Anime Diteliti untuk Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 12:27 WIB 2
Anime Diteliti untuk Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik dengan hiburan, kini diuji sebagai sarana terapi kesehatan mental di Jepang. Gagasan ini datang dari psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang meneliti potensi anime untuk membantu mengatasi stres, burnout, hingga depresi.

Lewat studi eksperimental di Yokohama City University, Francesco dan timnya mengembangkan konseling berbasis karakter untuk responden muda berusia 18-29 tahun. Penelitian yang selesai pada Maret 2026 itu memakai avatar bergaya anime sebagai medium konseling online agar peserta merasa lebih nyaman saat membahas masalah psikologis.

Anime dan kesehatan mental

Francesco mengaku ketertarikannya pada anime berawal dari masa remaja di pedesaan Sisilia, Italia. Saat itu, manga dan anime menjadi tempat berlindung ketika ia kesulitan menemukan jati diri. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa karya populer juga dapat berperan sebagai dukungan emosional.

Ia menilai karakter anime mampu membuka ruang aman bagi orang yang enggan berbicara langsung tentang tekanan batin. Dalam penelitiannya, pendekatan ini memanfaatkan apa yang disebut sebagai filter fantasi. Dengan cara itu, peserta diharapkan lebih mudah mengenali persoalan mental yang mereka alami.

Francesco juga menyebut pengalaman pribadinya diperkuat oleh ketertarikannya pada Final Fantasy saat berusia 12 atau 13 tahun. Karakter protagonis pria dalam gim itu dianggap dekat dengannya karena tampil maskulin dan keren dengan caranya sendiri. Dari sana, ia mulai melihat bahwa representasi karakter dapat memengaruhi cara seseorang memahami diri.

Konseling berbasis karakter

Proyek bertajuk character-based counselling ini melibatkan 20 responden muda yang mengalami gejala depresi. Alih-alih sesi tatap muka biasa, peserta menerima konseling online dari psikolog yang hadir sebagai avatar anime dengan suara digital yang dimodifikasi. Pendekatan ini dirancang agar terapi terasa lebih akrab dan tidak mengintimidasi.

Tim peneliti menciptakan enam karakter khusus untuk studi tersebut. Sosok-sosok itu dibuat beragam, mulai dari figur keibuan yang tenang namun membawa senjata, hingga pria bergaya pangeran yang sensitif secara emosional. Peserta diberi kebebasan memilih karakter yang paling sesuai dengan dirinya.

Setiap karakter memiliki latar perjuangan mental yang berbeda, termasuk bipolar, gangguan kecemasan, PTSD, dan masalah konsumsi alkohol. Namun, Francesco menegaskan tokoh-tokoh itu tetap dirancang menyenangkan dan menarik. Penyampaian masalah mental juga dibuat tidak terlalu gamblang agar peserta tetap nyaman mengikuti sesi.

Uji coba di Yokohama

Penelitian ini juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta untuk menilai efektivitas terapi berbasis anime. Data tersebut digunakan untuk melihat apakah pendekatan ini benar-benar layak diterapkan secara lebih luas. Hasil awal diharapkan dapat memperlihatkan pengaruhnya terhadap penurunan gejala depresi.

Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek, menilai pendekatan baru dibutuhkan karena banyak anak muda kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan. Ia menyebut Jepang tengah mencari solusi atas tantangan kesehatan mental yang kompleks. Salah satu isu yang menonjol adalah ikizurasa, yakni perasaan sulit menjalani hidup dan bertahan dalam masyarakat.

Menurut Mio, tujuan riset ini adalah memberi pilihan baru bagi mereka yang sedang berjuang. Pendekatan yang lebih dekat dengan budaya populer dinilai berpotensi menjangkau kelompok yang selama ini enggan mencari bantuan. Dengan begitu, terapi kesehatan mental bisa menjadi lebih mudah diterima generasi muda.

Stigma bantuan psikologis

Mio juga menyoroti stigma yang masih kuat terhadap layanan kesehatan mental di Jepang. Data yang dikutip dari World Economic Forum menunjukkan, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang pernah menggunakan layanan konseling psikologis. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat.

Rendahnya angka pemanfaatan layanan membuat inovasi seperti konseling berbasis karakter menjadi relevan untuk diuji. Pendekatan ini dinilai dapat menjadi jembatan awal bagi orang yang belum siap datang ke psikolog secara langsung. Jika terbukti efektif, metode tersebut bisa membuka jalur baru dalam layanan kesehatan mental.

Meski begitu, para peneliti tetap menempatkan studi ini sebagai tahap awal yang perlu pembuktian lebih lanjut. Mereka ingin memastikan terapi ala anime tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga berdampak nyata pada pemulihan peserta. Dalam konteks Jepang, riset ini menjadi bagian dari upaya mencari cara baru menghadapi tekanan psikologis generasi muda.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!