PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator, dengan mendorong kolaborasi antara PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Kerja sama ini fokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi, ramah lingkungan, dan berpotensi masuk pasar ekspor.
Program tersebut mulai berjalan dengan melibatkan warga binaan dalam rantai produksi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga peningkatan kualitas produk. Inisiatif ini diharapkan tidak hanya memperkuat bisnis UMKM binaan Pertamina, tetapi juga memberi keterampilan kerja yang bermanfaat saat para warga binaan kembali ke masyarakat.
Pertamina Dorong UMKM Berkelanjutan
Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menilai pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Menurut dia, permintaan pasar terhadap bahan yang ramah lingkungan terus berkembang, terutama di segmen ekspor.
Novita menjelaskan bahwa pelibatan warga binaan menjadi bagian penting dari model produksi yang dibangun perusahaan. Ia menambahkan bahwa proses ini memberi nilai tambah karena menghasilkan produk yang nyata, sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Dalam skema kerja sama ini, Agrominafiber menempatkan pendampingan sebagai fondasi utama agar produksi berjalan konsisten. Perusahaan ingin memastikan bahan baku yang diolah memiliki standar yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah program Pertapreneur Aggregator yang menekankan penguatan UMKM melalui model agregasi. Dengan pola ini, usaha kecil didorong untuk memiliki kapasitas produksi yang lebih terstruktur dan berdaya saing.
Produksi Serat Mulai Berjalan
Setelah pelatihan perdana, Agrominafiber menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu. Langkah ini menjadi indikator awal bahwa kerja sama tersebut mulai masuk ke tahap implementasi.
Ke depan, sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton per bulan direncanakan dipasok dari hasil produksi warga binaan. Target itu menunjukkan adanya peluang integrasi antara pembinaan sosial dan kebutuhan industri.
Dari hasil pelatihan awal, warga binaan disebut sudah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar perusahaan, sementara sisanya masih diperbaiki pada sisi teknik dan kerapian.
Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan agar rantai pasok dapat berjalan stabil. Untuk mencapai sasaran itu, tim pendamping terus memberi bimbingan langsung pada setiap tahap proses produksi.
Pendampingan Perkuat Kualitas
Selama pendampingan, tim Agrominafiber memberikan arahan mulai dari teknik produksi, peningkatan kerapian produk, hingga pengelolaan bahan baku berbasis prinsip zero waste. Pendekatan ini dinilai penting agar proses kerja lebih efisien dan minim limbah.
Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menyebut sinergi antara Agrominafiber dan Rutan Kebumen sebagai langkah strategis untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Ia menilai kolaborasi tersebut juga memberi hasil yang dapat terlihat relatif cepat.
Menurut Bima, fokus pendampingan berikutnya adalah menjaga kualitas dan ketepatan waktu produksi. Dua aspek itu dianggap krusial agar produk dapat masuk ke pasar yang lebih luas dan memiliki reputasi yang baik.
Kunjungan asesmen ke Rutan Kebumen pada Senin, 26 Januari, dilakukan untuk memastikan program berjalan sesuai standar. Pertamina ingin agar model kerja sama ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berkembang menjadi sistem produksi yang berkelanjutan.
Dampak Sosial dan Bisnis
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyampaikan bahwa respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Ia menilai laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik meski program belum genap satu bulan.
Pramu juga melihat prospek kerja sama ini menjanjikan dari sisi bisnis maupun dampak sosial. Karena itu, ia menilai peran asesor dari Pertamina penting untuk menjaga arah program tetap konsisten.
Menurut Pramu, program ini diharapkan menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan, bukan hanya selama menjalani masa pidana. Keterampilan tersebut diharapkan tetap bermanfaat ketika mereka kembali ke masyarakat.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan bahwa program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia dalam Pertapreneur Aggregator. Pertamina berharap model kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM yang berdaya saing sekaligus memberi dampak sosial berkelanjutan.
