Patek Philippe dan AP, Simbol Jam Tangan Mewah

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 18:26 WIB 2
Patek Philippe dan AP, Simbol Jam Tangan Mewah

Nama Patek Philippe dan Audemars Piguet selama ini menempati posisi teratas dalam dunia horologi mewah. Sorotan publik terhadap kedua merek itu kembali menguat setelah Kejaksaan Agung memusnahkan 14 jam tangan milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo, yang dinyatakan palsu.

Peristiwa tersebut menegaskan betapa kuatnya daya tarik jam tangan kelas premium di mata masyarakat Indonesia, terutama kalangan berduit. Di sisi lain, harga yang sangat tinggi membuat banyak orang hanya mengenal versi kw dari merek yang justru menjadi simbol status, eksklusivitas, dan prestise.

Jam tangan mewah

Jam tangan mewah tidak hanya dipandang sebagai penunjuk waktu, tetapi juga sebagai penanda gaya hidup dan posisi sosial. Dalam dunia kolektor, merek seperti Patek Philippe dan Audemars Piguet kerap menjadi tolok ukur kualitas, sejarah, dan kelangkaan. Karena itu, setiap kemunculan produk asli dari dua merek tersebut selalu menarik perhatian pasar.

Fenomena ini ikut menguat ketika publik mengetahui adanya jam tangan mewah yang disita dari kasus korupsi dan ternyata palsu. Kejaksaan Agung memastikan seluruh barang itu tidak asli setelah melalui proses validasi yang panjang. Sebelumnya, tersangka juga telah mengakui di persidangan bahwa barang tersebut bukan produk resmi.

Di Indonesia, minat terhadap arloji premium terus tumbuh seiring meningkatnya jumlah kolektor dan konsumen kelas atas. Jam tangan dengan merek ternama dianggap bukan sekadar aksesori, melainkan aset yang memiliki nilai simbolik. Kondisi ini membuat pasar barang mewah selalu hidup, meski harga yang ditawarkan berada jauh di luar jangkauan masyarakat umum.

Ketertarikan publik juga dipengaruhi oleh seringnya jam tangan mewah muncul dalam pemberitaan kasus hukum maupun ajang pamer koleksi. Dari ruang sidang hingga pameran resmi, arloji kelas atas kerap memancing rasa penasaran karena nilainya yang fantastis. Tidak heran jika nama besar di industri ini terus bertahan sebagai magnet bagi kolektor dan pencinta barang eksklusif.

Harga dan eksklusivitas

Audemars Piguet dikenal lewat lini Royal Oak yang menjadi salah satu model paling ikonik di pasar jam tangan mewah. Harga model stainless steel berada di kisaran Rp 600 juta hingga Rp 1,2 miliar, sementara Royal Oak Offshore chronograph umumnya berada di rentang Rp 400 juta sampai Rp 900 juta. Untuk model high complication atau limited edition, harga bisa menembus Rp 2 miliar hingga lebih dari Rp 6 miliar.

Patek Philippe bahkan sering dianggap lebih eksklusif daripada AP karena produksi yang sangat terbatas. Di kalangan kolektor, merek asal Swiss itu disebut sebagai holy grail karena memiliki value retention yang kuat. Artinya, harga jual kembali jam tangan ini cenderung bertahan tinggi dan sulit turun drastis.

Rentang harga Patek Philippe juga menunjukkan betapa luasnya pasar yang dilayani merek tersebut. Calatrava entry level dibanderol sekitar Rp 180 juta hingga Rp 500 juta, Aquanaut berada di kisaran Rp 1 miliar sampai Rp 4 miliar, dan Nautilus bisa mencapai Rp 1,8 miliar hingga Rp 7 miliar. Sementara itu, lini Grand Complications dapat menembus puluhan miliar rupiah.

Perbedaan harga antara satu lini dan lini lain menunjukkan bahwa jam tangan mewah tidak ditentukan oleh fungsi waktu semata. Material, tingkat kerumitan mesin, kelangkaan produksi, dan reputasi merek menjadi faktor utama yang membentuk nilai. Karena kombinasi itulah, Patek Philippe dan Audemars Piguet tetap berada di jajaran paling bergengsi.

Pameran dan kolektor

Jakarta Watch Exchange atau JWX 2026 menjadi salah satu panggung yang kembali memperlihatkan kuatnya minat terhadap arloji premium. Dalam ajang yang digelar pada Januari lalu itu, sempat dipamerkan Patek Philippe Nautilus Chrono White Gold Blue Dial 40th Anniversary. Arloji tersebut disebut sangat diincar kolektor dan ditawarkan seharga Rp 6,6 miliar.

Kehadiran jam tangan bernilai miliaran rupiah di pameran menegaskan bahwa pasar barang mewah di Indonesia terus bergerak. Bagi kolektor, kesempatan melihat langsung produk asli memiliki nilai tersendiri karena tidak semua model beredar bebas di pasar. Situasi ini juga memperkuat persepsi bahwa eksklusivitas adalah bagian penting dari daya tarik sebuah merek.

Anton Lim, pendiri JWX, pernah menjelaskan bahwa di Indonesia Audemars Piguet dan Patek Philippe termasuk jam tangan mewah yang paling dicari oleh kalangan crazy rich. Ia juga menyebut Richard Mille berada di urutan teratas dalam perburuan kolektor barang premium. Pernyataan itu memperlihatkan adanya pasar yang kuat untuk merek-merek berharga tinggi di Tanah Air.

Minat besar terhadap jam tangan mewah sering berjalan beriringan dengan meningkatnya peredaran barang tiruan. Karena itu, validasi keaslian menjadi hal penting agar kolektor tidak salah membeli produk. Kasus pemusnahan jam palsu milik tersangka korupsi sekaligus menjadi pengingat bahwa status mewah tidak selalu identik dengan barang asli.

Palsu dan barang asli

Kasus jam tangan milik Jimmy Sutopo memperlihatkan bagaimana barang mewah palsu masih kerap masuk ke ruang publik. Barang-barang itu sempat mencuri perhatian karena dianggap bernilai tinggi, padahal hasil pemeriksaan menunjukkan sebaliknya. Kejaksaan Agung memastikan temuan tersebut setelah melakukan verifikasi terhadap seluruh unit yang disita.

Fakta bahwa tersangka sudah mengakui barang itu bukan asli di persidangan menjadi penegas penting dalam kasus tersebut. Pengakuan itu juga memudahkan proses penanganan barang bukti yang kemudian dimusnahkan. Bagi penegak hukum, kejelasan status barang sitaan sangat penting agar publik tidak terkecoh oleh tampilan luar yang mewah.

Di pasar barang mewah, perbedaan antara asli dan palsu bisa sangat tipis bagi orang awam. Namun, bagi kolektor berpengalaman, detail mesin, finishing, sertifikat, dan riwayat kepemilikan menjadi pembeda utama. Itulah sebabnya transaksi jam tangan premium biasanya dilakukan dengan prosedur verifikasi yang ketat.

Pada akhirnya, sorotan terhadap Patek Philippe dan Audemars Piguet memperlihatkan dua sisi dari dunia horologi mewah. Di satu sisi ada prestise, kelangkaan, dan nilai koleksi yang tinggi, sementara di sisi lain ada risiko barang palsu yang ikut membesar seiring tingginya permintaan. Kombinasi itu membuat jam tangan mewah selalu menarik perhatian, baik di pasar maupun di ruang publik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!