Patek Philippe dan AP Jadi Sorotan Usai Pemusnahan Jam Mewah

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 22:59 WIB 2
Patek Philippe dan AP Jadi Sorotan Usai Pemusnahan Jam Mewah

Nama Patek Philippe dan Audemars Piguet kembali mencuri perhatian publik setelah pemusnahan 14 jam tangan milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo. Barang-barang tersebut sempat menjadi sorotan karena dikaitkan dengan gaya hidup mewah, tetapi Kejaksaan Agung memastikan seluruhnya palsu setelah melalui proses validasi. Kasus ini menegaskan bahwa barang berprestise di pasar jam tangan kerap menjadi simbol status, sekaligus sasaran peniruan yang bernilai tinggi. Di Indonesia, minat terhadap jam tangan mewah tetap besar, terutama di kalangan kolektor dan pemburu arloji kelas premium.

Pemicu perhatian publik bukan hanya pada kasus hukumnya, tetapi juga pada nilai fantastis merek-merek jam tangan Swiss yang disebut dalam pemberitaan. Di pasar kolektor, Patek Philippe dan Audemars Piguet dikenal memiliki harga tinggi, ketersediaan terbatas, dan reputasi yang sulit disaingi. Hal itu membuat keduanya kerap dipandang sebagai objek investasi sekaligus penanda prestise. Sorotan ini kemudian membuka kembali pembahasan mengenai posisi jam tangan mewah di Indonesia.

Jam Tangan Mewah Kembali Disorot

Kasus pemusnahan barang sitaan membuat jam tangan mewah kembali menjadi bahan pembicaraan luas. Publik menyoroti bagaimana arloji berharga tinggi kerap melekat pada citra kekayaan dan kekuasaan. Dalam perkara Asabri, barang yang dimusnahkan ternyata bukan produk asli. Fakta itu memperlihatkan bahwa label mewah tidak selalu sejalan dengan keaslian barang.

Kejaksaan Agung memastikan validasi dilakukan secara berlapis sebelum barang-barang tersebut dimusnahkan. Langkah itu penting untuk memastikan penanganan barang bukti berjalan sesuai prosedur hukum. Dalam persidangan, tersangka juga telah mengakui bahwa jam tangan tersebut bukan produk asli. Pengakuan itu memperkuat kesimpulan bahwa barang yang dipamerkan sebelumnya hanyalah tiruan.

Perhatian publik ikut meningkat karena jam tangan mewah sering diasosiasikan dengan kelas sosial tertentu. Di pasar kolektor, merek premium memiliki nilai yang ditopang oleh reputasi, kualitas, dan kelangkaan. Situasi ini membuat penemuan barang palsu menjadi ironi tersendiri. Barang yang dimaksudkan sebagai simbol prestise justru berakhir sebagai bukti tindak pidana.

Harga Patek Philippe Sangat Tinggi

Patek Philippe dikenal sebagai salah satu merek jam tangan paling prestisius di dunia horologi. Produksinya terbatas, sementara permintaan dari kolektor terus tinggi. Kondisi itu membuat nilai jualnya kerap bertahan kuat di pasar sekunder. Tidak sedikit model Patek Philippe yang melampaui harga properti mewah di kota besar.

Untuk seri Calatrava, harga entry level umumnya berada di kisaran Rp 180 juta hingga Rp 500 juta. Model Aquanaut dapat dibanderol sekitar Rp 1 miliar hingga Rp 4 miliar. Sementara itu, Nautilus berada di rentang Rp 1,8 miliar hingga Rp 7 miliar. Pada level tertinggi, lini Grand Complications bisa menembus puluhan miliar rupiah.

Salah satu alasan Patek Philippe dihormati kolektor adalah daya tahannya sebagai aset koleksi. Banyak pembeli menilai merek ini memiliki nilai jual kembali yang sangat kuat. Karena itulah, Patek Philippe sering disebut sebagai holy grail di kalangan pecinta jam tangan. Status tersebut membuat setiap kemunculannya selalu mendapat perhatian besar.

Audemars Piguet Tetap Bergengsi

Audemars Piguet juga menempati posisi penting dalam pasar jam tangan mewah dunia. Seri Royal Oak menjadi salah satu model yang paling dikenal karena desainnya yang khas. Untuk varian stainless steel, harganya dapat berkisar antara Rp 600 juta hingga Rp 1,2 miliar. Adapun Royal Oak Offshore chronograph berada di kisaran Rp 400 juta hingga Rp 900 juta.

Pada model high complication atau limited edition, harga AP bisa mencapai Rp 2 miliar hingga lebih dari Rp 6 miliar. Nilai tersebut menunjukkan bahwa merek ini bukan sekadar pelengkap gaya hidup. Dalam pandangan kolektor, AP menawarkan kombinasi desain, teknis, dan eksklusivitas. Kombinasi itu membuat permintaannya tetap kuat di berbagai pasar, termasuk Indonesia.

Di kalangan pemburu arloji, AP sering dipilih karena identitas visualnya yang mudah dikenali. Royal Oak memiliki karakter desain yang dianggap ikonik dan tidak lekang oleh waktu. Kondisi itu menjadikan AP sebagai merek yang tetap relevan di tengah perubahan tren. Tidak mengherankan jika nama AP kerap masuk daftar teratas jam tangan mewah incaran para crazy rich.

Pasar Kolektor Jam Tangan Indonesia

Di Indonesia, jam tangan mewah menjadi salah satu komoditas gaya hidup yang paling banyak dibicarakan. Minat besar datang dari kolektor, pelaku bisnis, hingga konsumen berpenghasilan tinggi. Menurut pendiri Jakarta Watch Exchange, Anton Lim, Richard Mille berada di posisi teratas dalam daftar incaran. Setelah itu, Patek Philippe dan Audemars Piguet menyusul di urutan berikutnya.

Pameran seperti Jakarta Watch Exchange turut memperlihatkan tingginya minat terhadap arloji premium. Pada ajang JWX 2026, salah satu yang menyita perhatian adalah Patek Philippe Nautilus Chrono White Gold Blue Dial 40th Anniversary. Jam tangan tersebut disebut dijual seharga Rp 6,6 miliar. Kehadirannya menunjukkan bahwa pasar kolektor di Indonesia memiliki daya tarik yang semakin besar.

Namun, tingginya minat juga membuka ruang bagi peredaran barang tiruan. Karena itu, validasi keaslian menjadi faktor yang sangat penting dalam transaksi jam tangan mewah. Kolektor umumnya menuntut dokumen, riwayat servis, dan detail produksi yang jelas. Dalam pasar bernilai tinggi, keaslian menjadi penentu utama harga dan reputasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!