Pakar IPB: Label Kemasan Tak Bisa Jadi Patokan Bahaya

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 04:26 WIB 3
Pakar IPB: Label Kemasan Tak Bisa Jadi Patokan Bahaya

Banyak konsumen masih ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan, terutama ketika menemukan nama bahan yang terdengar asing atau teknis. Kondisi ini kerap memunculkan anggapan bahwa produk tersebut tidak sehat, bahkan langsung dikaitkan dengan istilah ultra-processed food atau UPF yang ramai dibahas di media sosial.

Namun, pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai penilaian seperti itu belum tentu tepat. Menurutnya, kualitas produk pangan tidak bisa ditentukan hanya dari panjang pendeknya daftar bahan pada kemasan.

Memahami bahan tambahan pangan

Purwiyatno menegaskan bahwa bahan tambahan pangan tidak otomatis membuat produk menjadi berbahaya. Bahan tersebut justru memiliki fungsi tertentu dalam mendukung mutu dan keamanan pangan.

Dalam industri pangan, bahan tambahan digunakan untuk membantu menjaga rasa, tekstur, warna, atau daya simpan. Penggunaan yang tepat dapat membuat produk tetap stabil selama proses distribusi dan penyimpanan.

Ia menjelaskan bahwa konsumen sering kali langsung curiga ketika melihat istilah teknis pada label. Padahal, nama yang terdengar ilmiah tidak selalu identik dengan kandungan yang berbahaya.

Karena itu, penilaian terhadap produk sebaiknya dilakukan secara utuh. Tidak cukup hanya melihat satu atau dua nama bahan yang tercantum pada kemasan.

Label kemasan dan persepsi

Anggapan bahwa produk dengan daftar bahan panjang pasti bermasalah masih sering muncul di masyarakat. Persepsi tersebut makin kuat karena informasi di media sosial kerap disederhanakan tanpa penjelasan ilmiah yang memadai.

Purwiyatno menyebut, daftar bahan yang panjang tidak serta-merta menunjukkan produk yang buruk. Komposisi yang lebih rinci justru bisa menjadi bentuk transparansi produsen kepada konsumen.

Masalah muncul ketika konsumen tidak memahami fungsi tiap bahan yang tercantum. Dalam situasi seperti itu, ketakutan sering lebih dominan daripada pemahaman terhadap kandungan produk.

Ia menilai edukasi label pangan perlu ditingkatkan agar masyarakat bisa membaca informasi dengan lebih cermat. Dengan begitu, keputusan membeli tidak hanya didasarkan pada asumsi.

Fungsi dan aturan penggunaan

Menurut Purwiyatno, yang paling penting dari bahan tambahan pangan adalah fungsinya dalam produk. Bahan tersebut harus sesuai regulasi, digunakan dalam kadar yang tepat, dan tidak melampaui batas yang diperbolehkan.

Ia menekankan bahwa bahan tambahan dapat berperan menjaga stabilitas produk selama penyimpanan. Selain itu, bahan tersebut juga membantu mempertahankan mutu, keamanan, dan karakteristik pangan.

Dengan pengawasan yang sesuai, penggunaan bahan tambahan pangan justru dapat mendukung kualitas produk. Karena itu, tidak adil jika semua produk yang mengandung bahan tambahan langsung dicap negatif.

Penilaian yang lebih akurat perlu melihat konteks keseluruhan produk. Mulai dari komposisi, proses produksi, hingga kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.

Bijak membaca komposisi

Di tengah maraknya perbincangan soal UPF, konsumen perlu lebih bijak membaca label kemasan. Informasi pada label seharusnya dipahami sebagai alat bantu, bukan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahaya secara otomatis.

Purwiyatno mengingatkan bahwa tidak semua bahan yang terdengar asing memiliki dampak negatif. Banyak di antaranya justru digunakan untuk memastikan produk tetap aman dikonsumsi.

Karena itu, masyarakat disarankan untuk melihat kualitas pangan secara menyeluruh. Perhatian utama sebaiknya tertuju pada komposisi, porsi konsumsi, dan kesesuaian produk dengan kebutuhan masing-masing.

Dengan pemahaman yang lebih baik, konsumen dapat menilai makanan kemasan secara lebih rasional. Sikap kritis tetap penting, tetapi harus didukung oleh informasi yang benar dan tidak menyesatkan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!