IHSG Menguat, Komoditas Dorong Saham Tambang

Forex & Saham Gilang Nabaris 28 Mei 2026 00:11 WIB 2
IHSG Menguat, Komoditas Dorong Saham Tambang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,10 persen ke posisi 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Kenaikan indeks terutama ditopang saham berbasis komoditas dan tambang, dengan Merdeka Copper Gold (MDKA) melesat 24,77 persen. Penguatan itu terjadi di tengah tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar yang bergerak melemah. Aksi jual investor asing yang masih berlanjut juga menahan laju penguatan lebih tinggi.

Sentimen dari pasar global ikut memberi warna pada perdagangan domestik, setelah bursa Amerika Serikat ditutup positif. Meski demikian, pasar masih menantikan perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI dan dampak rebalancing indeks MSCI. Di sisi lain, perubahan komposisi indeks FTSE Russell menjadi perhatian karena berpotensi memicu arus dana asing keluar. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap waspada meskipun IHSG berhasil bertahan di zona hijau.

IHSG Ditopang Saham Komoditas

Penguatan IHSG didorong kenaikan sejumlah saham komoditas dan tambang yang menjadi penopang utama indeks. Selain MDKA, Emas Antam Indonesia (EMAS) naik 19,67 persen dan Bumi Resources Minerals (BRMS) menguat 11,50 persen. Pergerakan ini menunjukkan minat pasar masih kuat terhadap saham berbasis sumber daya alam. Kenaikan harga komoditas menjadi salah satu katalis yang paling terlihat dalam perdagangan tersebut.

Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar justru memberi tekanan pada indeks. Telkom Indonesia (TLKM) turun 2,67 persen, Astra International (ASII) terkoreksi 3,57 persen, dan Bayan Resources (BYAN) melemah 4,53 persen. Pelemahan pada saham-saham berkap besar membuat penguatan IHSG tidak lebih agresif. Tekanan pada emiten unggulan juga menunjukkan selektivitas investor masih tinggi.

Secara sektoral, mayoritas sektor bergerak di zona hijau dan menopang sentimen positif pasar. Sektor basic industry memimpin penguatan sebesar 6,85 persen, sedangkan sektor keuangan menjadi yang paling lemah dengan penurunan 0,28 persen. Pola ini sejalan dengan minat investor yang lebih condong ke saham berbasis siklikal dan komoditas. Sektor defensif belum menjadi pilihan utama pada perdagangan tersebut.

Meski indeks bergerak positif, aksi jual asing masih terlihat cukup besar di pasar domestik. Investor asing mencatat jual bersih Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar. Arus keluar tersebut menandakan kehati-hatian pelaku global terhadap pasar saham Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, saham dengan katalis khusus cenderung lebih menarik perhatian.

Sentimen Global Masih Menyokong

Dukungan juga datang dari bursa Amerika Serikat yang menguat pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones naik 0,58 persen ke level 50.579, S&P 500 bertambah 0,37 persen menjadi 7.473, dan Nasdaq menguat 0,19 persen ke posisi 26.343. Kinerja pasar saham AS memberikan sinyal risk appetite yang relatif terjaga. Sentimen tersebut ikut mengalir ke pasar Asia, termasuk Indonesia.

Namun, pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan domestik terkait ekspor komoditas strategis. Pasar menunggu implementasi sentralisasi ekspor melalui PT DSI yang dinilai dapat memengaruhi rantai pasok dan ekspektasi laba emiten terkait. Kebijakan tersebut berpotensi memunculkan peluang sekaligus risiko bagi saham komoditas. Karena itu, investor cenderung membaca setiap perkembangan kebijakan dengan lebih hati-hati.

Faktor lain yang turut diperhatikan adalah rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif pada 1 Juni. Pergerakan ETF EIDO yang relatif mendatar di level 0,08 persen dan MSCI Indonesia yang turun 0,95 persen menjadi cerminan kehati-hatian pasar. Aktivitas tersebut menunjukkan pasar masih menimbang ulang posisi masing-masing emiten. Dalam jangka pendek, rebalancing dapat memicu volatilitas pada saham-saham tertentu.

Secara keseluruhan, kombinasi sentimen global dan domestik membuat pasar bergerak selektif. Investor tampak lebih fokus pada emiten yang memiliki katalis jelas, baik dari harga komoditas maupun aksi korporasi. Di tengah kondisi ini, penguatan IHSG lebih banyak ditopang saham tertentu dibanding pergerakan merata. Hal tersebut menjadikan pasar masih sangat berbasis rotasi sektor.

Perubahan Indeks FTSE

Perhatian pasar juga tertuju pada keputusan FTSE Russell yang mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari indeks Large Cap. Selain itu, Daaz Bara Lestari (DAAZ), Hillcon (HILL), dan Mulia Industrindo (MLIA) dicoret dari indeks Micro Cap. Keputusan ini memicu perhatian karena berpotensi memengaruhi aliran dana pasif global. Investor biasanya membaca perubahan indeks sebagai sinyal penting bagi likuiditas saham.

FTSE menilai struktur kepemilikan saham DSSA terlalu terkonsentrasi, dengan HSC mencapai 95,76 persen. Sementara itu, DAAZ dianggap belum memenuhi ketentuan minimum saham publik. Adapun HILL dan MLIA dikeluarkan karena aktivitas perdagangan yang tidak biasa. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap kriteria indeks menjadi faktor penentu dalam evaluasi.

Perubahan komposisi indeks itu diperkirakan dapat memicu arus dana asing keluar lebih dari US$2,86 miliar. Kapitalisasi pasar Indonesia di FTSE juga diproyeksikan turun di bawah US$88,15 miliar. Jumlah emiten dalam indeks pun menyusut dari 39 menjadi 35 perusahaan. Kondisi ini berpotensi menekan sentimen pada saham yang terdampak langsung.

FTSE masih membuka kemungkinan revisi hingga penutupan perdagangan 5 Juni sebelum komposisi final berlaku efektif pada 22 Juni 2026. Pasar kini menunggu apakah ada penyesuaian lanjutan terhadap daftar emiten yang masuk dan keluar indeks. Dalam masa transisi seperti ini, volatilitas pada saham terkait biasanya meningkat. Karena itu, pelaku pasar cenderung berhitung lebih cermat sebelum mengambil posisi.

Aksi Emiten Dan Rekomendasi

Dari sisi emiten, Singaraja Putra Tbk (SINI) berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue. Rencana tersebut akan dibahas dalam RUPS pada 26 Mei mendatang. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, perseroan berpotensi menghimpun dana besar untuk ekspansi. Dana itu diarahkan untuk mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha Petrosea (PTRO).

Nilai akuisisi KMS diperkirakan sekitar Rp1,73 triliun. Dalam skema transaksi tersebut, SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat penyelesaian akuisisi. Sisa kewajiban sebesar Rp218,40 miliar, ditambah bunga 7,5 persen per tahun, akan dibayar bertahap hingga akhir 2028. Posisi kas dan setara kas SINI per 2025 tercatat sebesar Rp33,56 miliar.

Di sisi lain, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp1,54 triliun atau setara 68,35 persen dari laba bersih. Meski pendapatan turun 4,40 persen menjadi Rp17,73 triliun, laba bersih INTP naik 12,04 persen menjadi Rp2,25 triliun. Kinerja ini membuat saham INTP tetap menarik bagi investor pencari dividen.

Jadwal cum dividen INTP ditetapkan pada 3 Juni, sedangkan pembayaran dilakukan pada 19 Juni 2026. Pada penutupan perdagangan terakhir, saham INTP berada di level Rp4.900 per saham dengan dividend yield sekitar 9,55 persen. Dari sisi valuasi, saham ini diperdagangkan pada PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali trailing twelve months. Untuk perdagangan hari ini, rekomendasi saham mencakup TINS, ADMR, INDY, WIFI, dan DEWA dengan skenario beli, target harga, serta batas kerugian yang telah ditetapkan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!