Pasutri Cokelatin Bawa Cokelat RI ke Pasar Ekspor

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 04:57 WIB 2
Pasutri Cokelatin Bawa Cokelat RI ke Pasar Ekspor

Cokelat menjadi salah satu rasa yang paling digemari masyarakat Indonesia, namun pasangan suami istri Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra melihat peluang yang lebih besar dari sekadar pasar domestik. Melalui merek Cokelatin Signature, keduanya mengolah kakao asli dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menjadi produk yang mulai diterima di luar negeri.

Irena menjelaskan, bisnis tersebut lahir dari kegemarannya pada minuman manis dan rasa cokelat lokal yang menurutnya memiliki kualitas baik. Dari usaha yang berawal pada 2016, Cokelatin Signature kini telah melakukan ekspor ke Amerika Serikat, Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong meski kapasitasnya masih terbatas.

Cokelat Asli Indonesia Mendunia

Irena mengatakan pasar utama Cokelatin Signature masih berada di dalam negeri, namun permintaan dari luar negeri terus terbuka. Ekspor yang dilakukan perusahaan ini menyasar Amerika Serikat, tepatnya Boston, lalu Riyadh, Taiwan, dan Hong Kong.

Menurut Irena, ekspor tersebut tidak dilakukan dalam bentuk bahan mentah karena perusahaan ingin membawa merek Indonesia secara utuh. Ia menegaskan bahwa Cokelatin Signature memilih menjaga identitas produk sekaligus nilai tambah dari pengolahan kakao lokal.

Langkah itu menunjukkan bahwa produk olahan berbasis kakao Indonesia memiliki daya saing di pasar global. Di tengah kompetisi yang ketat, pendekatan berbasis kualitas dan merek menjadi pembeda utama bagi usaha yang dirintis pasangan ini.

Kehadiran Cokelatin Signature di beberapa negara menjadi bukti bahwa produk UMKM dapat menembus pasar internasional dengan strategi yang tepat. Meski skala ekspor belum besar, pencapaian ini menjadi pondasi penting bagi pengembangan bisnis berikutnya.

Awal Mula Dari Kesukaan

Irena bercerita, bisnis cokelat tersebut bermula dari kebiasaannya menyukai minuman manis. Ia kemudian menyadari bahwa cokelat Indonesia sebenarnya memiliki cita rasa yang enak dan layak diolah menjadi produk konsumsi.

Pada awalnya, ia membuat racikan cokelat untuk dirinya sendiri sebelum memperkenalkannya kepada teman-teman kantor. Respons positif yang diterima pada 2016 membuatnya semakin yakin untuk mengembangkan usaha tersebut.

Saat itu, Irena masih bekerja sebagai karyawan swasta dan belum memahami dunia bisnis maupun UMKM. Namun proses belajar secara bertahap membuatnya berani membangun merek yang kini dikenal sebagai Cokelatin Signature.

Nama Cokelatin sendiri berasal dari gabungan kata cokelat, Iren, dan Nugi, yang kemudian disingkat menjadi Cokelat-IN. Irena menyebut cokelat sebagai simbol cinta, sehingga nama itu dipilih untuk merepresentasikan nilai yang ingin dibawa dalam produk mereka.

Fokus Pada Bubuk Minuman

Seiring waktu, Cokelatin Signature tidak hanya memproduksi minuman cokelat, tetapi juga mengembangkan cokelat bar. Meski demikian, produk yang paling banyak diproduksi saat ini tetap bubuk minuman cokelat.

Menurut Irena, fokus pada bubuk minuman dipilih karena lebih sesuai dengan selera pribadinya dan lebih mudah dikembangkan ke berbagai varian. Dari sisi bisnis, produk tersebut juga dinilai lebih fleksibel untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Ia menjelaskan bahwa orientasi perusahaan tidak hanya menyasar konsumen domestik, tetapi juga pasar ekspor. Karena itu, produk bubuk minuman dianggap lebih praktis dalam proses penanganan pengiriman ke luar negeri.

Dalam pandangannya, bentuk produk yang lebih sederhana membantu efisiensi logistik dan memperbesar peluang distribusi. Strategi ini menjadi bagian penting dari upaya memperkuat posisi merek di pasar internasional.

Strategi Ekspor UMKM

Irena menilai ekspor membutuhkan kesiapan produk, merek, dan kapasitas produksi yang memadai. Karena itu, perusahaan memilih bergerak bertahap tanpa mengorbankan kualitas maupun karakter produk.

Ia menegaskan bahwa skala ekspor saat ini memang belum besar, namun arah pengembangannya sudah jelas. Cokelatin Signature ingin terus memperluas jangkauan tanpa meninggalkan prinsip untuk tidak menjual bahan mentah.

Keikutsertaan perusahaan dalam Trade Expo Indonesia di ICE BSD, Tangerang, menjadi salah satu sarana untuk memperluas jaringan bisnis. Ajang tersebut juga membuka peluang pertemuan dengan calon mitra yang tertarik pada produk olahan kakao Indonesia.

Kisah Cokelatin Signature memperlihatkan bahwa UMKM dapat tumbuh dari ide sederhana lalu berkembang menjadi produk ekspor. Dengan mengandalkan kakao asli Indonesia, pasangan ini membuktikan bahwa rasa lokal juga bisa bersaing di pasar global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!