Patek Philippe dan AP Masih Jadi Incaran Crazy Rich

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 07:28 WIB 6
Patek Philippe dan AP Masih Jadi Incaran Crazy Rich

Nama Patek Philippe dan Audemars Piguet kembali menjadi sorotan setelah pemusnahan 14 jam tangan milik terpidana kasus korupsi Asabri, Jimmy Sutopo. Kejaksaan Agung memastikan seluruh barang tersebut palsu usai validasi panjang, sementara nilai kerugian negara dalam perkara itu mencapai Rp22,7 triliun.

Perhatian publik terhadap jam tangan mewah ini juga dipicu oleh tingginya minat kolektor terhadap merek-merek prestisius asal Swiss dan Swiss, terutama di kalangan konglomerat. Di pasar sekunder, harga beberapa model bahkan bisa melesat hingga miliaran rupiah, tergantung kelangkaan, material, dan reputasi seri yang ditawarkan.

Harga Jam Tangan Mewah

Audemars Piguet, khususnya lini Royal Oak, dikenal memiliki rentang harga yang sangat lebar di pasar jam tangan mewah. Untuk model stainless steel, harganya dapat berada di kisaran Rp600 juta hingga Rp1,2 miliar.

Sementara itu, Royal Oak Offshore chronograph umumnya dipasarkan sekitar Rp400 juta sampai Rp900 juta. Pada model high complication atau limited edition, nilainya bisa melonjak dari Rp2 miliar hingga lebih dari Rp6 miliar.

Patek Philippe kerap dipandang lebih eksklusif dibandingkan Audemars Piguet karena produksinya yang terbatas. Faktor inilah yang membuat merek asal Swiss tersebut punya posisi kuat di kalangan kolektor kelas atas.

Untuk lini entry level seperti Calatrava, harga bisa mulai dari Rp180 juta hingga Rp500 juta. Adapun Aquanaut berada di kisaran Rp1 miliar sampai Rp4 miliar, sedangkan Nautilus dapat mencapai Rp1,8 miliar hingga Rp7 miliar.

Daya Tarik Patek Philippe

Di dunia horologi, Patek Philippe sering dijuluki sebagai holy grail karena sangat sulit ditemukan dalam jumlah besar. Citra tersebut diperkuat oleh strategi produksi terbatas dan kualitas pengerjaan yang menjadi standar tinggi industri jam mewah.

Selain eksklusivitas, Patek Philippe juga dikenal memiliki value retention yang kuat. Artinya, nilainya cenderung bertahan atau bahkan meningkat seiring waktu, terutama untuk seri tertentu yang diburu kolektor.

Model-model seperti Nautilus dan Grand Complications menjadi contoh produk yang memiliki pamor tinggi. Pada segmen tertentu, harga jam tangan ini bahkan dapat menembus puluhan miliar rupiah.

Kombinasi desain, sejarah merek, dan kelangkaan membuat Patek Philippe sering diposisikan sebagai simbol status. Tak heran jika jam tangan ini menjadi incaran para pembeli berdaya beli tinggi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Audemars Piguet di Pasar

Audemars Piguet juga memiliki tempat istimewa di pasar jam tangan mewah melalui lini Royal Oak yang ikonik. Desainnya yang khas membuat merek ini mudah dikenali dan tetap relevan di tengah tren horologi yang terus berubah.

Di kalangan kolektor, seri Royal Oak kerap dianggap sebagai perpaduan antara kemewahan dan karakter sporty. Daya tarik tersebut mendorong permintaan tinggi, terutama untuk edisi terbatas dan varian dengan material premium.

Kehadiran Audemars Piguet di Indonesia banyak dikaitkan dengan segmen crazy rich yang mencari jam tangan bernilai tinggi. Dalam konteks investasi gaya hidup, merek ini dinilai tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga prestisius secara sosial.

Menurut Anton Lim, pendiri Jakarta Watch Exchange, Richard Mille berada di posisi teratas di Indonesia, disusul Patek Philippe dan Audemars Piguet. Pernyataan itu menunjukkan bahwa dua merek tersebut tetap menjadi ukuran utama dalam pasar jam tangan mewah Tanah Air.

Kasus Asabri Sorot Publik

Pemusnahan jam tangan sitaan dari kasus Asabri membuat publik kembali menyoroti simbol kemewahan yang kerap dikaitkan dengan kasus korupsi. Dari 14 jam tangan yang dimusnahkan, Kejagung memastikan seluruhnya merupakan barang palsu setelah melalui proses verifikasi.

Dalam persidangan sebelumnya, tersangka juga mengakui bahwa barang-barang tersebut bukan produk asli. Fakta itu memperkuat temuan bahwa label merek mewah tidak selalu sejalan dengan keaslian barang yang beredar.

Kasus ini ikut membuka percakapan publik soal budaya pamer barang mewah di tengah kejahatan keuangan bernilai besar. Di sisi lain, hal tersebut menunjukkan betapa kuatnya citra merek seperti Patek Philippe dan Audemars Piguet di mata masyarakat.

Peristiwa itu juga menegaskan bahwa pasar jam tangan mewah memiliki lapisan cerita yang kompleks, mulai dari prestise, kelangkaan, hingga penipuan. Karena itu, pembeli disarankan lebih cermat saat memburu arloji bernilai tinggi di pasar resmi maupun sekunder.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!