Pasutri Cokelatin Signature Bawa Cokelat RI ke Pasar Global

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 14:03 WIB 6
Pasutri Cokelatin Signature Bawa Cokelat RI ke Pasar Global

Cokelat buatan pasangan suami istri Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra, melalui merek Cokelatin Signature, berhasil menembus pasar internasional dengan mengandalkan kakao asli Indonesia. Produk yang diolah dari kakao asal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan itu telah diekspor ke Amerika Serikat, Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Meski volume ekspor masih terbatas, langkah ini menunjukkan bahwa cita rasa lokal memiliki daya saing di pasar global. Kisah ini disampaikan Irena saat ditemui di Trade Expo Indonesia, ICE BSD, Tangerang, pada Kamis, 16 Oktober 2025.

Di dalam negeri, pasar Cokelatin Signature masih menjadi tulang punggung utama penjualan. Namun, ekspansi ke luar negeri terus didorong karena perusahaan ingin memperkenalkan produk bernilai tambah, bukan bahan mentah. Irena menegaskan bahwa fokus mereka adalah membawa identitas merek Indonesia ke pasar yang lebih luas. Dari usaha kecil yang berawal dari minuman manis, bisnis ini kini berkembang menjadi produk ekspor yang semakin dikenal.

Cokelat Indonesia Menembus Pasar

Irena mengatakan ekspor Cokelatin Signature sudah berjalan ke sejumlah negara, meski kapasitasnya belum besar. Produk yang dikirim mencakup Boston di Amerika Serikat, Riyadh di Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Menurut dia, perusahaan memilih menjaga kualitas ketimbang mengejar volume besar secara terburu-buru. Pendekatan itu juga sejalan dengan keinginan mereka untuk mempertahankan citra merek sebagai produk premium.

Ia menegaskan bahwa perusahaan tidak ingin mengekspor bahan mentah. Cokelatin Signature ingin hadir sebagai merek yang langsung dikenali konsumen, bukan sekadar pemasok komoditas. Karena itu, proses pengolahan dilakukan dengan standar yang disesuaikan untuk produk siap konsumsi. Strategi tersebut membuat produk lebih mudah dipasarkan sebagai minuman cokelat khas Indonesia.

Pasar domestik masih menyumbang porsi penjualan terbesar bagi bisnis ini. Meski demikian, permintaan dari luar negeri memberi peluang baru untuk memperluas jangkauan usaha. Irena menilai konsumen global kini semakin terbuka terhadap produk berbasis kakao dengan karakter rasa yang unik. Kondisi itu menjadi modal penting bagi produsen lokal untuk naik kelas.

Dalam kegiatan pameran dagang, Cokelatin Signature memanfaatkan momentum untuk membangun jejaring bisnis. Kehadiran di Trade Expo Indonesia juga menjadi ajang memperlihatkan bahwa produk UMKM dapat bersaing di panggung internasional. Bagi Irena, ekspor bukan hanya soal penjualan, tetapi juga soal memperkenalkan cerita di balik produk. Cerita tersebut menjadi nilai tambah yang membedakan mereknya dari produk serupa.

Awal Usaha Dari Kebiasaan

Awal perjalanan bisnis Cokelatin Signature berangkat dari kesukaan Irena terhadap minuman manis. Ia kemudian menyadari bahwa cokelat Indonesia memiliki kualitas rasa yang layak diolah menjadi produk unggulan. Dari situ, ia mulai meracik cokelat untuk konsumsi sendiri. Hasil percobaan itu justru mendapat respons positif dari lingkungan terdekatnya.

Pada 2016, saat masih bekerja sebagai karyawan swasta, Irena mulai memperkenalkan produknya kepada teman-teman kantor. Sambutan yang baik membuatnya semakin yakin untuk mengembangkan usaha. Dari sekadar hobi, bisnis tersebut perlahan berubah menjadi langkah serius. Ia dan suaminya kemudian memutuskan membangun merek yang lebih terarah.

Irena mengaku pada awalnya mereka tidak memahami seluk-beluk bisnis maupun dunia UMKM. Namun, proses belajar berjalan sambil usaha terus dijalankan. Mereka mempelajari produksi, pemasaran, hingga cara membaca kebutuhan pasar. Pengalaman itu menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usaha mereka.

Nama Cokelatin juga memiliki makna personal bagi pasangan ini. Nama tersebut berasal dari gabungan kata cokelat, Iren, dan Nugi, yang kemudian disederhanakan menjadi Cokelatin. Bagi Irena, cokelat memiliki simbol emosional yang dekat dengan makna cinta. Karena itulah, merek tersebut dibangun dengan identitas yang hangat dan mudah diingat.

Fokus Pada Produk Bubuk

Selain mengembangkan minuman cokelat, Cokelatin Signature juga memiliki produk cokelat bar. Meski begitu, produksi terbesar saat ini masih berada pada kategori bubuk untuk minuman. Irena menilai produk bubuk lebih sesuai dengan preferensi utamanya sebagai penyuka minuman cokelat. Format ini juga lebih fleksibel untuk dikembangkan menjadi berbagai varian rasa.

Menurut Irena, orientasi bisnis sejak awal memang tidak hanya menyasar pasar domestik. Ia dan suaminya ingin membangun produk yang bisa diterima konsumen dalam negeri sekaligus luar negeri. Karena itu, pilihan varian minuman cokelat terus diperbanyak agar punya daya tarik lebih luas. Strategi diversifikasi ini juga membantu bisnis tetap relevan di tengah perubahan selera konsumen.

Dari sisi distribusi, bubuk minuman dianggap lebih mudah ditangani untuk kebutuhan ekspor. Produk tersebut tidak memerlukan penanganan serumit beberapa produk olahan lain. Hal ini membuat biaya logistik dan pengemasan bisa lebih efisien. Dengan begitu, perusahaan dapat menjaga daya saing harga tanpa mengorbankan kualitas.

Irena juga menekankan bahwa fokus pada bubuk minuman bukan berarti mengabaikan inovasi. Cokelatin Signature tetap membuka ruang untuk pengembangan produk baru sesuai permintaan pasar. Namun, langkah tersebut dilakukan secara bertahap agar kualitas tetap konsisten. Pendekatan hati-hati dinilai penting bagi bisnis yang ingin tumbuh berkelanjutan.

Potensi Kakao Nasional

Kisah Cokelatin Signature menunjukkan bahwa kakao Indonesia memiliki peluang besar di pasar global. Bahan baku dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menjadi bukti bahwa kualitas produk lokal mampu bersaing. Jika diolah dengan tepat, komoditas ini dapat memberikan nilai tambah yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuka ruang lebih besar bagi UMKM untuk naik kelas.

Langkah ekspor yang ditempuh Irena dan Nugroho juga memperlihatkan pentingnya inovasi dalam pengolahan hasil pertanian. Produk berbasis bahan baku lokal tidak harus berhenti pada bentuk mentah. Dengan pengolahan dan branding yang kuat, nilai jualnya bisa meningkat signifikan. Inilah yang menjadi pembeda utama antara komoditas biasa dan produk bernilai merek.

Bagi pelaku usaha kecil, cerita ini memberi pelajaran bahwa pasar internasional bukan hal yang mustahil. Kuncinya ada pada konsistensi kualitas, keberanian mencoba, dan kemampuan membaca peluang. Pameran dagang seperti Trade Expo Indonesia juga menjadi jalur strategis untuk bertemu calon pembeli. Dari sana, pelaku usaha dapat membangun hubungan bisnis yang lebih luas.

Ke depan, Cokelatin Signature berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu merek cokelat Indonesia yang dikenal di luar negeri. Selama pasokan bahan baku terjaga dan inovasi terus dilakukan, ruang pertumbuhan masih terbuka lebar. Perjalanan pasutri ini menjadi contoh bahwa produk lokal dapat menembus pasar global dengan pendekatan yang tepat. Dari secangkir cokelat, identitas Indonesia ikut dibawa ke dunia internasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!