Pakar IPB: Label Bahan Kemasan Tak Bisa Dinilai Sepihak

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 09:49 WIB 2
Pakar IPB: Label Bahan Kemasan Tak Bisa Dinilai Sepihak

Banyak konsumen ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan, terutama ketika menemukan nama bahan yang terdengar asing atau teknis. Keraguan itu kerap memicu anggapan bahwa produk tersebut tidak sehat atau termasuk ultra-processed food (UPF). Pakar teknologi pangan IPB University, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, menilai penilaian semacam itu belum tentu tepat.

Menurutnya, kualitas produk pangan tidak bisa dinilai hanya dari panjang pendek daftar bahan pada kemasan. Ia menegaskan, fungsi bahan tambahan, kesesuaian dengan regulasi, serta kadar penggunaannya harus dilihat secara utuh. Pandangan ini penting di tengah maraknya diskusi soal makanan kemasan di media sosial.

Label makanan kemasan

Prof. Purwiyatno menjelaskan bahwa nama bahan yang terdengar asing tidak otomatis berarti berbahaya. Dalam industri pangan, banyak bahan digunakan untuk menjaga mutu, keamanan, dan kestabilan produk. Karena itu, pembacaan label perlu dilakukan dengan pemahaman yang lebih proporsional.

Ia menilai, masalah sering muncul ketika konsumen langsung mengaitkan istilah teknis dengan bahan kimia berbahaya. Padahal, bahan tambahan pangan memiliki fungsi yang jelas dan diatur dalam ketentuan yang berlaku. Selama digunakan sesuai batas yang ditetapkan, bahan tersebut tidak serta-merta menurunkan keamanan pangan.

Anggapan bahwa daftar bahan yang panjang pasti buruk juga dinilai terlalu sederhana. Menurutnya, komposisi yang lebih lengkap belum tentu mencerminkan kualitas yang rendah. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap komponen bekerja dalam produk dan apakah penggunaannya sesuai aturan.

Bahan tambahan pangan

Penggunaan bahan tambahan pangan, lanjutnya, tidak otomatis membuat produk menjadi bermasalah. Bahan tersebut bisa berfungsi sebagai pengawet, penstabil, pengemulsi, atau pemberi rasa, sesuai kebutuhan produk. Tujuannya adalah menjaga karakteristik pangan agar tetap aman dan layak dikonsumsi.

Ia menegaskan bahwa aspek yang perlu diperiksa bukan hanya nama bahan, melainkan juga peran dan kadarnya. Jika bahan digunakan dalam batas aman, maka keberadaannya tidak bisa langsung dianggap negatif. Penilaian yang akurat harus mempertimbangkan bukti ilmiah dan regulasi yang berlaku.

Menurutnya, konsumen perlu membedakan antara bahan tambahan yang sah digunakan dan bahan yang memang dilarang. Perbedaan ini penting agar publik tidak mudah terjebak pada informasi yang menyesatkan. Edukasi mengenai fungsi bahan pangan menjadi kunci untuk membangun pemahaman yang lebih sehat.

Memahami ultra processed food

Istilah ultra-processed food belakangan semakin sering dibahas karena dikaitkan dengan pola makan modern. Namun, Prof. Purwiyatno mengingatkan bahwa istilah itu tidak boleh dipakai secara serampangan untuk menilai semua makanan kemasan. Setiap produk tetap harus dianalisis berdasarkan komposisi, proses produksi, dan konteks konsumsinya.

Ia menilai, stigma terhadap UPF sering membuat masyarakat salah fokus pada satu label saja. Akibatnya, produk yang sebenarnya aman dan bermanfaat justru ikut dicurigai. Padahal, yang lebih relevan adalah bagaimana produk tersebut dikonsumsi dalam pola makan sehari-hari.

Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya berhenti pada istilah yang sedang populer di media sosial. Informasi dari label sebaiknya dibaca bersama pemahaman mengenai kebutuhan gizi, porsi, dan frekuensi konsumsi. Dengan begitu, keputusan yang diambil akan lebih rasional dan tidak dipengaruhi asumsi semata.

Literasi gizi konsumen

Prof. Purwiyatno menekankan pentingnya literasi gizi agar konsumen tidak mudah salah menafsirkan label kemasan. Pemahaman dasar tentang fungsi bahan pangan akan membantu masyarakat menilai produk secara lebih objektif. Edukasi ini juga dapat mengurangi kekhawatiran yang tidak perlu.

Ia menyebut, konsumen sebaiknya membiasakan diri membaca informasi nilai gizi, komposisi, dan aturan pakai secara keseluruhan. Langkah sederhana ini dapat membantu mengenali apakah suatu produk sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Sikap kritis tetap diperlukan, tetapi harus didukung pengetahuan yang memadai.

Di tengah derasnya informasi yang beredar, pemahaman yang benar menjadi benteng utama bagi konsumen. Penilaian terhadap makanan kemasan seharusnya didasarkan pada data, bukan sekadar persepsi dari nama bahan yang terdengar rumit. Dengan pendekatan itu, masyarakat dapat memilih pangan secara lebih aman dan bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!