Produk Daur Ulang UMKM Menembus Pasar Ekspor

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 02 Juni 2026 11:09 WIB 2
Produk Daur Ulang UMKM Menembus Pasar Ekspor

Sampah kerap dipandang sebagai persoalan, namun di tangan pelaku usaha kreatif, limbah justru berubah menjadi produk bernilai tinggi. Robries dan Lumosh menjadi contoh bagaimana bahan bekas dapat diolah menjadi furniture, peralatan rumah tangga, dan produk desain yang diminati pasar.

Melalui inovasi dan pendampingan yang tepat, kedua pelaku UMKM ini berhasil membawa produk daur ulang hingga ke pasar luar negeri. Keduanya juga memanfaatkan ajang Trade Expo Indonesia 2025 untuk memperluas jejaring dan memperkuat posisi di pasar ekspor.

Daur Ulang Jadi Produk Ekspor

CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, menjelaskan perusahaannya berdiri pada 2018 dengan fokus mengolah sampah botol plastik. Produk yang dihasilkan berupa furniture dengan tampilan menarik dan nilai jual yang kompetitif.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus menghadirkan solusi bisnis yang berkelanjutan. Dalam praktiknya, Robries mengubah botol plastik dan tutup botol menjadi material baru yang memiliki fungsi lebih panjang.

Syukriyatun menyebut produk berbahan daur ulang masih tergolong unik di mata masyarakat. Karena itu, edukasi pasar menjadi kebutuhan penting agar konsumen memahami nilai dari produk tersebut.

Tantangan Bahan Baku

Selain edukasi, tantangan utama yang dihadapi Robries adalah memastikan pasokan sampah sebagai bahan baku tetap konsisten. Hal itu menjadi krusial karena kualitas produk sangat bergantung pada ketersediaan bahan dasar yang sesuai standar.

Syukriyatun menuturkan bahwa bahan utama yang digunakan adalah sampah tutup botol plastik. Kondisi pasokan yang tidak stabil membuat tim harus terus mencari sumber bahan baku baru tanpa mengorbankan kualitas.

Meski menghadapi hambatan, Robries tetap menjaga proses produksi agar hasil akhir tetap layak bersaing. Upaya itu dilakukan untuk mempertahankan mutu produk sekaligus menjaga kepercayaan pasar.

IDDC Dorong UMKM Naik Kelas

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui Indonesia Design Development Center atau IDDC terus membantu UMKM menembus pasar global. Fasilitas ini diberikan kepada pelaku usaha yang telah lulus kurasi untuk tampil di TEI 2025.

Trade Expo Indonesia 2025 menjadi pameran berskala internasional dengan kehadiran 8.045 pembeli dari 130 negara. Ajang ini menjadi ruang pertemuan strategis antara pelaku usaha lokal dan calon pembeli mancanegara.

Syukriyatun menilai pendampingan IDDC sangat membantu dalam mengemas produk agar lebih menarik di mata pembeli luar negeri. Ia menyebut bimbingan tersebut ikut membuka jalan bagi Robries meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan.

Pasar Global Makin Terbuka

Robries kini telah memproduksi sekitar 25 ribu produk sejak 2018 dan mengolah sekitar 145 ton sampah. Capaian itu menunjukkan bahwa model bisnis berbasis daur ulang dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Pasar Robries juga sudah merambah Singapura, Malaysia, hingga Uni Eropa. Perusahaan bahkan telah memiliki distributor resmi di Singapura dan Malaysia, serta tengah mempersiapkan ekspansi lebih lanjut ke kawasan Eropa.

Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, juga merasakan manfaat pendampingan IDDC dalam memperluas pasar. Lumosh mengolah limbah keramik menjadi piring, gelas, dan perabot rumah tangga dengan desain artistik yang memiliki daya tarik komersial.

Raymond menjelaskan bahwa produk dari limbah keramik masih sangat jarang di Indonesia, sehingga riset dan referensi menjadi tantangan tersendiri. IDDC membantu memberikan masukan, riset pasar, dan arahan desain agar produk Lumosh lebih representatif untuk pasar global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!