.

Ketekunan tersebut pada akhirnya membentuk reputasi usaha yang lebih kuat. Pelanggan datang bukan hanya karena rasa sate, tetapi juga karena kehadiran usaha yang tidak pernah benar-benar hilang. Dari situ, nama Haidir makin dikenal di kawasan Mayestik.

Naik Kelas Lewat Ruko

Titik balik besar datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu muncul pada akhir 2025 dan langsung menarik perhatian Haidir. Ia melihatnya sebagai peluang untuk memperluas dan memperkuat usaha.

Tanpa menunda lama, ia memutuskan pindah ke ruko yang lebih strategis. Langkah itu membuat usahanya tampil lebih rapi dan mudah dijangkau pelanggan. Perubahan tempat juga memberi kesan bahwa bisnisnya berkembang ke tahap yang lebih serius.

Ruko baru memberi ruang yang lebih baik untuk melayani pembeli. Aktivitas memanggang sate, menyiapkan pesanan, dan menjaga arang tetap menyala menjadi lebih tertata. Kondisi ini mendukung operasional harian yang lebih efisien.

Perjalanan Haidir menunjukkan bahwa usaha kecil bisa naik kelas jika dijalankan dengan sabar dan konsisten. Dari gerobak trotoar hingga ruko strategis, ia membuktikan bahwa ketekunan dapat mengubah arah bisnis. Kisahnya menjadi contoh bahwa peluang sering datang kepada mereka yang tetap bertahan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!