IHSG Anjlok 3,54%, Aksi Jual Asing Tekan Bursa

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 28 Mei 2026 00:05 WIB 2
IHSG Anjlok 3,54%, Aksi Jual Asing Tekan Bursa

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah tajam 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis, 21 Mei. Tekanan datang dari aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp508,11 miliar di pasar reguler dan Rp544,89 miliar di seluruh pasar.

Di tengah pelemahan tersebut, sejumlah saham seperti Amman Mineral Internasional, Indofood Sukses Makmur, dan Sumber Alfaria Trijaya masih menjadi penopang indeks. Namun, tekanan dari Astra International, Bumi Resources Minerals, dan Bayan Resources membuat seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia berakhir di zona merah.

IHSG Tertekan Aksi Jual

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia berlangsung berat sejak awal sesi. Tekanan jual yang konsisten membuat IHSG kehilangan momentum dan tidak mampu bertahan di area hijau.

Investor asing tercatat lebih agresif melepas saham-saham berkapitalisasi besar. Kondisi ini memperdalam koreksi indeks dan menekan sentimen pelaku pasar domestik.

Di tengah pelemahan itu, kinerja beberapa saham unggulan masih memberi bantalan terbatas bagi indeks. Namun, kontribusi positif tersebut belum cukup untuk menahan laju penurunan IHSG.

Secara teknikal, pergerakan indeks mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko pasar yang meningkat. Aksi ambil untung juga ikut memperbesar tekanan pada saham-saham unggulan.

Sektor Energi Paling Tertekan

Seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah pada perdagangan Kamis. Dari semua sektor, energi mencatat penurunan terdalam sebesar 6,91 persen.

Penurunan sektor energi sejalan dengan melemahnya sejumlah saham berbasis komoditas. Tekanan ini ikut menyeret sektor lain yang sensitif terhadap perubahan sentimen global.

Saham Astra International, Bumi Resources Minerals, dan Bayan Resources menjadi pemberat utama indeks. Di sisi lain, saham Amman Mineral Internasional, Indofood Sukses Makmur, dan Sumber Alfaria Trijaya masih menahan koreksi lebih dalam.

Selain itu, indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia juga ikut tertekan. Masing-masing turun 3,04 persen dan 2,56 persen, menandakan lemahnya minat terhadap aset Indonesia.

Sentimen Global Masih Campuran

Berbeda dengan pasar domestik, bursa saham Amerika Serikat justru ditutup menguat. Dow Jones naik 0,55 persen, S&P 500 bertambah 0,17 persen, dan Nasdaq menguat tipis 0,09 persen.

Penguatan di Wall Street belum mampu mengangkat pasar saham Indonesia. Pelaku pasar tampak lebih fokus pada risiko domestik yang dinilai lebih dekat dengan kondisi portofolio mereka.

Perhatian investor tertuju pada pandangan S&P Global Ratings terkait risiko fiskal Indonesia. Isu kebijakan pengendalian ekspor juga menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi neraca pembayaran dan stabilitas makroekonomi.

Kombinasi sentimen tersebut membuat investor cenderung menahan diri. Alhasil, arus modal asing di pasar saham masih menunjukkan sikap defensif.

Emiten Siapkan Langkah Bisnis

Di tengah tekanan pasar, sejumlah emiten tetap menyampaikan agenda pertumbuhan bisnis. Widodo Makmur Perkasa menargetkan pendapatan kuartal I-2026 mencapai Rp2,10 triliun, atau tumbuh 108,20 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Untuk mengejar target itu, WMPP meningkatkan kapasitas rumah potong ayam hingga 12 ribu ekor per jam. Perseroan juga menyiapkan ekspansi bisnis ayam petelur dengan target populasi 1 juta ekor pada 2028.

Carsurin juga memasang target pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2026. Pendapatan ditargetkan mencapai Rp618,16 miliar, sedangkan laba bersih diproyeksikan naik menjadi Rp17,52 miliar.

Sementara itu, Charoen Pokphand Indonesia menyiapkan dividen tunai Rp180 per saham untuk tahun buku 2025. Nilai tersebut mencapai Rp2,95 triliun dan jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

CPIN juga mencatat kinerja operasional yang solid pada 2025, dengan penjualan Rp70,70 triliun dan laba bersih Rp5,64 triliun. Cum date dividen dijadwalkan pada 2 Juni 2026 untuk pasar reguler dan negosiasi, sedangkan pembayaran dilakukan pada 12 Juni 2026.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!