Pandu Sjahrir Tanggapi IHSG Anjlok Usai Kebijakan Ekspor

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 21 Mei 2026 19:39 WIB 7
Pandu Sjahrir Tanggapi IHSG Anjlok Usai Kebijakan Ekspor

Chief Investment Officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara, Pandu Sjahrir, menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan yang terjadi pada perdagangan terbaru. Ia menyebut pasar masih membutuhkan kepastian terkait implementasi kebijakan baru pemerintah di sektor ekspor sumber daya alam. Kondisi itu dinilai membuat investor bersikap hati-hati. Pernyataan tersebut disampaikan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Kamis, 21 Mei 2026.

Pelemahan IHSG terjadi setelah pemerintah mengumumkan badan usaha milik negara khusus ekspor bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan itu langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena menyangkut tata kelola ekspor komoditas strategis. Pandu menilai pasar saham cenderung menunggu kejelasan hasil dan arah implementasi kebijakan tersebut. Menurutnya, kepastian menjadi faktor penting sebelum investor kembali agresif membeli saham.

Kepastian Jadi Sorotan

Pandu menjelaskan bahwa investor pada dasarnya mencari certainty atau kepastian atas kebijakan yang baru diumumkan. Ia menilai pasar membutuhkan waktu untuk memahami manfaat dan mekanisme dari skema ekspor yang akan diterapkan. Dalam kondisi seperti itu, reaksi pasar yang melemah dianggap sebagai respons yang wajar. Ia menekankan bahwa pelaku pasar ingin mengetahui hasil konkret dari kebijakan tersebut.

Menurut Pandu, penjelasan yang lebih rinci akan membantu pasar menilai dampak kebijakan terhadap emiten dan sektor terkait. Kepastian mengenai alur ekspor juga diyakini dapat mengurangi kekhawatiran investor. Hal itu penting agar pasar tidak menafsirkan kebijakan sebagai risiko baru. Sebaliknya, pasar diharapkan melihatnya sebagai langkah penguatan tata kelola.

Pandu juga meminta investor untuk tetap optimistis terhadap prospek pasar saham. Ia menyebut sentimen positif berpeluang muncul kembali ketika pasar sudah memahami arah kebijakan pemerintah. Optimisme tersebut, menurut dia, perlu dijaga agar kepercayaan terhadap pasar tidak turun lebih dalam. Ia meyakini pasar akan menyesuaikan diri dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Ia menambahkan bahwa reaksi pasar saat ini tidak semata-mata mencerminkan penolakan, melainkan fase pencarian kepastian. Dalam pandangannya, setiap kebijakan besar membutuhkan penyesuaian dari investor. Karena itu, komunikasi yang jelas dinilai sangat penting. Dengan kepastian yang lebih kuat, pasar diyakini dapat kembali stabil.

Tekanan Di Pasar Saham

Berdasarkan data RTI, IHSG melemah lebih dari 2 persen pada sesi awal perdagangan hari itu. Indeks bahkan turun ke level 6.144 setelah terkoreksi 174 poin atau 2,76 persen. Penurunan tersebut menjadi perhatian karena terjadi tidak lama setelah kebijakan ekspor baru diumumkan. Pasar pun bergerak dalam suasana yang cenderung penuh kehati-hatian.

Pelemahan IHSG menunjukkan adanya tekanan jual di sejumlah saham unggulan. Kondisi ini membuat pelaku pasar menahan langkah sembari menunggu arah kebijakan berikutnya. Di tengah ketidakpastian, investor biasanya memilih memperkecil eksposur risiko. Pola tersebut terlihat dalam pergerakan indeks pada perdagangan terkini.

Sentimen pasar dinilai dipengaruhi oleh pertanyaan mengenai dampak kebijakan baru terhadap perdagangan komoditas. Investor ingin mengetahui apakah aturan tersebut akan mempercepat tata kelola atau justru menambah kompleksitas. Ketika jawaban atas pertanyaan itu belum jelas, volatilitas pasar mudah meningkat. Karena itu, pasar merespons dengan sikap defensif.

Meski demikian, pelemahan indeks belum tentu mencerminkan tren jangka panjang. Pasar saham kerap bereaksi cepat terhadap kabar besar sebelum akhirnya menyesuaikan kembali. Dalam situasi seperti ini, arah kebijakan dan kejelasan implementasi menjadi penentu utama. Jika kepastian meningkat, potensi pemulihan IHSG terbuka lebih besar.

Skema Ekspor Baru

Sehari sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa seluruh ekspor sumber daya alam akan dikelola satu pintu melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah. Kebijakan itu mencakup komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy. Pemerintah menyebut langkah tersebut bertujuan memperkuat pengawasan dan tata kelola ekspor. Skema baru ini menjadi salah satu kebijakan penting di sektor perdagangan luar negeri.

Prabowo menegaskan bahwa penjualan hasil sumber daya alam tidak lagi dilakukan secara terpisah oleh masing-masing pelaku. Menurutnya, penjualan harus melalui BUMN ekspor yang ditunjuk secara resmi oleh pemerintah. Ia menyampaikan hal itu dalam rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026. Penegasan tersebut menjadi sinyal perubahan besar dalam mekanisme ekspor SDA.

Tujuan pembentukan badan baru itu diklaim untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Selain itu, kebijakan ini juga diarahkan untuk menutup celah praktik kurang bayar pajak. Pemerintah menilai pengelolaan satu pintu dapat memperbaiki pengawasan arus barang dan penerimaan negara. Dengan begitu, potensi kebocoran diharapkan bisa ditekan.

Di sisi lain, pasar menilai kebijakan tersebut perlu dijabarkan lebih detail agar dampaknya bisa dihitung dengan tepat. Investor biasanya mencermati mekanisme operasional, pembagian peran, dan implikasinya terhadap rantai pasok. Selama detail itu belum tersedia, sentimen pasar cenderung berhati-hati. Karena itu, penjelasan teknis menjadi faktor penting bagi pemulihan kepercayaan investor.

Prospek Pemulihan Pasar

Pandu meyakini IHSG bisa kembali menguat setelah pasar memahami manfaat dari kebijakan baru tersebut. Ia menilai pelaku pasar pada akhirnya akan melihat bahwa tata kelola ekspor yang lebih rapi dapat memberi kepastian jangka panjang. Menurutnya, respons positif dapat muncul begitu investor menangkap arah kebijakan secara utuh. Optimisme itu disampaikannya dengan keyakinan bahwa pasar akan menilai manfaat secara objektif.

Ia menyebut bahwa pasar selalu membutuhkan waktu untuk mencerna kebijakan yang bersifat struktural. Proses penyesuaian tersebut lazim terjadi ketika pemerintah mengubah mekanisme besar di sektor strategis. Dalam pandangannya, volatilitas awal bukanlah hal yang aneh. Yang terpenting adalah kejelasan dan konsistensi dalam pelaksanaan.

Pandu juga menilai bahwa komunikasi pemerintah kepada pasar harus terus diperkuat. Penjelasan yang terbuka diyakini dapat meredakan kekhawatiran investor. Dengan begitu, kebijakan tidak hanya dipahami sebagai aturan baru, tetapi juga sebagai upaya menciptakan efisiensi dan transparansi. Hal tersebut menjadi modal penting bagi perbaikan sentimen pasar.

Jika pasar sudah melihat kepastian dan manfaat yang jelas, tekanan terhadap IHSG diperkirakan bisa mereda. Investor pun berpeluang kembali masuk ke pasar saham secara bertahap. Dalam jangka pendek, arah pergerakan indeks tetap bergantung pada respons terhadap kebijakan ekspor baru. Namun secara umum, peluang pemulihan dinilai masih terbuka.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!