Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik Hampir 62 Persen

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 20:11 WIB 3
Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik Hampir 62 Persen

PT Pertamina (Persero) mencatat kenaikan omzet hampir 62 persen dari partisipasi 32 UMKM binaannya dalam pameran Inacraft 2025 yang digelar selama lima hari pada 5 Oktober. Kinerja itu menunjukkan produk UMKM binaan Pertamina kian kompetitif, sekaligus membuka peluang pasar baru di dalam dan luar negeri.

Para pelaku usaha yang terlibat datang dari sektor wastra, kriya, fesyen, kuliner, hingga co-branding. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menegaskan, dukungan perusahaan tidak hanya berfokus pada promosi, tetapi juga penguatan kapasitas usaha.

Daya Saing UMKM Menguat

Pertumbuhan omzet hampir 62 persen menjadi sinyal bahwa pembinaan UMKM berjalan efektif. Peningkatan itu juga mencerminkan kualitas produk yang semakin diterima pasar. Dalam keterangan tertulis, Fadjar menyebut capaian ini sebagai bukti daya saing UMKM binaan Pertamina terus meningkat.

Menurut Pertamina, peran pembinaan tidak berhenti pada pemberian ruang pamer. Perusahaan juga mendorong pelaku usaha agar siap bersaing di pasar nasional maupun global. Strategi ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem usaha kecil yang berkelanjutan.

Selama pameran berlangsung, berbagai produk unggulan menarik minat pengunjung dari beragam kalangan. Transaksi yang tercatat tidak hanya datang dari konsumen lokal, tetapi juga dari calon pembeli luar negeri. Hal itu memperlihatkan bahwa UMKM Indonesia memiliki potensi ekspor yang semakin besar.

Partisipasi 32 UMKM tersebar dalam sejumlah kategori yang saling melengkapi. Sebanyak 18 UMKM tampil di Lobby Hall A, enam UMKM kuliner hadir di Talam Hall B, dan tujuh UMKM co-branding berpartisipasi secara mandiri. Komposisi ini memperkuat keragaman produk yang ditawarkan kepada pengunjung.

Batik Mata Andau Menyita Perhatian

Salah satu sorotan utama pameran datang dari Batik Mata Andau asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Usaha rumahan ini dirintis Yoga Rustaman bersama istrinya sejak 2017 untuk mengenalkan batik khas Dayak ke masyarakat luas. Kehadiran mereka di Inacraft 2025 membawa hasil yang signifikan.

Dengan melibatkan 20 pengrajin, sebagian besar perempuan berusia di atas 50 tahun, Batik Mata Andau mampu menjual lebih dari 800 outer bermotif Dayak hanya dalam hitungan hari. Produk mereka juga menarik perhatian sejumlah tokoh nasional yang hadir di lokasi. Respons pasar menunjukkan bahwa produk berbasis budaya lokal masih memiliki daya tarik tinggi.

Selain laku di pasar domestik, produk Batik Mata Andau juga diminati pembeli dari Korea, Jepang, hingga Turki. Salah satu BUMN transportasi bahkan mempercayakan produksi seragam bernuansa budaya Nusantara kepada mereka. Capaian ini menguatkan posisi batik sebagai produk yang relevan untuk pasar modern.

Yoga menilai keikutsertaan di Inacraft 2025 bersama Pertamina membuka banyak peluang baru bagi usahanya. Menurut dia, dukungan yang diberikan bukan hanya berupa pameran, melainkan juga pendampingan usaha yang manfaatnya terasa langsung. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan pasar.

Inovasi Batik Ramah Lingkungan

Kisah lain datang dari Smart Batik Yogyakarta yang memperkenalkan Batik Sawit, kain batik ramah lingkungan berbasis teknologi hijau. Inovasi ini memadukan kearifan lokal dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan. Konsep tersebut dinilai selaras dengan tren konsumen yang semakin peduli pada produk hijau.

Founder Smart Batik, Miftahudin Nur Ihsan, menyebut pameran pertamanya bersama Pertamina berjalan luar biasa. Ia mengatakan, banyak relasi dan peluang kolaborasi baru yang muncul selama kegiatan berlangsung. Bahkan, pertemuan dengan Duta Besar RI untuk Meksiko turut membuka jejaring yang lebih luas.

Saat ini Smart Batik memberdayakan 65 ibu pembatik di Yogyakarta. Kehadiran usaha ini tidak hanya menciptakan produk bernilai jual, tetapi juga memberi dampak sosial bagi perempuan di daerah. Model bisnis semacam ini menunjukkan bahwa UMKM mampu tumbuh sekaligus memberdayakan komunitas.

Pengembangan produk ramah lingkungan juga menjadi nilai tambah di tengah persaingan pasar. Konsumen semakin mencari produk yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki cerita dan tanggung jawab sosial. Inovasi seperti Batik Sawit memberi contoh bagaimana tradisi dapat bertemu dengan teknologi.

Dukungan Pertamina Berlanjut

Pertamina menegaskan komitmennya untuk terus mendukung UMKM melalui pelatihan, pendampingan, dan akses permodalan. Dukungan tersebut sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran poin ketiga. Fokusnya adalah menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat industri kreatif, dan menumbuhkan kewirausahaan.

Fadjar menekankan bahwa keberhasilan UMKM tidak semata diukur dari besarnya transaksi. Menurut dia, dampak sosial dan budaya yang dihasilkan juga menjadi indikator penting. Pandangan itu menunjukkan bahwa pembinaan usaha kecil perlu dilihat secara lebih menyeluruh.

Melalui pameran seperti Inacraft 2025, UMKM mendapat kesempatan untuk memperluas pasar dan memperkuat merek. Ajang ini juga menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha, pembeli, dan pemangku kepentingan lainnya. Interaksi tersebut berpotensi melahirkan kerja sama baru yang berkelanjutan.

Dengan capaian omzet yang meningkat dan minat pasar yang meluas, UMKM binaan Pertamina mendapat sinyal positif untuk melangkah lebih jauh. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pembinaan yang konsisten dapat menghasilkan pertumbuhan nyata. Dari wastra hingga kuliner, produk lokal kian punya tempat di pasar nasional dan internasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!